
"Mama..." lirih Zia yang melihat Alia masuk.
"Istirahat saja Sayang, Jangan bergerak."
"Mama tau darimana Zia disini? Papa juga?" Zia menoleh ke belakang Alia melihat kedatangan Papahnya.
"Kami tadi mampir ke rumah mu, Tapi kata Bella kamu di bawa ke sini." jelas Alia.
Zia menunduk sedih mengingat pertengkarannya dengan Bella.
"Apa yang terjadi Sayang, Kenapa kamu bisa seperti ini?"
"Om Bryan mana?" tanya Zia mencari-cari suaminya, Seolah ingin menghindari pertanyaan Papahnya.
"Zia kamu belum jawab pertanyaan Papa!"
"Om Bryan kemana Pa, Apa Papa marah lagi sama Om Bryan?"
"Dia pantas di marahi, Bahkan seharusnya Papa menghajarnya, Bagaimana bisa seorang suami tidak mengetahui istrinya hamil dan..."
"Zia juga baru tau Pa!" dengan suara lantang Zia memotong ucapan Papa nya.
"Zia juga baru tau hari ini, Setelah dokter memeriksa ku, Jadi jangan salahkan Om Bryan karena ini memang bukan kesalahannya."
"Tapi dia..."
"Mas!"
Faraz langsung terdiam menatap Alia.
"Apa Mas lupa jika pertama kali Aku hamil Mas juga tidak mengetahuinya? dan tau setelah Bayi kita tiada?"
Faraz menunduk sedih mengingat kejadian saat itu.
"Sekarang inget kan? Jadi berhenti menyalahkan Bryan atas musibah yang telah terjadi pada Zia, Zia baik-baik saja dan bayinya juga selamat."
"Aku hanya menghawatirkan putri kita Sayang,"
"Kamu boleh mengkhawatirkannya tapi jangan terlalu mencampuri rumah tangga mereka."
Ckleekkk...
__ADS_1
Semua menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Om.." tangis Zia yang mengulurkan kedua tangannya.
"Sayang..." Bryan bergegas memeluk istri kecilnya. Sementara Faraz tidak bisa memprotes apapun melihat adegan yang begitu mengharukan antara anak dan menantunya itu.
"Maafkan Aku Sayang, Aku terlambat datang."
"Tidak, Om datang tepat waktu, Jika tidak..."
"Jika tidak? Apa yang terjadi Sayang, Apa kamu bertengkar dengan Bella?"
Zia menggeleng pelan, Ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya karena tidak ingin hubungan Bryan dan Bella semakin memanas.
"Sayang..."
"Bertengkar!" Faraz langsung menyeret Bryan dari hadapan Zia tanpa mau mendengarkan apa yang Bryan ingin katakan kepada Zia.
"Apa selama ini Zia dan Bella sering bertengkar?" bentak Faraz.
"Pa.."
"Jawab Bryan!"
"Berhenti membelanya Zia, Papa ingin tau yang sebenarnya, Apa selama ini kamu tidak akur dengan Bella?"
"Baru kali ini terjadi Pa, Dan Bella juga tidak sengaja sudahlah."
"Pulang ke rumah Papa!"
"Pa!"
Alia dan Zia terkejut dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa seperti itu dong Pa, Zia sudah menikah dan Zia hanya akan pulang ke rumah suami Zia."
"Tapi jika kamu terus bertengkar dengan Bella, Itu tidak baik untuk kesehatan mu dan kandungan mu, Sekarang kamu masih selamat, Bagaimana jika..." Faraz tak lagi meneruskan ucapannya dan mendekati Zia untuk terus memberinya pengertian. Namun Zia tetap teguh pada pendiriannya dan tidak ingin kembali ke rumah orang tuanya.
"Papa mohon Zia, Ini hanya untuk sementara, Di rumah Papa, Mama akan merawatmu dengan baik, Menjamin makan minum dan istirahat mu."
"Apa Papa pikir, Om Bryan tidak bisa menjaga ku?"
__ADS_1
"Papa tidak meragukannya Zia, Tapi saat Bryan sibuk bekerja, Dia tidak akan ada di sisimu."
"Tapi Pa..."
"Papa mu benar Zia."
Zia, Alia dan Faraz terhenyak mendengar apa yang Bryan ucapkan.
Kemudian Bryan melangkah mendekati Zia dan mengusap perutnya.
"Tinggallah di rumah Papa sampai Bella benar-benar mau menerima mu dan meminta maaf kepada mu." tanpa mengatakan apapun lagi Bryan langsung meninggalkan ruangan tanpa mempedulikan Zia yang terus memanggilnya.
"Om Bryan... Om Bryan..." tangis Zia yang berusaha turun dari ranjangnya.
"Sayang, Tenanglah." Alia menenangkan Zia yang ingin berlari mengejar Bryan.
"Kamu lihat Mas, Kenapa selalu mengambil keputusan sepihak tanpa mau membicarakannya dengan kepala dingin!"
Faraz yang merasa bingung pergi ke luar, Mencoba mengejar Bryan. Namun Faraz tidak bisa lagi mengejarnya karena secepat kilat, Bryan telah meninggalkan rumah sakit.
•••
"Bella! Bella!" triak Bryan begitu sampai di rumah.
Bella yang mendengar teriakkan Papanya langsung berlari ke bawah dengan perasaan cemas.
"Papah, Bagaimana keadaan Zia, Apa dia baik-baik saja?"
"Kamu harus bersyukur karena Zia dan bayinya baik-baik saja, Jika tidak Papah benar-benar tidak akan memaafkan mu Bella!" triak Bryan
"Bayi! Jadi Zia hamil?"
"Ya! Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada Zia Bella! Kenapa kamu selalu bersikap buruk padanya! Apa kamu tidak ingat bagaimana dia mencoba menyelamatkan mu dari Rendra dan hampir membahayakan dirinya? Dimana rasa belas kasih yang selama ini Papah ajarkan kepada mu Bella, Kenapa jamu jadi seperti ini, Apa yang salah dari didikan Papah!" Bryan benar-benar sedih dan merasa gagal mendidik putrinya.
Melihat Papahnya yang begitu kecewa dengan nya, Bella merasa begitu sedih dan bersimpuh memegang kakinya.
"Maafkan Bella Pah, Maafkan Bella, Bella memang merasa begitu iri dan cemburu kepada Zia sehingga Bella selalu bersikap kasar padanya, Tapi percayalah, Bella benar-benar tidak sengaja membuat Zia celaka, Bella bersumpah Pah." tangis Bella pun pecah menyesali segala perbuatannya.
"Apa yang membuat mu cemburu Bella, Aku ini Papah mu dan Aku telah melakukan tanggung jawab dan perhatian ku selama hampir 20th seorang diri, Tapi seolah itu tidak pernah cukup untuk mu!" Bryan melangkah pergi hingga Bella yang masih memegangi kakinya tersungkur di lantai.
"Papah... Papah..." tangis Bella yang melihat Papahnya pergi ke atas tanpa mau mempedulikannya lagi.
__ADS_1
Bersambung..