
Keesokan harinya, Setelah pulang dari sekolah Zia dengan langkah riang menuju kantor Om Bryan.
Tanpa mengetuk pintu untuk memberinya kejutan, Zia malah terkejut melihat kekasih dudanya yang yang terlihat penuh luka lebam di wajahnya.
"Om..." Zia langsung berlari dengan khawatir melihat kondisi Om Bryan.
"Sayang..." Bryan beranjak dari duduknya dengan sedikit kesulitan.
"Apa yang terjadi Om, Kenapa Om..."
"Aww..." Bryan meringis kesakitan saat Zia memegang lengannya.
Zia kembali terkejut melihat punggung tangan Om Bryan yang di perban.
"Ini juga?" Zia kembali memeriksa anggota tubuh Om Bryan yang lain dengan menyingkap kemeja Om Bryan untuk melihat punggungnya.
Zia begitu merasa sedih melihat begitu banyak bekas pukulan di punggung mulus Om Bryan hingga lebamnya begitu jelas terlihat.
Tidak puas sampai di situ Zia kembali berdiri di depan Bryan dan membuka kancing kemejanya.
"Ini tidak papa sayang, Om menyukainya."
Zia menghentikan gerakan tangannya menatap Om Bryan. Kemudian melihat dada Om Bryan yang hanya terdapat tanda merah sisa kecupan penuh gai'rah yang di berikan olehnya kemarin. Seketika Zia memerah sembari memalingkan wajahnya.
Bryan terseyum melihat kekasih kecilnya yang menjadi malu.
"Duduklah." titah Bryan.
"Kamu mau minum atau makan apa?"
"Nggak Om, Zia hanya mau tau kenapa Om seperti ini?"
"Seseorang Pria yang terobsesi pada mu, Yang tidak ingin melihat kita bersama." Bryan mengusap lembut pipi Zia untuk membuatnya tetap tenang.
"David?"
"Ya, Tapi kamu tidak perlu lagi khawatir, Om sudah mengatasinya, Jika Dia masih berani macam-macam lagi, Maka Om akan benar-benar mengirimnya ke penjara."
Zia langsung memeluk Om Bryan hingga membuatnya meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Aww..."
"M-m-maaf Om, Zia lupa."
"Tidak masalah, Kemarilah pelan-pelan saja." Bryan terseyum meraih tubuh Zia.
Dengan ragu-ragu Zia membenamkan kepalanya di dada Om Bryan.
dengan penuh kasih sayang Bryan membelai rambut Zia dan mengecup pucuk kepalanya.
"Om pesenin makan ya, Om ingin makan di suapi Zia, Mumpung tangan Om lagi sakit."
"Tangan sakit kok mumpung sih?" protes Zia mengangkat kepalanya memukul dada Om Bryan.
Bryan tertawa dan memegang kedua tangan Zia hingga membuat wajah Zia terjatuh di dadanya.
Zia terdiam dalam posisinya. Ia menjadi begitu berdebar melihat dada Om Bryan yang lupa tidak ia pasang kembali kancing kemejanya.
Bryan terseyum dan mencoba melihat wajah Zia yang setengah tubuhnya sudah menindihnya. Melihat Zia yang tidak juga bergerak, Bryan kembali menggoda kekasih kecilnya.
"Om tidak keberatan jika Zia ingin menambah tanda cinta lagi."
"Hah!" Zia langsung mengangkat tubuhnya dan menjadi memerah mendengar apa yang Om Bryan katakan.
Kesempatan ini di ambil Zia untuk mengaitkan satu persatu kancing kemejanya. Namun Bryan langsung menggenggam tangan Zia untuk menghentikannya. Setelah selesai menelfon, Bryan menaring tangan Zia agar lebih dekat lagi dengan nya.
"Om menyuruh Zia memberi lebih banyak tanda merah disana, Kenapa malah menutupnya?"
"O-o.. Om kan sedang sakit."
"Maka dari itu Zia harus mengobati."
Zia terdiam ragu menatap Om Bryan.
"Ayolah Sayang, Hari ini Om ingin menikmati setiap kecupan yang Zia untuk mengurangi rasa sakit di seluruh tubuh Om."
"Modus..." Zia mencubit perut Om Bryan dengan gemas keemudian memeluk tubuh Om Bryan yang sudah setengah berbaring di sofa.
Keduanya terdiam sejenak. Setelah beberapa menit Zia menaikan wajahnya ke ceruk leher Om Bryan dan menghirup aroma maskulin yang selalu membuatnya ketagihan.
__ADS_1
Bryan menengadahkan kepalanya ke atas membiarkan Zia menyusuri lehernya lebih leluasa lagi.
Tidak perlu lagi di ajari, Zia semakin pandai memainkan bibir dan lidahnya hingga membuat Om Bryan begitu menikmati permainannya dan melupakan rasa sakitnya.
Seperti yang di perintahkan. Zia kembali meninggalkan banyak bekas tanda merah di leher dan dada Om Bryan yang selalu membuatnya tergoda berlama-lama di sana.
"Permisi Tuan Bryan..."
Zia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Om Bryan. Begitu pun dengan Bryan yang langsung mendekap kekasih kecilnya dengan tangan kekarnya.
Bryan menoleh ke arah suara dengan tegang.
"M-m-maaf Tuan, Saya fikir..."
"Cepat katakan!"
"Apa berkas yang saya berikan tadi pagi sudah di tanda tangani?"
"Sudah, Ambilah di meja."
Siska sang sekertaris mengangguk mengambil berkas yang di maksud. Kemudian sebelum meninggalkan ruangan Siska melirik ke arah Bryan yang menyembunyikan gadis kecilnya di dalam dekapan tangan kekarnya.
"Apa yang kamu lihat, Pergilah!"
"Maaf Tuan." Siska mengangguk dan meninggalkan ruang.
Zia mengangkat kepalanya dari dada Bryan dan melihat ke arah pintu.
"Apa perlu kita sembunyi-sembunyi seperti ini? Ini kantor Om, Om bebas melakukan apa pun, Apa lagi dengan calon istri sendiri," ucap Bryan gemas.
"Zia malu aja Om,"
"Malu kenapa? Malu pacaran sam Om-om?"
"Bukan, Malu ketahuan lagi begini, Hehehe."
"Begini seperti apa, Bahkan Zia belum melakukan apa-apa." Bryan mempererat pelukannya.
Dengan gemas Bryan mencoba meraih wajah Zia. Namun lagi-lagi pintu kembali di ketuk.
__ADS_1
"Ck! Siapa lagi sekarang," ucap Bryan kesal.
Bersambung...