
Di saat kebingungannya Alia turun dan menyapa Bryan yang masih terlihat berdiri bersama Faraz.
"Bryan apa kabar?" sapa Alia.
"Baik Nyonya Alia."
"Barusan Zia udah cerita dan sepertinya sudah tidak ada masalah lagi, Zia juga udah lulus, Ia kan Mas?" tanya Alia menyentuh lengan Faraz.
"Sayang apa yang kamu katakan, Tidak bisa semudah itu dong, Zayn dan Zayd juga belum nikah."
"Ya gak papa dong, Zia kan anak perempuan, Dimana-mana anak perempuan biasanya menikah lebih dulu daripada Kakak laki-lakinya."
"Iya, Tapi setidaknya tunggu Zayd pulih lah, Gak kasian apa sama Zayd?"
"Zayd gak papa Pa." saut Zayd yang baru datang.
"Zayd..."
"Biarkan Zia yang menikah terlebih dahulu, Aku ingin kembali fokus ke pekerjaan dan Kak Zayn sepertinya juga masih belum akan menikah dalam waktu dekat, Jadi jangan halangi Zia dan Om Bryan untuk bersama."
"Zayd, Adik mu baru lulus SMA, Masa langsung nikah sih?" ucap Faraz yang masih tetap berat hati merelakan Zia.
"Tidak masalah Pa, Zia bisa melanjutkan kuliah setelah menikah."
"Kalau udah nikah gak bakal adikmu mau kuliah, Yang ada di bucin terus tuh sama Om Duda karatan," ucap Faraz melirik Bryan dengan kesal.
Zayd menahan tawanya mendengar kecemburuan Papanya.
Bryan hanya tersenyum tipis menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa masalahnya Mas, Aku juga gak kuliah, Apa itu membuat mu malu?"
"Sayang, Please kenapa kamu tidak memihak ku?" protes Faraz.
"Mas, Aku hanya memberikan pendapat ku sebagai Mamanya Zia, Zia dan Bryan sudah bersama satu tahun lebih, Jika mereka sudah sama-sama cinta dan menginginkan pernikahan untuk apa di halangi lagi?"
"Aku hanya tidak ingin jauh dari putri kecil ku." rengek Faraz.
"Putri kecil kita sudah dewasa, Dia sudah jatuh cinta dan menginginkan pernikahan, Kita tidak bisa lagi memperlakukannya seperti saat ia masih kecil."
__ADS_1
"Tuan Faraz, Aku tidak akan membawa Zia kemana pun, Kamu bisa menemuinya setiap kali kamu merindukannya."
"Bukan cuma setiap hari, Tapi setiap jam, Setiap menit, Setiap detik Aku selalu merindukannya, Apa kamu tidak keberatan?"
"Papa itu berlebihan, Jangan buat Mama cemburu," ucap Zayd merangkul Papahnya dan menariknya mundur dari hadapan Om Bryan.
"Jangan di ambil hati omongan Mas Faraz, Dia memang suka berlebihan," ucap Alia menenangkan Bryan yang terlihat tegang.
Bryan mengangguk dengan senyum tipisnya.
Setelah tidak menemui kesepakatan, Bryan meminta izin pulang dan memberikan waktu pada Faraz untuk memikirkan kembali pernikahannya dengan Zia.
Tidak mau pulang dengan sia-sia, Bryan mengirim pesan pada Zia dan menunggunya di dalam mobil tak jauh dari gang perumahan.
Dengan pergi mengendap-endap sambil menenteng sepatunya, Zia berlari keluar mencari mobil Om Bryan.
Begitu melihat mobil Om Bryan, Zia mengetuk pintu kaca mobil sambil melihat kesana-kemari takut ketahuan oleh keluarganya.
"Masuklah Sayang."
Zia mengangguk dan memakai sepatunya yang masih ia tenteng.
Zia hanya tertawa cuek dan melihat riasan wajahnya di spion dalam mobil.
"Mau kemana Om?"
"Tempat special," ucap Bryan mengedipkan matanya.
"Apa Om ingin memberiku kejutan Valentine?" tanya Zia penuh harap.
"Om tidak merayakan hari Valentine, Tapi Om akan membuat malam mu lebih indah dari hari Valentine."
"Menarik." Zia mencebikan bibirnya sembari menaikan kedua alisnya.
•••
Setelah perjalanan tak lebih dari tiga puluh menit. Bryan menghentikan mobilnya.
Zia menatap keluar dan sedikit kecewa karena Om Bryan membawanya ke rumah, Bukan tempat special seperti yang ia harapkan.
__ADS_1
"Turun yuk."
Dengan mengerucutkan bibirnya Zia turun dengan bermalas-malasan.
Bryan yang melihatnya tersenyum dan meraih tangan Zia untuk mengajaknya masuk.
Kekecewaan Zia seketika pudar saat menaiki tangga yang di hiasi balon putih dan taburan bunga mawar merah dengan sorot lampu yang temaram hingga membuat suasana terasa begitu romantis.
Belum juga pudar senyum di bibirnya, Zia kembali terkejut melihat taburan bunga membentuk hati dengan di hiasi lilin serta balon merah dan putih dengan bertuliskan "MARRY ME"
Dengan membulatkan kedua matanya Zia menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat apa yang ada di depannya.
Bryan terseyum dan meraih tangan Zia, Kemudian berlutut di depannya.
"Will you marry me?"
Zia menatap Om Bryan dengan haru, Ia tidak menyangka ternyata Om Bryan telah menyiapkan kejutan romantis untuk melamarnya secara resmi.
"Please..." rengek Om Bryan yang tidak juga mendapat jawaban dari Zia.
"Apakah Zia perlu menjawab jika Om sudah tau jawabannya?"
"Itu di perlukan Sayang, Dan Berhentilah memanggil ku Om."
Zia terseyum menggelengkan kepalanya.
"Katakan sekali lagi," tawar Zia.
"Maukah kamu menikah dengan ku?"
"Jangan tunda lagi, Ayo kita menikah sekarang." dengan mengeratkan giginya Zia menarik kerah kemeja Om Bryan hingga Om Bryan berdiri.
"Dasar gadis nakal!" Bryan menyambar bibir Zia yang memang sudah memberinya isyarat untuk beradu.
Bersambung...
__ADS_1