Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Kekesalan Bella


__ADS_3

"Bimo, Jaga sikap mu." bisik Farah pada putranya.


Bryan tersenyum, Ia tidak mempermasalahkan sikap Bimo, justru sebaliknya, Bryan merasa senang karena Bimo bukanlah santri pemalu seperti pada umumnya.


"Maafkan putra saya Tuan Bryan." ucap Hadi.


"Tidak masalah Tuan Hari, Justru Aku merasa senang, Karena sikapnya yang humoris dan gak jaim Aku yakin Bella akan mudah dekat dengan nya, Iya kan sayang?" tanya Bryan merangkul pundak putrinya.


Bella menatap kesal Bimo. Namun Bimo tidak ambil pusing dan malah tersenyum menaik turunkan kedua alisnya.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, Bimo dan keluarganya pamit pulang. Bryan dan Zia pun mengantar mereka sampai ke teras sementara Bella hanya memandang mereka dari balik tirai jendelanya memperhatikan pria yang di jodohkan dengan nya.


"Maafkan sikap putriku jika kurang sopan," ucap Bryan.


"Tidak masalah Tuan Bryan, Biasalah Anak-anak, Yang terpenting Bimo setuju dengan perjodohan ini," ucap Hadi menepuk-nepuk punggung putranya.


"Baiklah kalau begitu terimakasih,"


"Terimakasih kasih kembali, Kami akan datang lagi jika sudah menemukan tanggal yang pas."


"Aku akan menunggu tanngal baik itu." saut Bryan.


Sementara Bimo dan Zia saling berbincang dengan begitu akrab seperti sudah lama kenal. Keduanya tertawa karena tak pernah menyangka akan bertemu dalam situasi seperti ini.


"Aku tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan mu di rumah suamiku," ucap Zia.

__ADS_1


"Ya Aku juga tidak pernah menyangka jika akan memiliki ibu mertua yang begitu muda dan tak lain adik dari sahabat ku sendiri," ucap Bimo tertawa.


"Mereka begitu terlihat akrab, Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya? Apa ini artinya Zia yang memberi ide pada Papah untuk menjodohkan ku dengan nya?" gumam Bella kesal.


"Baiklah Nyonya kecil, Aku pulang dulu, Sampaikan salam ku pada Zayn, Aku sangat merindukannya," ucap Bimo tertawa.


"Baiklah, Akan ku sampaikan jika Aku bertemu dengan nya."


•••


Setelah keluarga Bimo pergi, Bryan langsung menggendong Zia masuk ke dalam.


"Aww... Om, Ntar Bella lihat."


"Biarkan saja, Biar dia cepat menyetujui pernikahan ini," ucap Bryan tertawa menyatukan keningnya pada Zia.


"No, No, No, Satu tangga satu kecupan, Ayo lakukan?" protes Bryan.


"Hagh!" Zia mengangkat wajahnya menatap Bryan.


"Ayo lakukan atau Aku akan terus berdiri di sini sampai kamu mau melakukannya,"


"Kalau begitu biarkan Aku turun." Zia mencoba memberontak. Namun tubuh kecilnya tidak mampu melawan kekarnya tangan Bryan yang mencengangkan tubuhnya.


"Coba saja kalau bisa."

__ADS_1


"Om...."


"Kok Om lagi, Perasaan tadi di depan keluarga Bimo jamu sudah memanggil ku Mas?"


"Gak enak kalau di depan orang panggil suami dengan sebutan Om," ucap Zia tertawa.


"Lalu di depan suami enak-enak saja manggil Om?"


"Udah kebiasaan, Enak aja manggil Om Sayang."


Bryan tertawa menggelengkan kepala sambil melangkahkan kakinya menaiki tangga, Sementara Zia menoleh kesana-kemari takut di lihat oleh Bella. Setelah memastikan Bella tidak melihatnya, Zia melakukan apa yang Bryan inginkan meskipun Bryan tak lagi memaksanya.


"Cup..." Zia mulai memberi kecupannya.


"Kalau begini Aku jadi lebih semangat."


"Cup..."


"Jangan hanya sekilas, Lebih lama lagi." protes Bryan.


"Eummmmmm...." Zia mengecup pipi Bryan dengan begitu lamanya hingga membuat Bryan tertawa dan tidak bisa protes lagi.


Bella keluar dari persembunyiannya dan mengepalkan tangannya dengan kesal. "Gadis kecil ini benar-benar membuat Papah menjadi bodoh, Papah begitu bucin dengannya hingga apapun yang dikatakannya Papah menurutinya begitu saja tanpa memikirkan perasaan Bella seperti dulu." Bella berlari ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan begitu kerasnya.


•••

__ADS_1


📌 Yang Mau Haluin Om Bryan Bareng-bareng yuk Add FB Author @i'tsmenoor 👈 Terimakasih 🙏🤗


__ADS_2