Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
H-1


__ADS_3

Alia melepaskan pelukannya dan merasa sedih mengingat ibunya yang tidak ada lagi disisinya. Meskipun di saat-saat terakhir ia berada di samping Ibunya. Namun Alia merasa sangat bersalah karena sejak ia memiliki tiga anak jarang sekali mengunjungi ibunya. Ibu Fareeda sendiri menolak untuk tinggal bersamanya dan memilih pulang ke kampung halaman dan menetap di Jogja hingga ujung usianya.


Faraz yang melihat Alia tau benar apa yang tengah Istrinya rasakan. Dengan penuh kasih sayang Faraz meraih tubuh Alia dan memeluknya.


"Aku tau ini berat untuk mu, Karena ini tahun pertama ketiadaan ibu, Apa lagi di hari kebahagiaan putri kita, Tapi percayalah Ibu mu juga pasti akan merasa bahagia melihat anak dan cucu-cucunya bahagia."


Alia terseyum menganggukkan kepalanya. Kini giliran Zayn, Zayd dan Zia yang memeluk Mamanya penuh haru.


Beberapa saat kemudian, Suasana haru itu pecah saat bunyi klakson mobil saling bergantian di luar rumah.


Dengan senyum bahagia Zia langsung melepaskan pelukannya dan berlari keluar. Namun langkahnya terhenti saat karena Papa Faraz menarik tangannya.


"Kamu adalah mempelai wanita, Jadi bersikaplah lemah lembut layaknya calon pengantin."


Zia mengerucutkan bibirnya karena tidak bisa menyambut kekasih dudanya di luar.


"Sabarlah Adik nakal, Tinggal nunggu satu hari lagi," goda Zayn.


Zayd terseyum meraih tangan Zia dan memapahnya duduk di sofa menunggu kekasih dudanya masuk dalam rumah.


Dengan di dampingi Bella dan Pak Kiai serta beberapa orang yang menemani, Bryan melangkah masuk mencari-cari kekasih kecilnya.


Mata indahnya tertuju Zia yang terlihat begitu cantik hingga membuatnya tidak berkedip.


"Apa kamu akan terus berdiri menatapnya dan menjadi orang gagu?" tanya Faraz yang melihat tatapan Bryan terus menatap putri kesayangannya.


"Masss..." Alia menyikut perut Faraz agar menjaga ucapannya.

__ADS_1


"Faraz bersikaplah layaknya orang tua yang menerima pinangan untuk Anaknya," ucap Shehzad.


Faraz hanya terdiam jutek melirik Bryan.


"Baiklah silahkan duduk," sambung Zeenat.


Bryan pun mengangguk dan menyuruh rombongan meletakkan seserahan di atas meja.


Setelah itu, Salah satu perwakilan dari Bryan, Yang tak lain adalah Pak Kiai mengutarakan maksud kedatangannya yaitu melamar Zia. Kemudian Pak Kiai menanyakan apakah Faraz berkenan menerima Bryan sebagai menantunya atau tidak.


Namun baru saja Pak Kiai selesai berucap, Dengan cepat Zia langsung mengatakan IYA hingga membuat semua orang tersenyum yang akhirnya membuat Zia tersipu malu.


Bryan terseyum menggelengkan kepalanya menatap calon istri kecilnya yang tidak bisa menjaga image di depan orang banyak.


"Alhamdulillah, Kalau dari keluarga sendiri bagaimana?" lanjut Pak Kiai


"Jika sudah sama-sama cocok kita sebagai orang tua hanya mendukungnya Pak Kiai, Iya kan Mas?" Alia menggengam tangan Faraz dan membuatnya tidak bisa menentang hubungan mereka di depan Pak Kiai dan seluruh keluarganya.


"Ya, Jika Anak-anak sudah saling mencintai maka lebih baik di segerakan," ucap Faraz dengan tidak mau mengangkat pandangannya.


"Alhamdulillah..." Setelah mendengar jawaban dari kedua orang tua dan calon mempelai wanita, Pak Kiai melanjutkan dengan Do'a.


Namun tidak seperti yang lain yang khusuk mengamini Do'a Pak Kiai, Faraz masih kepikiran dengan kata-katanya sendiri.


"Anak-anak? Zia memang Anak-anak tapi Duda karatan ini bukan Anak-anak lagi, Melainkan Aki-aki." batin Faraz meralat perkataannya sendiri sambil melihat Bryan yang mengamini Do'a Pak Kiai sambil terus menatap putri cantiknya.


Setelah acara lamaran selesai, Keluarga Faraz mempersilahkan Bryan dan rombongan untuk makan bersama.

__ADS_1


Di sela-sela jamuan makan itu Bryan memperkenalkan Bella kepada seluruh keluarga besar calon ibu kecilnya.


Dengan senyum ramah Bella menyalami tangan seluruh keluarga tak terkecuali dengan Zayn dan Zayd.


"Baru tau kalau Zia punya Kakak kembar, Ganteng-gantemg lagi." batin Bella melihat Zayn dan Zayd.


"Lanjutkan makan mu," ucap Zayn terseyum dengan ramah. Sementara Zayd seperti biasa dengan sikap dinginnya.


•••


Setelah jamuan makan selesai, Bryan dan rombongan pamit pulang.


Tidak ada kesempatan untuk Bryan dan Zia bicara karena mereka sama-sama di kelilingi oleh masing-masing keluarganya.


Zia hanya bisa melambaikan tangan saat kepergian calon suami dan rombongannya.


Karena persiapan pernikahan yang begitu mepet, Wedding Planner meminta Zia untuk melanjutkan rangkaian siraman. Sedangkan pada malam harinya di lanjutkan dengan pengajian karena ijab qobul akan dilaksanakan besok pada pukul 08.00 wib.


Meskipun tubuhnya terasa begitu lelah karena seharian tidak beristirahat. Namun di tengah malam Zia masih menjalani rangkaian perawatan seperti Steam Wajah, Lulur Badan, Masker Mata, Masker Rambut, Spa Kaki, Eksfoliasi Bibir dan perawatan lain bersama tenaga profesional yang di datangkan ke rumah.


Zia tidak ingin terlihat kurang satu apapun di depan Om Bryan yang dalam hitungan jam akan segera menjadi suaminya.


Seperti halnya Zia yang tengah melakukan berbagai macam perawatan. Bryan juga melakukan hal yang sama di rumahnya.


Bryan melakukan perawatan khusus Pria yang juga di dampingi tenaga ahli di bidangnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2