
Hingga usia baby Ziyan satu Minggu, Zia belum berani memandikan bayinya. Menggendong pun Zia masih terlihat sangat kaku.
Berbeda dengan Bryan yang memang sudah berpengalaman mengurus Bella sejak lahir tanpa kehadiran sang istri sehingga kali ini ia tidak begitu memiliki kesulitan untuk mengurus bayinya.
Dengan sabar dan telaten Bryan memandikan, Mengganti popok dan bergantian menjaga baby Ziyan ketika di malam hari ia terbangun dari tidurnya.
Seperti malam ini meskipun Bryan baru pulang bekerja, Bryan yang mendengar tangisan baby Ziyan langsung berlari melihat baby Ziyan. Ia yang melihat Zia tertidur dan nampak begitu lelah, Segera mengangkat baby Ziyan agar tangisannya tidak terdengar oleh Zia, Ia tidak ingin baby Ziyan mengganggu tidur Zia karena seharian ini untuk pertama kalinya Zia mengurusnya seorang diri.
Dengan penuh kelembutan Bryan menimang baby Ziyan hingga baby Ziyan tertidur kembali. Setelah itu Bryan kembali meletakkan baby Ziyan di samping Zia dengan sangat hati-hati. Namun pergerakan itu mengusik tidur Zia sehingga Zia membuka mata dan melihat Bryan yang langsung menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri untuk memberi isyarat agar Zia tidak bersuara.
Melihat itu Zia melihat baby Ziyan dan mengangguk kemudian kembali menempelkan kepalanya di bantal empuknya.
Setelah memastikan baby Ziyan tertidur pulas, Bryan turun dari ranjang dan berpindah ke sisi Zia untuk memeluknya dari belakang.
"Padahal Aku sudah sangat berhati-hati, Tapi kamu masih terbangun." bisik Bryan mendekap erat tubuh Zia sambil mengecup pundaknya.
"Aku akan selalu merasakan kehadiran mu sekalipun Aku memejamkan mata."
Mendengar hal itu Bryan tersenyum dan mengecup tengkuk lehernya.
"Maafkan Aku, Hari ini Aku begitu sibuk."
"Tidak apa-apa, Ini hari pertama mu masuk kerja, Jadi pasti kamu sangat sibuk."
"Istriku sudah semakin dewasa, Aku semakin mencintai mu. Cepatlah pulih Junior ku sudah sangat merindukannya."
"Ini baru satu minggu," ucap Zia menyikut perut Bryan.
__ADS_1
Bryan terkekeh dan kembali mempererat pelukannya.
"Pergilah mandi," ucap Zia dengan nada memerintahkan.
"Maunya di mandiin..." ucap Bryan dengan manjanya.
"Iiih... Bagaimana kalau baby Ziyan bangun?"
Bryan mengangkat separuh tubuhnya dengan bertumpu kepada satu sikunya untuk melihat baby Ziyan.
"Sepertinya dia tidur pulas," ucapnya.
"Tapi dia bisa tiba-tiba bangun."
"Kita buka pintu kamar mandinya, Jadi kalau dia menangis kita bisa mendengarnya."
Tanpa bertanya lagi, Bryan turun dari ranjang dan menarik tangan Zia untuk ikut bersamanya ke kamar mandi.
Sesuai yang Bryan katakan. Bryan membiarkan pintu kamar mandi terbuka agar mereka mendengar jika baby Ziyan menangis.
Setelah itu tanpa membuang waktu lagi, Bryan melucuti semua pakaian hingga menyembulkan miliknya yang sudah tegang sempurna.
"Babe..." susah payah Zia menelan salivanya. Meskipun sudah sering kali ia melihatnya. Namun pemandangan itu selalu berhasil membangkitkan gair'ah nya.
Dengan senyum nakal Bryan memegang miliknya dan menatap Zia dengan penuh arti. Zia yang sudah paham betul keinginan sang suami langsung berjongkok di depannya dan meraih benda itu.
Bryan menengadahkan kepalanya ke atas saat Zia mulai memberikan sentuhan lembutnya dari tangan, Bibir serta lidahnya.
__ADS_1
Permainan yang awalnya begitu lembut dan saling menikmati setelah beberapa hari mereka tidak bersenggama berubah tempo menjadi semakin cepat dan cepat hingga tubuh Bryan menegang.
Dengan erangan kenikmatanya Bryan menggenggam erat rambut panjang Zia bebarengan dengan ledakan hangat yang ia semburkan.
"Zia Sayang.... Oughhh... Hhhh...." dengan nafas tersengal Bryan berpegangan pada dinding kamar mandi.
Zia mengusap sisa-sisa ****** ***** yang terdapat di bibirnya sambil menatap puas sang suami yang terlihat masih mengatur nafasnya.
Kemudian ia berdiri dan menyalakan shower yang tepat berada di atas kepala Bryan.
Bryan menengadah ke atas menikmati setiap tetes air yang mengalir ke wajahnya yang terasa seperti sebuah pijitan. Kemudian ia menoleh ke arah Zia dan meraih kedua lengannya ke hadapannya.
"Kamu semakin pintar Sayang, Kamu luar biasa." pujinya.
"Aku hanya melakukan apa yang ku bisa karena Aku belum bisa melayani mu, Tapi jangan minta ini setiap hari, Karena Aku juga akan merasa tersiksa."
Bryan terkekeh mendengar ucapan Zia. Kemudian ia mengecup bibir Zia yang kini juga telah basah di bawah guyuran shower yang sama.
Kemudian Bryan membuka kancing piama yang Zia kenakan. Namun baru beberapa kancing terlepas. Suara tangis baby Ziyan membuyarkan momen romantis itu.
"Ziyan..." ucap Zia yang langsung ingin berlari keluar. Namun piamanya yang basah kuyup membuat Zia kembali dan membuka seluruh pakaiannya termasuk kain terakhir yang terdapat pembalut yang penuh darah.
"Zia..." Bryan cukup shock melihat itu. Namun dengan cueknya Zia tertawa sambil membersihkan diri kemudian melilitkan handuk dan berlari meninggalkan kamar mandi.
"Jadi Aku yang harus membersihkan ini?" ucap Bryan sambil menenteng kain yang terdapat pembalut wanita itu.
📌 Seberapa Banyak yang masih Setia nungguin Om Bryan?
__ADS_1
Komen yuk biar kapan-kapan Author up lagi 😂