
Bryan masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang dengan hati yang gusar. Kedua tangannya menopang kepalanya yang terasa begitu sakit dengan apa yang baru saja terjadi.
Drrrttttttt... Drrrttttttt....
Suara getaran ponsel mengagetkan Bryan.
Ia segera megeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat begitu banyak panggilan dan pesan dari Zia.
"Oh ya ampun, Aku sampai lupa dengan janjiku." batin Bryan yang kemudian menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Hallo Om..." suara Zia terdengar begitu cemas begitu Om Bryan mengangkat ponselnya.
"Ya." jawab Bryan singkat.
"Ada apa Om?" tanya Zia yang merasa jawaban Bryan tidak seperti biasanya.
"Tidak papa sayang, Om hanya sedang sedikit kesal."
"Apa putri Om tidak mengizinkan?"
"Tidak, A-e... Bukan itu Sayang, Om hanya..."
"Om bisa membatalkan niat Om."
"Tidak sayang, Om akan datang, Kamu bersiaplah."
"Om yakin?"
"Ya."
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Bryan segera mandi dan bersiap menemui calon mertuanya. Meskipun masih belum mendapat izin dari putri semata wayangnya Bryan tetap ingin menepati janjinya kepada kekasih kecilnya.
Bryan meninggalkan kamar dan berpapasan dengan Bella yang juga baru keluar dari kamarnya.
Papah dan anak itu saling memandang dengan kegundahan hati masing-masing.
Kemudian Bella melangkah mendekati Papahnya.
"Jadi hanya gadis kecil itu sumber kebahagiaan Papah? Bukan Bella?" tanya nya sedih.
"Kebahagian bersama anak dan pasangan memiliki takarannya masing-masing, Jika Papa mengatakan Zia sumber kebahagiaan Papah bukan berarti Papah tidak bahagia dengan mu, Kamu bukan hanya sumber kebahagiaan Papah, Kamu juga sumber kehidupan dan kekuatan Papah, Tapi sepertinya 19th tidak cukup untuk mu melihat betapa Papah sangat menyayangi mu." setelah mengatakan itu Bryan melewati putrinya begitu saja seakan restunya tak lagi penting untuknya.
•••
Zia mondar-mandir di depan pintu menantikan Om Duda pujaan hatinya. Rasa tegang dan bahagia yang Zia rasakan secara bersamaan membuat hatinya begitu resah. Zia terus bercekak pinggang sambil terus menggigiti ujung-ujung kukunya yang sudah menjadi kebiasaannya.
Setelah menunggu waktu yang cukup lama dan membosankan akhirnya penantiannya berakhir dengan kedatangan Om Bryan menggunakan mobil hitam mewahnya.
Zia terseyum lebar dan langsung berlari ke arahnya.
Tanpa rasa takut ketahuan lagi Zia langsung memeluk kekasih hatinya begitu Om Bryan turun dari mobilnya.
"Om... Zia kangen banget sama Om." ucap Zia dengan manja sembari bergelayut di lehernya hingga membuat Om Bryan harus sedikit membungkukkan badannya.
Bryan yang masih terganggu dengan pertengkarannya dengan Bella hanya tersenyum tipis dan mengusap punggung kekasih kecilnya.
"Kita temui Papa Faraz dulu," ucap Bryan mengurai pelukan Zia.
Zia yang merasa Om Bryan tak sehangat biasanya kembali menarik tangan Om Bryan untuk menghentikan langkahnya.
"Om, Om terlihat tidak seperti biasanya?"
"Om hanya sedikit tegang karena akan bicara pada Papa mu, Tapi kamu jangan khawatir, Om akan berusaha bersikap tenang di depan Papa Faraz, Sekarang Zia panggil Papa dan Mama, Hem?"
Mendengar itu Zia tak lagi curiga dan masuk kedalam untuk memanggil kedua orang tuanya.
Bryan menghelai nafas panjang, Karena yang sebenarnya keresahan hatinya bukan karena ingin menghadapi calon mertuanya yang tak lain adalah temannya sendiri, Tapi Bryan lebih merasa resah karena pertengkaran dengan putrinya.
