Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Break


__ADS_3

Keesokan harinya sepulang sekolah Zia mendatangi kantor Om Bryan.


Sehari tidak mendapat kabar apapun dari Om Bryan, Membuatnya tidak bisa tidur apa lagi belajar dengan tenang.


Tuk... Tuk... Tuk.... Suara langkah kaki yang semakin mendekati ruangannya dapat Bryan rasakan jika itu langkah kaki kekasih kecilnya.


Bryan menatap pintu yang masih tertutup, Jantungnya semakin berdebar kencang saat pintu itu mulai terbuka.


Zia menghentikan langkahnya di pintu yang masih setengah terbuka melihat kekasih dudanya yang telah berdiri menatapnya.


Dengan tatapan penuh tanda tanya Zia melangkah masuk mendekati Om Bryan yang telah menurunkan pandangannya.


"Om..." lirih Zia dengan tatapan sedih.


"Zia kamu kesini?" Bryan mencoba bersikap biasa dan memaksakan senyumnya.


Zia langsung memeluk Bryan sampai Bryan yang tidak siap menerima pelukannya sedikit terdorong beberapa langkah.


"Kenapa Om mengabaikan panggilan dan pesan Zia, Apa kesalahan Zia?"


"Semalam Om tidur cepet, Terus pagi-pagi langsung berangkat jadi mau bales pesan Zia lupa."


Zia yang mendengarnya langsung melepaskan pelukannya dan menatap Bryan dengan tatapan yang tak percaya.


"Om tidak pandai untuk berbohong, Om bersikap seperti ini karena David kan?"


Bryan hanya diam mendengar pertanyaan Zia.


"David semalam menelfon ku dan menertawakan Om yang tidak mengangkat ponsel ku, Bagaimana Dia tau jika tidak ada hubungannya dengan Om?"


"Ini tidak ada hubungannya dengan anak brengsek itu, Om hanya ingin Bella tidak terus-terusan merasa cemburu dan tidak adil karena Om terus menemui mu sedangkan Om melarangnya menemui David."

__ADS_1


"Jadi maksud Om?"


"Untuk sementara waktu bisakah kita break dan tidak bertemu dulu?"


Air mata yang sejak tadi menetes perlahan, Kini semakin deras membasahi pipi Zia.


"Bagaimana bisa Om menyuruh Zia tidak menemui Om, Jika sehari saja begitu berat?"


"Sayang, Ini demi kebaikan kita bersama, Lagi pula Papa Faraz juga meminta kita tidak bertemu dulu selama dua minggu agar Zia bisa fokus menghadapi ujian."


Zia menggelengkan kepalanya dengan kesedihan di hatinya.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya tidak bertemu bersama Om Bryan selama itu.


Kemudian Zia kembali mendekati Om Bryan dan menjinjitkan kakinya sembari menarik jas hitam yang Om Bryan kenakan agar Ia dapat menggapai bibir Om Bryan.


Zia memberikan kecupan-kecupan hangat dan sesekali mengesap bibir Om Bryan yang biasanya begitu berga'irah tanpa di pancing olehnya. Namun usaha Zia sia-sia karena kali ini Om Bryan tidak tertarik dengan bibir yang biasanya menjadi makanan favoritnya.


Bryan hanya bisa memandang kekasih kecilnya berlari dengan tangis kekecewaannya.


"Maafkan Om Sayang, Tapi Om harus melakukan ini." batin Bryan.


•••


Bryan pulang lebih cepat dan memberi perhatian lebih pada sang putri, Bryan ingin melakukan pendekatan dari hati ke hati untuk membuat putrinya menyadari jika yang dilakukanya hanya untuk kebaikannya.


Dengan senyum manisnya Bryan melayani Bella makan dengan menu favoritnya, Bahkan Bryan memasak langsung untuk sang putri dengan di saksikan langsung olehnya.


Dan benar saja, Bryan dapat menyaksikan tawa bahagia sang putri yang sudah lama tidak Ia lihat.


"Terimakasih Pah..."

__ADS_1


"Sama-sama Sayang."


"Sudah dua hari ini Papah tidak menemui Zia?"


Pertanyaan Bella membuat Bryan yang tengah menahan rasa sesak di hatinya semakin sesak mengingat kekasih kecilnya. Namun Ia berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya di depan sang putri.


"Papah tidak akan menemuinya jika Bella belum mengizinkannya." dengan senyum getirnya Bryan beranjak dari meja makan.


Mendengar hal itu membuat hati Bella berdenyut.


Ntah kenapa melihat Papahnya yang terlihat tidak bahagia seperti saat berhubungan dengan Zia membuat Bella merasa sedih.


Bryan kembali dengan senyum yang terukir sambil membawakan menu penutup.


"Coba lihat Papah bikin apa untuk mu," Bryan menyodorkan dessert  yang di beri tambahan topping lezat seperti meses, susu dan buah.


Namun Bella tidak tertarik dengan menu tersebut, Bella lebih tertarik mengamati wajah Papahnya yang berusaha keras membuatnya bahagia.


"Pah..." Bella meraih tangan Papahnya untuk menghentikan pergerakannya.


"Ya sayang, Kamu tidak suka?"


"Tidak..." Bella langsung beranjak dari kursinya dan memeluk Papahnya dengan menumpahkan air matanya.


"Kenapa sayang, Jangan nenangis, Kalau Bella tidak suka, Papah akan membuat menu yang lain."


Bella melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.


"Berhenti berpura-pura Pah!"


Bryan tercengang melihat Bella yang meninggikan suaranya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2