
Sesampainya di rumah. Bryan yang melihat Zia sedang berada di ruang tengah, Langsung melempar tasnya dan menggendong tubuh sang istri seperti.
"Aww! Om..." Zia menatap Bryan terkejut karena tanpa satu katapun langsung menggendong tubuhnya seperti anak kecil.
"Aku sangat merindukan mu Sayang." Bryan langsung menendang pintu dengan kakinya. Dengan tidak sabaran, Bryan melucuti semua pakaian hingga tak tersisa.
"Om... Zia, Hmpttt." Bryan langsung membungkam bibir Zia yang masih saja ingin memprotesnya. Sambil terus melu'mat bibirnya, Bryan melucuti pakaian yang Zia keenakan.
Zia terus meliuk kesana kemari sambil menggelengkan kepalanya saat Bryan mulai memasukkan jarinya ke dalam kain berbentuk segitiga yang ia kenakan. Namun Bryan yang sudah sangat bernafsu tidak mempedulikannya dan mulai meraba lembah kesukaannya. Seketika Bryan melepaskan tautannya dan menarik tangannya begitu merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam kain berbentuk segitiga itu.
"Zia palang merah Om."
"Hah!"
Dengan mencebikan bibirnya, Zia menganggukkan kepala melihat Bryan shock melihat darah di jari tengahnya.
"Zia apa-apaan ini, Kita baru menikah seminggu dan kamu sudah palang merah?"
"Mau gimana lagi, Sudah tanggalnya."
"Kenapa gak bilang dari awal, Punya ku dah On banget nih." keluh Bryan sambil menunjuk senjatanya yang menegang sempurna.
"Dari tadi kan Zia udah mau ngomong, Om main nyosor aja gak memberikan waktu untuk Zia bicara."
Bryan menarik nafas dalam-dalam dan terdiam sejenak, Kemudian Bryan turun dari ranjang dan menarik kedua tangan sang istri ke tepi ranjang.
Susah payah Zia menelan salivanya melihat senjata Bryan tepat di depan wajahnya.
Kemudian Bryan yang tetap berdiri meraih tangan sang istri dan mengarahkan ke senjatanya.
"Tidurkan dia Zia, Jika tidak kepalaku akan sangat sakit."
Zia mengangguk ragu dan mulai memaju mundurkan genggaman tangannya. Gerakan lembut tangan Zia membuat Bryan semakin ingin mendapatkan kenikmatannya.
__ADS_1
"Gunakan mulutmu Sayang," ucap Bryan sambil mengusap lembut kepala sang istri.
"Hah!" Zia tercengang sambil meneguk ludahnya.
"Please Sayang." rengek Bryan sambil mengecup bibir Zia sekilas.
Dengan ragu-ragu, Zia mendekatkan bibirnya ke ujung senjatanya. Kemudian ia menempelkan bibirnya ke sana dan memberikan kecupanannya.
"Masukkan Sayang, Please..." rengeknya lagi yang semakin tak dapat menahan birahinya. Melihat suaminya yang begitu tersiksa, Zia mulai memasukkan senjata itu ke mulutnya.
Sentuhan basah lidah Zia kedalam senjatanya membuat Bryan menengadahkan kepalanya ke atas dibarengi erangan kenikmatannya.
"Lebih dalam lagi Sayang Ah..."
Zia harus membuka mulutnya lebar-lebar untuk bisa memasukkan senjata Bryan ke mulutnya, Bahkan baru setengahnya Zia merasa sudah menyumbat tenggorokannya hingga membuatnya terdesak dan kesulitan bernafas.
"Uhuk... Uhuk..." Zia memegangi lehernya dan menatap Bryan dengan perasaan bersalah.
"Maafin Zia Om, Zia tidak bisa."
•••
Keesokan harinya Bryan mengantar Zia untuk mendaftarkan kuliahnya di salah satu Universitas ternama di Jakarta.
Sebelum turun dari mobilnya, Zia menatap Bryan mengingat kejadian semalam.
"Om, Untuk tadi malam maafin Zia ya."
"Sudah ku maafkan, Tapi kamu harus mau banyak belajar agar bisa melakukannya." ucap Bryan tersenyum melihat wajah tegang Zia.
"Kemarilah." Bryan mengerjapkan mata dan mengulurkan tangannya pada Zia.
Zia tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak Bryan dengan nyaman. Namun baru saja mereka menikmati momen itu mereka di kagetkan oleh dering telepon di saku Bryan.
__ADS_1
"Bentar Sayang," ucap Bryan melepaskan dekapan tangannya pada pundak Zia, Ia melihat layar ponselnya tertulis Faraz memanggil.
"Hem, Sepertinya Aku akan kembali mendapat ancamannya." gerutu Bryan sambil meletakkan benda pipih itu di telinganya.
"Bryan!"
Seketika Bryan langsung menjauhkan benda pipih itu dari telinganya karena pekikan dari Papa mertuanya.
"Bryan kamu sudah melakukan apa yang ku perintahkan?"
Bryan kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya "Ya, Ini sudah di depan kampus."
"Bagus. Ingat Bryan, Zia masih kecil, Biarkan dia belajar dulu, Jangan bebani masa mudanya dengan melahirkan anak dari mu terlebih dahulu."
Bryan menggaruk-garuk kepalanya mendengar celotehan Papa mertuanya.
"Bryan! Kamu dengar apa yang ku katakan?" pekiknya lagi.
"Jangankan Aku, Para dosen dan mahasiswa juga pasti akan mendengar suara Papa mertua jika terus bicara dengan memekik seperti itu."
"Bryan kau..."
"Papa sudahlah, Zia mau turun nih, Ntar kesiangan." pekik Zia yang mendengar apa yang Papanya katakan.
"Baiklah Sayang, Papa sangat merindukan mu, Sering-seringlah datang ke rumah."
"Iya Pa, Kapan-kapan Zia akan datang ke rumah, Bye..."
Bryan mengakhiri panggilannya dan menatap sang istri.
"Papa mu rempongnya melebihi seorang wanita, Mau malam pertama di ganggu, Bulan madu di larang dan sekarang mau punya anak aja di atur."
Zia tersenyum mendengar keluhan Bryan "Tapi yang di katakan Papa ada bebernya kok, Zia juga masih takut punya anak."
__ADS_1
"Hm... Punya anak takut, Giliran bikin mendes'ah tak karuan," goda Bryan yang membuat Zia memerah seketika.
Bersambung...