Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Menggoda Majikan


__ADS_3

Sesampai di kamarnya, Rina membaringkan tubuhnya dan tersenyum-senyum sendiri membayangkan sang Majikan. Tubuhnya berdesir tatkala mengingat desah'an menggai'rahkan yang ia dengar di penginapan.


"Ssshhhhh Ahhh andai saja Aku yang ada di posisi Nyonya Zia pasti nikmat sekali." angannya melayang jauh hingga ia berfantasi sambil membayangkan bagaimana perkasanya Bryan menggagahi dirinya.


Keesokan harinya Rina bangun lebih awal dari biasanya. Dengan rambut basah yang masih menetes, Rina sengaja menunggu Bryan keluar dari kamarnya karena biasanya Bryan akan bangun lebih awal daripada Zia. Dan benar saja tak lama ia menunggu, Bryan keluar dari kamarnya.


Rina membelalakkan mata melihat Bryan yang hanya mengenakan celana pendek dan singlet yang mencetak jelas dada bidangnya. Dengan menggigit bibir bawahnya Rina yang sudah membawa susu formula di tangannya setengah berlari ke arah Bryan.


"Aowww..." Rina yang pura-pura keseleo. Membuat Bryan reflek menangkap tubuhnya. Desiran hebat pada tubuhnya kembali ia rasakan tatkala ia dapat merasakan sentuhan langsung dengan tangan Bryan yang di penuhi otot kekarnya. Bahkan dengan nakalnya Rina sengaja menekan lebih kedua dada nya ke tangan Bryan yang masih menahan tubuhnya.


Merasakan hal itu Bryan langsung melepaskan tangannya dan berpikir positif jika babysitter putranya itu tidak sengaja melakukannya.


"Ada apa ini?" tanya Zia yang baru keluar dari kamarnya.


"Oh tidak, Tadi Rina hampir terjatuh, Makanya dia berteriak." saut Bryan dengan tenang.


Zia terdiam menatap Rina, Memperhatikan penampilan Rina yang tak biasa dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Mendapat tatapan tajam dari sang majikan. Rina tertunduk dan merasa tidak nyaman. Terlebih ia tidak mengenakan seragam yang diharuskan, Membuat ia bersiap mencari alasan yang tepat jika Zia bertanya dimana seragamnya.


"Kenapa kamu tidak memakai seragam mu?" Dan benar saja, Pertanyaan itu keluar dari sang majikan yang lebih muda dari usianya.

__ADS_1


"E... Seragam saya belum di cuci Nyonya, Yang lain belum kering."


"Begitu banyak seragam yang ku berikan, Apa semuanya kotor dan belum kering?"


"Ziaaa..." lirih Bryan mengusap punggung sang istri agar tidak terbawa emosi.


"Tunggu Babe, Hari ini Aku akan masuk kuliah, Dan dia harus menjaga baby Ziyan, Jika dia mengenakan pakaian semacam ini, Apa dia tidak akan kesulitan untuk mengasuh putra kita?!"


"Maafkan saya Nyonya, Saya akan mengganti pakaian ku." Rina bergegas pergi dan kembali ke kamarnya.


"Sayang... Apa kamu tidak terlalu kasar padanya?"


"Apanya yang kasar, Babe tidak lihat pakaiannya, Dia itu di sini untuk bekerja, Mengurus bayi, Bukan mau jadi asisten pribadi mu!"


Bryan tersenyum menggelengkan kepalanya. Agaknya istri kecilnya tengah cemburu berat melihat Rina yang mengenakan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan belahan dada yang cukup rendah.


"Kenapa Babe tertawa, Apa Babe lebih senang melihat pengasuh putra kita berpenampilan seperti itu?!"


"Tidak sama sekali."


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku hanya sedang mengingat saat remaja SMA mendatangi kantor ku Dengan mengenakan dress minim untuk menarik perhatian ku."


Zia yang mengingat hal itu menjadi malu dan memalingkan wajahnya.


"Dan apa saat itu Aku tergiur dengan tubuh indahnya?"


Zia diam saja, Ia ingat betul saat itu Bryan menolaknya mentah-mentah meskipun ia sudah berpenampilan begitu seksi untuk memikat hatiya.


"Aku tidak mudah tergoda hanya dengan melihat wanita dari pakaiannya. Terlebih sekarang saat Aku sudah memiliki istri yang begitu agresif dan selalu membuat ku bergair'ah." bisik Bryan di telinga Zia hingga membuat Zia meremang dan mendorong tubuh Bryan dengan senyum malu-malu.


"Lihatlah, Istriku lebih terlihat begitu cantik saat tersipu malu." Bryan kembali menarik tangan Zia dan mendekapnya dengan erat.


"Jangan pernah melirik wanita lain."


"Hanya melirik doang masa gak boleh, Ntar nabrak dong."


"Iiih Babeee... Nyebelin." dengan manja Zia memukul lengan Bryan kemudian menyandarkan kepalanya di dadanya.


Rina yang melihatnya dari kejauhan mengeratkan giginya. Hatinya benar-benar merasa kesal. Baru aja dia sekali beraksi namun Zia sudah langsung bersikap sinis padanya.


"Aku harus terus mengawasi gerak-gerik Rina, Entah kenapa Aku merasa dia sedang mencoba memikat suami ku." batin Zia.

__ADS_1



Maaf Babe pake kolor doang wkwkwk 🤣


__ADS_2