
"Jadi Kamu ingin melepaskan Zia?"
Bryan hanya diam, Jangankan berkata-kata, Menggeleng pun Bryan tak sanggup melakukannya.
"Baiklah..." dengan perasaan kecewa bercampur kesal, Faraz melangkah mundur dan meninggalkan rumah Bryan.
Bryan memejamkan mata menahan betapa perihnya luka di dalam hatinya.
•••
Setelah hari itu Bryan tak lagi menemui Zia, Waktunya hanya di habiskan di kantor dan di rumah mencurahkan seluruh perhatiannya pada Bella, Hingga satu Minggu berlalu, Tiba saatnya Bella akan kembali kuliah di Semarang.
Dengan penuh ketelatenan Bryan membantu putrinya mengemasi barang-barang yang akan Ia bawa.
"Apa ada yang kurang?"
"Tidak Pah."
"Baiklah, Papah akan bersiap."
Bella langsung menghentikan Papahnya dengan memegang tangannya.
"Ada apa Sayang? Ada yang kamu butuhkan?"
"Ya."
Bryan langsung duduk di depannya dan menatap wajah putrinya.
"Katakan Sayang, Mumpung masih ada waktu biar Papah bisa cari apa yang kurang."
"Yang Bella butuhkan ada di sini." Bella menempelkan ibu jari dan jari telunjuknya di kedua ujung bibir Papahnya dan menariknya ke samping.
Bryan menatap Bella bingung.
"Tolong kembalikan senyum Papah." Bella tak bisa lagi menahan air matanya.
__ADS_1
Bryan terseyum dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Kenapa Bella menangis, Bukankah setiap hari Papah terseyum?"
"Tapi bukan senyum kebahagiaan, Melainkan senyum keterpaksaan."
Bryan terdiam, Selama ini Ia telah berusaha keras menunjukkan kasih sayangnya pada sang putri, Tapi kesedihan berpisah dari kekasih kecilnya tidak dapat menutupi kesedihannya sekalipun Ia mengukir senyum di bibirnya.
"Kembalilah pada Zia."
Bryan mengankat wajahnya menatap sang putri.
Ia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Kembalilah pada Zia, Hanya Zia yang mampu mengembalikan senyum dan semangat Papah dalam menjalani hari-hari yang menyedihkan ini."
"Kata-kata itu semakin jelas, Jadi Bella benar-benar mengizinkan ku untuk kembali kepada Zia? Ah itu rasanya tidak mungkin, Apakah Aku sedang bermimpi?" Bryan masih menatap Bella dengan tatapan tak percaya.
"Pah..." Bella memegang tangan Papahnya yang masih diam membatu menatap dirinya.
"Tidak! Cinta terhadap anak dan pasangan memiliki takarannya masing-masing. Begitu kan yang pernah Papah katakan?"
Bryan kembali terdiam.
"Pergilah temui kekasih kecil Papah, Bella tidak akan pernah lagi melarangnya."
Bryan terperanjat mendengar ucapan Bella, Lagi-lagi Ia merasa tak percaya dengan apa yang Ia dengar.
"Papah tidak perlu khawatir padaku, Bella tidak akan pernah lagi menemui David."
"Bagaimana mungkin, Bukankah Bella sangat mencintai David?"
"Tidak! Sebenarnya sejak awal Bella tidak begitu menyukainya, Tapi melihat Papah terus bersama Zia, Membuat Bella menerima cinta palsunya agar Bella bisa membalas Papah."
Lagi-lagi Bryan di buat tercengang olehnya.
__ADS_1
"Itu artinya Bella tau jika David tidak baik untuk Bella?"
"Ya, Bella denger semua pertengkaran Papah dengan Papanya Zia, Bella juga denger rekaman di ponsel Papah bagaimana David mengancam Papah."
Bryan membatu menatap sang putri.
"Kenapa Papah tidak memberikan rekaman itu padaku dan malah memilih meninggalkan Zia?"
"Tidak. Belajar dari pengalaman Tante Anita, Setelah Papah memberikan bukti pada mu Apa kamu jadi merestui hubungan Papah dan Zia? Tidak, Memberikan bukti kejahatannya hanya akan membuat mu meninggalkan David, Tapi tidak akan bisa membuatmu menyukai Zia, Jadi tidak ada gunanya."
Bella langsung memeluk Papahnya dan menangis di pundaknya.
"Maafkan Bella Pah, Maafkan Bella, Gara-gara rasa cemburu Bella Papah harus meninggalkan kekasih kecil Papah."
"Tidak Sayang, Ini jalan yang terbaik untuk kita, Zia masih muda, Dia akan menemukan Pria yang lebih segalanya dari Papah. Karena yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan dan kepercayaan Bella."
"Sekarang Bella sudah bahagia dan percaya pada Papah,
Zia tidak akan pernah mendapat Pria sebaik Papah, Jadi Pergilah, Kejar Zia, Bella sudah merestuinya."
Bryan melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang putri.
Tatapannya masih menyiratkan tanya dan butuh keyakinan lebih dari apa yang baru saja Ia dengar.
"Pergilah Pah, Bella ingin bertemu dengan Little Mom Zia sebelum Bella berangkat ke Semarang."
"Sayang..." dengan haru Bryan kembali memeluk sang putri, Akhirnya setelah pengorbanan yang begitu menyiksa hatinya berakhir dengan kata-kata indah yang keluar dari mulut Bella.
Kemudian Bryan melesapkan pelukannya dan berpindah menangkup wajah Bella untuk mempertanyakan sebutannya untuk Zia.
"Little Mom Zia?" tanya Bryan dengan senyuman yang mengembang.
Bella mengangguk haru dan telah benar-benar ikhlas jika Zia menjadi Ibu kecilnya.
Bersambung...
__ADS_1