Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Usaha Om Duda


__ADS_3

Bryan sengaja tidak bekerja untuk menunggu gadis kecil pujaannya menyelesaikan ujiannya, Meskipun Ia harus menunggu berjam-jam dengan penuh kebosanan. Namun rela ia lakukan demi tidak kehilangan kesempatan untuk membujuk gadis kecil yang dulu tanpa malu mengejar cinta darinya.


Setelah lama menunggu, Akhirnya Bryan dapat tersenyum lega saat melihat Zia keluar dari gerbang.


Tidak mau keduluan Supir yang menjemput Zia, Bryan langsung berlari mendekatinya.


"Zia..."


"Om..."


"Ikut dengan Om."


"Tidak." Zia langsung menghindari Bryan dengan melangkah meninggalkannya.


"Zia please, Beri Om kesempatan."


Zia menepis tangan Bryan dan terus berjalan dengan cepat menghindarinya.


Tidak mau membuang waktu lagi, Om Bryan langsung membopong tubuh Zia dengan memanggul di pundaknya.


"Jika Zia keras kepala, Om juga akan keras kepala!" tegas Bryan yang memegangi kedua pahanya Zia, Sementara tsngan sebelahnya untuk membuka pintu mobilnya.


Bryan menurunkan Zia di kursi depan sementara dirinya bergegas ke kursi kemudi. Baru saja Bryan menutup pintu mobilnya. Zia membuka pintu untuk kembali lari darinya. Namun dengan cepat Bryan menarik tangan Zia dan mengunci pintunya.


"Zia please, Nurut sama Om!"


"Nggak! Zia nggak mau pergi sama Om, Om jahat!"


"Ya Om tau, Maka dari itu, Izinkan Om memperbaiki kesalahan Om!" Bryan menarik Zia hingga Zia terduduk di pangkuannya hingga wajah Zia lebih tinggi beberapa senti dari Bryan. Sementara kedua tangan Zia tanpa ia sadari telah melingkar di leher Om Bryan.


"Apa Zia ingin terus di pangku seperti ini biar Zia bisa diam?"

__ADS_1


Zia langsung menurunkan mengalihkan pandangannya dan turun dari pangkuan Om Bryan.


Bryan terseyum lega melihat Zia yang kini duduk manis di kursinya.


"Anak pinter." Bryan mengusap kepala Zia seperti mengusap anak gadisnya. Setelah itu Bryan menyalajan mobilnya dan meninggalkan sekolah.


Sepanjang perjalanan Zia hanya terdiam kesal dengan terus mengerucutkan bibirnya. Namun hal itu malah membuat Bryan begitu gemas dan tidak sabar ingin melu'matnya seperti saat dulu setiap kali mereka bertemu.


"Om mau bawa Zia kemana?" tanya Bryan mengagetkan tatapan Bryan yang tengan membayangkan apa yang ia inginkan.


"Sebentar lagi sampai."


•••


Tidak lama kemudian Bryan menghentikan mobilnya.


Zia melihat keluar dan terkejut melihat Om Bryan membawanya ke rumah besarnya.


"Untuk menyelesaikan masalah kita." dengan terseyum smirk Bryan turun dan membukakan pintu mobil untuk Zia.


"Turunlah Sayang,"


"Nggak!"


Dengan menghelai nafas kasar Bryan langsung menggendong tubuh Zia dan membawanya masuk.


Tidak hanya membawanya ke ruang tamu, Bryan langsung membawanya ke kamar.


"Om ngapain bawa Zia ke kamar?" tanya Zia yang mulai tegang.


Bryan membaringkan tubuh mungil Zia ke ranjang besarnya.

__ADS_1


Kemudian melepas jas nya dan membuangnya ke sembarang arah.


"Om..." Zia menelan salivanya dan beringsut mundur dengan bertumpu kepada kedua sikunya.


Bryan terseyum melihat gadis kecilnya yang terlihat begitu tegang.


Kemudian Bryan duduk di tepi ranjang dan meraih pinggang Zia ke pangkuannya dengan hanya satu tangannya.


Kini wajah mereka saling berhadapan dengan kedua tangan Zia berada di pundak Bryan.


Ketegangan yang awalnya terjadi, Seolah langsung mencair dengan tatapan cinta dan kerinduan yang mereka pancarkan dari sorot mata keduanya.


Bryan memegang tengkuk Zia dan mencoba meraih bibirnya. Namun Zia segera memalingkan wajahnya hingga Bryan hanya mendapat rambut yang menutupi kupingnya.


"Zia mau pulang, Zia tidak ingin membuat Papa khawatir." Zia langsung turun dari pangkuan Om Bryan dan berdiri membelakanginya.


Dengan kesal, Bryan menarik lengan Zia hingga tubuhnya memutar menghadapnya.


"Papa khawatir atau Zia tidak lagi mencintai Om?"


Zia membeku mendengar pertanyaan Om Bryan.


"Zia! Semudah itukah kamu melupakan Om sehingga kamu langsung menjalin hubungan dengan Dimas!"


Zia menahan kesedihannya mendengar apa yang Om Bryan katakan.


"Om melepaskan mu satu minggu untuk mendapatkan mu selamanya, Apa Zia fikir Om tidak tersiksa dengan perpisahan kita? Om sangat-sangat tersiksa Zia, Tapi Om terpaksa melakukannya demi mendapat kepercayaan Bella, Demi menjauhkan Bella dari David, Dari kita semua, Tapi apa yang kamu lakukan Zia? Kamu begitu mudah mendapat pengganti Om?"


Zia menggelengkan kepalanya dengan sedih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2