__ADS_1
•••
Setelah memanggil Papanya, Zia kembali ke ruang tamu dan menemani kekasih dudanya yang tidak lama lagi akan meminta restu dari Papanya.
Sedangkan Om semakin merasa tegang karena Faraz yang tidak kunjung datang setelah Ia menunggu waktu yang cukup lama.
Tangan dan kakinya pun tidak bisa diam memikirkan apa yang akan terjadi nanti setelah Faraz mengetahui hubungan mereka.
"Zia... Sebenarnya kemana Papa mu, Kenapa tidak datang-datang, Apa mereka ketiduran?"
"Tadi nggak tidur kok Om, Katanya bentar lagi."
"Tapi ini sudah hampir 30 menit Om nunggu, Kalau kelamaan ntar kata-kata yang sudah Om susun buyar semua."
Zia menoleh kesana kemari. Kemudian mendekati Om Bryan.
Om Bryan pun melakukan hal yang sama dan menatap kekasih kecilnya.
"Zia jangan main-main, Bagaimana kalau tiba-tiba Papa datang?"
"Tenang saja, Zia hanya ingin Om merasa tenang." Zia memegang pipi Om Bryan dan mengusapnya lembut.
"Ayolah Zia, Ini tidak akan membuat Om tenang tapi ini akan membuat Om bergelora."
Zia tertawa mendengarnya, Ntah kenapa kata-kata itu terdengar begitu menggoda hatinya hingga membuat Zia merasakan desiran aneh dalam tubuhnya.
Om Bryan meraih tangan Zia dan mengecupnya dengan lembut.
Dengan saling berpandangan dengan lekat Mereka seolah tak sabar ingin segera melepas rindu seperti biasanya.
"Bryan..." Suara Faraz mengagetkan Mereka.
Faraz melihat tangan Bryan yang masih memegang putri kecilnya.
Om Bryan yang menyadari tatapan Faraz langsung melepaskan tangan Zia dan menjadi canggung menatap Faraz yang sudah berdiri di depannya.
"Ada hubungan apa kalian?"
"Faraz bisa kita duduk dan bicara dengan tenang?"
Faraz merasa curiga dengan sikap Bryan dan putri bungsunya. Apa lagi Bryan terlihat begitu tegang dan tak seperti biasanya.
"Baiklah katakan." Faraz duduk dan terus memperhatikan gerak-gerik Zia yang begitu mencurigakan.
"Sebelumnya Aku meminta maaf, Karena telah menyembunyikan ini berbulan-bulan lamanya, Sebenarnya Aku merasa malu karena di usiaku yang sekarang harus mengalami ini, Apa lagi dengan putri dari teman ku sendiri..."
"Tunggu-tunggu, Putri dari teman, Apa Kamu sedang membicarakan Zia?" tanya Faraz yang semakin curiga.
"Ya."
Faraz menatap Zia dengan fikiran yang menduga-duga.
"Faraz, Aku tau usiaku lebih pantas jadi Ayahnya tapi Aku tidak bisa menghindari perasaan ku, Aku benar-benar mencintai Zia, Putrimu."
Deg!
Faraz menatap kaget Bryan, Ternyata dugaan yang terlintas dalam pikirannya benar-benar Ia dengar dari mulut Bryan.
Faraz langsung berdiri dengan tatapan penuh kekecewaan.
Ia tidak menyangka temannya, Rekan kerjanya, Yang begitu Ia percaya dan seringkali menginap di rumahnya, Menjalin cinta dengan putrinya di belakangnya.
Bryan dan Zia juga berdiri dengan tegang menatap Faraz.
"Apa yang sudah Kau lakukan pad putriku?"
"Apa maksud mu?"
__ADS_1
"Bryan! Kamu menduda selama hampir 19th dan Kamu pria dewasa apa Kamu sudah meniduri putriku?" teriaknya.
"Faraz Aku tidak seperti itu," ucap Bryan yang tak percaya Faraz bisa berfikir seperti itu padanya.
"Papa..." Zia mencoba menghentikan Papanya namun ucapanya langsung di potong oleh Bryan.
