Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Membujuk


__ADS_3

Zia mencebikan bibirnya dengan sedih. Ia mencoba memegang lengan Bryan yang tidak mau menatapnya. "Maafkan Aku..." ucapnya sambil memasang wajah memelas.


Bryan hanya menghelai nafas kasar dan melirik Zia sekilas.


"Babe..." Tidak tahan Bryan mengabaikannya Zia langsung memeluk Bryan dari belakang. Zia menangis menyandarkan kepalanya di punggung kekar itu hingga air matanya membasahi kemeja yang Bryan kenakan.


Tidak tega melihat sang istri menangis, Bryan memegang kedua tangan Zia dan memutar tubuhnya ke belakang. Di usapnya air mata yang membasahi pipi, Kemudian Bryan mengecup kedua matanya dengan sangat lembut.


"Jangan pernah meragukan ku lagi..." ucap Bryan sembari menangkup kedua sisi pipi Zia.


"Tidak akan, Maafkan Zia, Zia tidak bisa melihat Babe bersama dengan wanita lain." isaknya.


"Bukankah Aku sudah sering mengatakannya? Aku tidak akan pernah tertarik dengan wanita lain karena hanya kamu yang membuat ku bergair'ah." Bryan mengangkat dagu Zia hingga mendongak ke atas. Di kecupnya bibir ranum itu dengan sedikit esapan.


Tidak butuh waktu lama. Zia merasa tubuhnya memanas. Ia membalas esapan itu sambil memegang kedua rahang Bryan kuat-kuat. Mendapat balasan penuh gair'ah dari Zia Bryan membopong tubuh Zia dan mendudukkan tubuhnya di meja. Dengan gerakan tak sabaran, Bryan menurunkan underwear yang Zia kenakan. Kemudian ia menarik kedua pa'ha Zia mendekati miliknya yang sudah siap memberikan hentakan kenikmatan yang selalu membuat Zia ketagihan.


"Aaaakkkhhhhhhhh..." Zia memekik kecil tatkala Bryan melesapkan miliknya dengan sekali hentakan yang sedikit kasar. Namun biarpun begitu Zia selalu menyukai apapun yang Bryan lakukan atas tubuhnya.


"Babeee... Akhhhhh..." dengan kedua tangan melingkar di leher Bryan. Zia menengadahkan kepalanya ke atas menikmati setiap hentakan yang Bryan lakukan.


Dua bukit indah yang sedikit membusung tepat di depan mata, Membuat Bryan tak menyia-nyiakan itu. Dengan cepat Bryan menikmati kedua bukit itu secara bergantian.


"Babeee... Akhhh Akhhh Akhhh..." Zia semakin meracau tak karuan saat kedua titik kenikmatannya di permainkan secara bersamaan.


Solah lupa dengan masalah yang tengah mereka hadapi yang belum selesai, Mereka terus menikmati permainan panas itu di ruang CCTV yang tengah merekam Faraz yang tengah meluapkan amarahnya pada babysitter yang membuat putrinya menangis.

__ADS_1


"Berrraninya kau membuat putri ku menangis! Apa urat malu sudah putus sehingga kau berrani melakukan ini, Bahkan kau melakukannya di kamar mereka?!"


"Benar-benar menjijikkan! Apa yang kamu pikirkan sehingga nekat melakukan ini?" sambung Alia sambil memakaikan blazer panjang untuk menutupi tubuh Rina yang tembus pandang.


"Untuk apa kamu menutupinya. Dia tidak akan malu sekalipun ia tela'njang!"


"Apa yang Mas katakan? Apa Mas akan mencari kesempatan untuk melihat tubuhnya?" kini Alia malah balik marah kepada Faraz.


"B-bukan begitu maksud ku... M-m-maksud ku jika dia tidak mempunyai rasa malu saat... A-alia... Sayang..." Faraz tak dapat meneruskan penjelasannya karena sang istri yang merajuk dan pergi bersama sang cucu ke kamarnya.


Melihat pertengkaran itu Rina tersenyum smirk seakan tak menyesali apa yang ia lakukan. Namun senyum itu langsung terhenti saat Bi Asih menegurnya.


"Rina! Sampai hati kamu melakukan ini pada Tuan Bryan dan Non Zia yang telah begitu baik dengan mu!"


"Sudah sepantasnya seorang majikan harus bersikap baik kepada pelayannya, Karena tanpa pelayan mereka tidak akan bisa mengerjakan apapun." tantang Rina.


"Amankan dia sampai Tuan Bryan memberikan keputusan apa yang akan Tuan Bryan ambil untuk menghukumnya!" tegas Bi Asih pada petugas keamanan.


Sementara di kamar baby Ziyan, Faraz masih membujuk Alia yang merajuk karena perkataannya. Ia mendekap tubuh sang istri dan membenamkan dagunya di pundak sang istri.


"Apakah Aku Masih begitu tampan sampai di usia ku sekarang kamu masih begitu cemburu pada ku?"


Alia yang mendengar melepaskan kedua tangan Faraz yang melingkar di perutnya. Kemudian ia menatap sang suami dan menatap lekat wajahnya.


Melihat tatapan sang istri, Faraz menaik-turunkan kedua alisnya menunggu komentar apa yang akan sang istri lontarkan.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa menyangkalnya?"


"Kepedean!" Alia mencoba melewati Faraz untuk keluar. Namun Faraz segera menarik tangannya hingga membuat Alia terbentur ranjang bayi dimana baby Ziyan di baringkan.


"Apa kamu menyadari jika Zia dan Bryan tidak keluar dari ruangan itu?"


"Lalu?"


"Ck! Masa kamu tidak tau, Mereka pasti tengah menyelesaikan masalahnya sambil bercinta."


"Diiih dasar otak mesum!" Alia menepis wajah Faraz yang akan menci'umnya.


Faraz hanya terkekeh. Kemudian ia meraih tubuh Alia merapat padanya. "Maafkan Aku..."


"Apa Mas sempat melihatnya?"


"Melihat apa?"


"Melihat tubuhnya, Apa lagi?"


"Eumm... Sekilas."


"Iiihhh dasar nyebelin!" Alia kembali merajuk dan mendorong tubuh Faraz. Namun Faraz hanya tertawa dan kembali memeluknya.


__ADS_1


Tebar Racun Papa Bucin Gragas Dan Om Mesum 🤣


__ADS_2