
Hingga matahari terbit kedua sejoli berbda usia itu masih tidur dalam satu selimut yang sama.
Zia yang mulai terusik akan silaunya matahari merubah posisinya dengan menyembunyikan wajahnya di dada Bryan.
Bryan yang hanya bertelanjang dada mulai merasakan hembusan nafas Zia menyapu dadanya. Perlahan Bryan membuka mata dan melihat kekasih kecilnya yang masih meringkuk mencari kehangatan seperti bayi kucing pada induknya.
Bryan terseyum dan mengusap lembut pipi Zia dan mengecup keningnya hingga membuatnya terbangun.
Zia mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Bryan di depannya.
"Hah!" seperti orang yang baru sadar, Zia langsung terlonjak duduk dan membelakangi Bryan sambil memegangi kepalanya.
"Zia baik-baik saja?" tanya Bryan memegang kedua pundak kekasih kecilnya.
"Zia lupa kalau tidur di rumah Om, Sekarang jam..." Zia langsung membulatkan matanya melihat jam dinding yang menunjukan pukul 07.20 wib.
"Om, Katanya mau antar Zia sebelum matahari terbit, Sekarang udah jam segini kok baru bangun, Kalau Papa nyariin ke kamar Zia gimana?"
Zia turun dari ranjang dan memakai sepatunya.
"Maafin Om Sayang, Om terlalu nyaman tidur dengan mu." ucap Bryan dengan santainya.
Zia memalingkan wajahnya melihat Om Bryan turun dari ranjangnya dengan hanya mengenakan celana pendek.
"Kenapa menyembunyikan wajah mu, Ini semua akan segera menjadi milik mu." goda Om Bryan.
"Om berhenti mengkontaminasi pikiran Zia, Sekarang cepat antar Zia pulang."
"Cium dulu." tawar Bryan.
"Ini udah siang, Bagaimana kalau..."
Cup!
Tanpa mau mendengarkan keluhan Zia, Bryan menutup mulutnya dengan kecupan hangatnya.
"Om akan segera mendaftarkan pernikahan kita, Om ingin setiap pagi di sambut oleh wajah cantik mu yang menggemaskan."
"Tapi Papa..."
"Papa mu kelamaan memberi keputusan, Kalau kita kucing-kucingan terus seperti ini ntar lama-lama Om gak tahan," ucap Bryan tertawa.
__ADS_1
Zia terdiam melihat Om Bryan yang kemudian sibuk mengeluarkan berkas-berkas dari dalam lemarinya.
"Apa itu Om?"
"Syarat-syarat yang diperlukan untuk pernikahan kita," ucap Bryan sambil mengumpulkannya menjadi satu di atas ranjang.
"Om mandi dulu, Ntar kita setelah sarapan, Om antar kamu sekalian daftarin pernikahan kita."
Zia mengangguk dan duduk melihat satu-satu persyaratan pernikahan seperti Fotokopi Identitas Diri (KTP), Fotokopi Kartu Keluarga, Fotokopi Akta Lahir dan persyaratan lainnya.
Kemudian Zia terseyum melihat foto berukuran 4 x 6 Om Bryan yang terlihat begitu rapi dan tampan di matanya.
Belum sempat senyuman itu pudar, Suara pintu kamar mandi mengagetkannya.
Bryan melempar senyum dan langsung menuju lemari pakaiannya.
"Zia mau mandi dulu?"
"Nggak, Nanti aja di rumah."
"Nanti sampai rumah, Zia siapkan syarat-syarat pendaftaran pernikahan seperti itu ya."
"Tentu, Kan harus minta Fotokopi KTP dan akta nikah (buku nikah) Papa dan Mama juga."
"Om yakin Papa akan memberikannya dengan mudah?"
"Sayang, Kenapa kamu masih tidak mengenal Papa mu, Dia sangat menyayangimu, Bahkan Dia cenderung posesif terhadap mu, Jika Dia menolaknya cukup gunakan air mata mu untuk meluluhkannya."
"Ngajarinnya begitu," ucap Zia mengerucutkan bibirnya.
"Sesekali tidak masalah Sayang," Bryan menyesap bibir Zia yang masih mengerucut.
"Eummhhh!" Zia menggenggam kerah kemeja Om Bryan yang terus memberikan dorongan kepada tubuhnya hingga ia nyaris terjatuh di ranjang.
"Eumm... Eumm!" Zia memukul-mukul dada Om Bryan agar melepaskan pagutannya yang hampir membuatnya kehabisan nafas.
Om Bryan terseyum melepaskannya sembari mengusap bibirnya yang basah karena ulahnya.
"Grmesss," ucap Bryan mengeratkan giginya.
Setelah merapikan diri dan memasukan persyaratan pernikahan ke tas nya, Bryan mengajak Zia turun untuk sarapan.
__ADS_1
"Kita sudah kesiangan Om,"
"Biar siang sekalian," ucap Bryan sambil menyajikan makanan ke piring Zia.
"Silahkan Tuan." ucap Bi Lastri menghidangkan menu terakhir.
"Terimakasih Bi, Oh ya kenalin, Ini Zia Sebentar lagi Dia akan menjadi istri ku, Jadi Bi Lastri harus melayaninya seperti Bi Lastri melayani Saya dan Bella."
"Tentu Tuan." Bi Lastri menganggukkan kepalanya pada Zia dan di balasannya dengan senyum ramahnya.
"Kalau begitu, Saya ke dapur dulu Tuan."
"Ya."
"Om ngomong-ngomong soal Bella, Sejak kita balikan lagi, Kita belum melakukan panggilan video padanya, Om bilang Bella sudah setuju kan?"
"Ya kamu benar, Kalau begitu Ayo kita lakukan panggilan video dengan nya."
Zia terseyum antusias menunggu panggilannya tersambung.
Setelah panggilan itu tersambung, Bryan mendekatkan kursi mereka dan merangkul pundak Zia menyapa sang putri yang tinggal jauh darinya.
"Pagi Sayang..."
"Pagi Pah, Hey! Ada Little mom Zia juga?" ucap Bella terseyum ceria menyapa Zia.
"Hai Bella." Zia melambaikan tangan kepada calon anak tirinya tersebut.
"Hai, Bella ikut senang akhirnya Zia mau menerima Papah kembali."
"Bella sudah tidak lagi keberatan dengan hubungan Zia dan Papah Bryan?"
"Kenapa bertanya lagi, Aku tidak lagi keberatan, Papah sudah membuktikan jika Papah bisa membagi cinta dan kasih sayangnya pada kita, Jadi tidak adil jika Aku terus menghalangi kebahagiaan Papah."
Bryan terseyum dan mengecup pucuk kepala Zia.
"Terimakasih Sayang, Papah akan segera mengurus pernikahan jadi bersiaplah menghadiri pernikahan Papah dan Mommy kecil mu ini." ucap Bryan mengusap kepala Zia dengan gemas.
Bella terseyum melihat kebersamaan Papahnya dan Zia yang begitu mesra. Seketika kerinduannya timbul dan ingin memeluk Pria yang selama ini memberikan kasih sayang sebagai Ayah sekaligus Ibu tanpa di bagi kepada siapapun.
Bersambung...
__ADS_1