"Faraz, Kamu mengenalku dengan baik, Apa selama kita berteman kamu pernah melihat Aku bergonta-ganti wanita?"
Faraz terdiam mendengarnya.
Alia yang baru turun merasa bingung dengan ketegangan yang sedang terjadi.
"Papa, Yang Om Bryan katakan benar, Om Bryan selalu menjaga dan melindungi Zia dengan baik, Om Bryan tidak pernah macam-macam pada Zia."
"Apa Zia juga mencintai Om Bryan?" tanya Faraz datar.
"Sangat Pa, bahkan Zia duluan yang kejar-kejar Om Bryan. Om Bryan sudah sering kali menolak Zia, Tapi Zia nekat dan tak menyerah." jelas Zia yang sedikit melunakkan hati Faraz. Namun itu tak berlangsung lama karena Faraz mendapat banyak notifikasi pesan masuk.
Karena penasaran Faraz membuka pesan itu dan membuat matanya terbelalak melihat foto-foto yang masuk ke ponselnya.
"Apa ini yang kamu sebut melindungi?" Faraz menunjukan foto-foto saat Mereka berciu'man di berbagai tempat.
Om Bryan dan Zia menggelengkan kepalanya dan tak dapat menyangkalnya.
"Di cafe, Di dalam mobil bahkan Bryan membawa mu pulang ke rumahnya, Apa mungkin Dia tidak melakukan itu?!
"Siapa yang mengirim pesan itu Pa?" Zia mencoba merebutnya namun Faraz mempertahankannya.
"Itu tidak seperti yang Kamu fikirkan." ucap Bryan.
"Lalu Aku harus berfikir seperti apa? Seorang laki-laki dewasa mencium remaja dengan penuh gai'rah di tempat umum, Apa yang akan terjadi jika Mereka berduaan di kamar?"
"Kamu boleh percaya atau tidak tapi Aku tidak pernah melakukan lebih dari itu, Aku sangat mencintai putrimu dan Aku akan terus menjaga kehormatannya sampai kamu mengizinkan kami menikah."
"Om Bryan benar Pa, dan untuk masalah On Bryan membawa ku menginap di rumahnya, Itu keinginan ku, Aku yang ingin bersamanya untuk terakhir kalinya."
"Maksud Zia?" tanya Faraz bingung.
"Ya, Malam itu Aku memutuskan untuk menyerah mengejar cinta ku pada Om Bryan, Tapi di jalan, Hiks.. hiks... hiks.." Zia yang mengingat kembali akan di Perko'sa David tak dapat melanjutkan ceritanya.
"Apa yang terjadi Zia?" tanya Faraz penasaran.
"David mencoba memperk'osa ku Pa, Hiks... hiks... hiks."
"Apa!"
Zia menjatuhkan diri ke pelukan Papanya.
"David memaksa ku, Dia hampir saja memperk'osa ku." Zia terus menangis mengingat kejadian malam itu.
"Lalu apa yang terjadi sayang, Kenapa kamu tidak pernah cerita?" tanya Alia mengusap lembut kepala putrinya.
"Om Bryan datang menyelamatkan Zia, Jika tidak... Zia... Zia..."
"Hsssttt, Tenanglah sayang tidak terjadi apapun," ucap Faraz yang kemudian menatap Bryan dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.
"Om Bryan benar-benar baik Pa, Dia tidak pernah mengambil kesempatan atas diriku, Bahkan Dia melarangku jika Aku sengaja berpakaian minim untuk menarik perhatiannya."
Faraz menghelai nafas panjang.
Setelah mendengar apa yang Zia katakan, Faraz menyadari jika putrinya yang begitu tergila-gila pada Bryan.
"Dan Kau David, Kau tidak ada bedanya dengan Ayah mu, Lihatlah apa yang akan Aku lakukan padamu." batin Faraz sembari mengepalkan tangannya.
Bersambung...
Nantikan BAB Terbaru, Malam ini, Insya Allah 🥰
__ADS_1
Perjalanan Cinta Sang Duda juga UP siang ini, Pantau terus ya 🤗❤️