
Setelah membersihkan diri, Bryan kembali ke ruang tamu dan melihat Bella dan Rendra masih berada di sana. Melihat tangan Rendra yang berada di atas paha putrinya membuat Bryan semakin tidak menyukainya.
"Jauhkan tangan mu," ucap Bryan dengan tatapan dinginnya.
"E... Maafkan Aku Tuan."
"Pah..."
"Bella, Boleh Papah bicara secara pribadi dengan nya?"
"Tapi Pah?"
"Bella percaya sama Papah?"
Bella mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan ruang tamu
Kini hanya tinggal Bryan dan Rendra yang duduk saling berhadapan.
Memperhatikan gerak-geriknya membuat Bryan semakin merasa tidak cocok dengan pilihan putrinya tersebut.
"Bisa lihat kartu identitas mu?"
"E... Ya." Rendra mengeluarkan dompet dari saku celananya. dan membuka dompet lipat. Namun tidak ada apapun yang ia keluarkan dari dompet itu dan hanya memandang Bryan dengan bingung.
"Ada apa?"
"E... Sepertinya KTP ku tertinggal di dompet ku yang lainnya."
"Benarkah? Apa ada yang kamu sembunyikan?"
"Apa maksud Anda?"
"E... Tidak ada, Aku hanya ingin melihat alamat mu, Sebagai orang tua tentu Aku ingin tau alamat lengkap Pria yang tengah dekat dengan putri ku, Tapi jika kamu tidak membawanya tidak masalah, Kamu bisa memberikannya lain kali."
__ADS_1
Rendra tersenyum tipis dan merasa lega mendengar apa yang Bryan katakan.
"Baiklah, Sebaiknya sekarang kamu pulang, Ini sudah malam."
"Tapi Bella?"
"Sejak tadi kalian sudah bersama kan? Jadi tidak perlu berpamitan dengan nya."
"Baiklah, Salam untuk Bella."
Bryan mengangguk dan menutup pintu saat Rendra masih berdiri di teras rumahnya. Kemudian Bryan berdiri di balik tirai jendela memperhatikan gerak-gerik Rendra.
"Sikapnya sangat mencurigakan, Aku harus memastikan statusnya, Apakah benar dia telah bercerai ataukah dia pria beristri yang ingin mempermainkan Bella."
"Pah..."
"E, Hey!" Bryan tersentak dan menoleh ke belakang melihat Bella yang memanggily.
"Dia sudah pulang Sayang."
"Kok gak pamitan sama Bella, Apa Papah mengusirnya?"
"Tidak Sayang, Dia yang ingin pulang sendiri katanya buru-buru jadi dia hanya titip salam saja untuk mu."
Bella mengernyitkan keningnya dengan tatapan yang tak percaya.
"Sudahlah Sayang, Ini sudah malam sebaiknya kita istirahat." Bryan mengecup pucuk kepala Bella sekilas dan pergi meninggalkannya.
Ckleekkk...
Bryan melihat istri kecilnya sudah tidur dibawah selimut tebalnya.
Dengan senyum tipisnya Bryan merangkak naik memeluk tubuh sang istri dari belakang. Seperti tak ada bosannya, Bryan kembali mengganggu istri kecilnya dengan menciumi pundak mulusnya yang hanya mengenakan tank top pink bertali kecil.
__ADS_1
"Ehhmmm.." lenguh Zia sambil menyingkirkan tangan Bryan dari pundaknya. Namun bukannya berhenti, Bryan malah menyusupkan tangannya ke tank top yang tanpa penyangga di dalamnya.
Bryan mulai meremad-remad buah kenyal itu sambil memainkan lidah di tengkuk sang istri hingga membuatnya menggeliat dengan mata terpejam nya.
Tidak mau menyerah, Bryan menurunkan tangannya ke dalam celana pendek yang Zia kenakan dan memainkan lembah kesukaannya.
"Ssshhh..." Zia meliukkan pinggulnya saat jari jemari itu memainkan bagian sensitifnya.
"Hari ini baru satu kali Sayang." bisik Bryan dengan suara parau nya.
Dengan setengah sadar Zia hanya menjawab dengan liukan tubuhnya yang terus di permainkan.
Tidak menunggu Zia membuka matanya Bryan langsung melpar selimut yang menutupi tubuh istri kecilnya. Kemudian ia menurunkan pakaian bawah yang mereka kenakan dan bersiap melakukan penyatuannya. Dengan membuka pa'ha sebelah sang istri, Bryan melesakkan senjatanya.
"Akhhh..." Zia mendes'ah saat benda keras itu menerobos masuk miliknya.
"Sayang buka mata mu dan nikmati ini."
Zia mulai membuka matanya saat Bryan mulai menghentakkan pinggulnya.
Dengan mata yang setengah mengantuk, Zia mulai menikmati sensasi yang Bryan berikan di setiap permainannya.
Dengan hentakan yang semakin kuat dan cengkraman tangan Bryan di buah kenyal Zia membuat keduanya mendes'ah saling bersautan.
"Akhhh... Akhhh... Akhhh..." desah'an jahanam dari keduanya memecahkan kesunyian malam yang akan segera berganti pagi.
Dengan stamina kuat yang Bryan miliki selalu sukses membuat Zia mencapai puncak kenikmatannya terlebih dahulu.
Selalu tidak puas dengan hanya satu gaya, Bryan membalik tubuh sang istri agar saling berhadapan. Dengan cepat Bryan kembali melakukan penyatuannya dan mengejar kenikmatannya yang akan segera sampai puncaknya.
Lenguhan nikmat dan desa'han jahanam yang selalu mengiringi setiap hentakan yang Bryan lakukan membuat keduanya mengerang panjang ketika mencapai puncak kenikmatannya.
Bersambung...
__ADS_1