
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, Pernikahan Bryan dan Zia kini menginjak 6 bulan. Tidak ada perubahan pada hubungan Bryan dan Zia, Justru mereka semakin mesra karena Faraz tidak lagi mencampuri rumah tangga mereka. Hingga sampai saat Bella pulang ke rumah dengan memperkenalkan Pria yang usianya sepantaran dirinya.
Bryan begitu terkejut dan kembali menenteng hubungan itu.
"Bella! Dia seumuran dengan Papah." ucap Bryan yang membawa Bella masuk untuk bicara secara pribadi. Sementara Pria itu masih berada di ruang tamu di temani oleh Zia.
"Lalu apa masalahnya Pah, Papah juga menikah dengan gadis seumuran Bella, Lebih muda malah."
"Papah tau Sayang, Tapi kamu tidak boleh sembarangan memilih pasangan, Kamu sudah selidiki statusnya? Apakah dia punya istri, Apakah dia duda, Punya anak dan sebagainya?"
"Tentu Bella sudah selidiki Pah, Dia duda cerai dengan satu anak, dan Anaknya di bawa sama mantan istrinya."
"Sayang, Itu beresiko, Bagaimana jika di kemudian hari mantan istrinya menjadi kerikil dalam pernikahan kalian?"
"Pah, Kenapa sih Papah selalu menentang keinginan Bella? Saat sama David, Papah menentang hubungan kami, Bella naksir Zayn Papah juga langsung melarangnya, dan sekarang Bella sudah yakin dan ingin menikah dengan Mas Rendra lagi-lagi Papah menentangnya, Kenapa sih Papah egois banget, Jika Bella bisa terima Zia jadi ibu kecil untuk Bella, Kenapa Papah tidak bisa menerima Mas Rendra menjadi menantu Papah, Sama-sama duda dan anak satu kaya Papah kan?"
Bryan terdiam menggelengkan kepalanya. Ntah kenapa ada perasaan tidak enak melihat gerak gerik Rendra sejak pertama kali ia menjabat tangannya.
Sementara di ruang tamu, Dengan tidak malu-malu layaknya calon menantu berkunjung ke rumah calon mertuanya, Rendra mengajak bicara Zia yang sejak tadi duduk diam dengan terus melihat-lihat kedalam.
"Jadi kamu Little Mom yang Bella ceritakan itu?" pertanyaan Rendra mengagetkan Zia yang tengah menantikan Bryan segera keluar dari dalam.
"Hah! E... Ya, Namaku Zia." dengan memberi jawaban singkat, Zia kembali melihat-lihat kedalam. Ntah kenapa perasaannya mulai tidak nyaman dengan tatapan Pria yang usianya sepantaran suaminya.
"Kamu sangat cantik, Lebih cantik dari yang Bella tunjukkan."
__ADS_1
Mendengar hal itu Zia begitu terkejut dan menatap Rendra yang tengah tersenyum menatapnya.
"E... A-aku akan memanggil Bella." dengan perasaan takut, Zia berlari meninggalkan Rendra hingga nyaris bertabrakan dengan Bella.
"Mommy Zia..."
"Bella..." Zia menatap suaminya yang berdiri di belakang Bella.
"Ada apa, Kenapa terlihat panik?" lanjut Bella.
"Tidak, Aku hanya ingin segera ke kamar mandi."
"Oh ya ampun Mommy, Bella pikir ada apaan."
Bryan yang merasa ada yang aneh dengan sikap Zia segera berlari menyusulnya.
Jebrettt...
"Ada apa Sayang?" tanya Bryan begitu menutup rapat pintu kamarnya.
"T-tidak, Aku hanya ingin ke kamar mandi." Zia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, Ia tidak ingin mengatakan keresahan hatinya karena ucapan Rendra. Ia ingin membuang jauh-jauh firasat itu, Ia tidak ingin hubungan Ayah dan anak menjadi tegang jika ia mengadukan apa yang membuat hatinya resah.
Zia berdiri di depan wastafel dan memejamkan mata mencoba menetralisir pikiran buruknya terhadap Rendra. Namun tiba-tiba Zia di kejutkan oleh tangan kekar yang melingkar di perutnya.
"Hagh!!" Zia langsung memutar tubuhnya dengan gerakan mendorong hingga pelukan itu terlepas.
__ADS_1
"Ada apa Sayang? Kenapa kamu terlihat begitu ketakutan?"
"Om..." Zia langsung berlari kecil memeluk Bryan.
"Ada apa, Kenapa kamu terlihat begitu resah, Apa yang terjadi?"
"T-tidak ada."
"Sayang jangan sembunyikan apapun dari ku."
"Aku hanya ingin berada di pelukan Om." Zia langsung membenamkan wajahnya di dada Bryan. Ia ingin mengungkapkan keresahan di hatinya. Namun ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Bella mengingat sulitnya mendapat restu dari Bella saat itu, Bahkan ia harus berpisah terlebih dahulu dengan Bryan baru Bella mengizinkan ia menikahi Papahnya.
"Jangankan pelukan, Lebih dari pelukan juga akan Aku berikan," ucap Bryan mengurai pelukannya dengan senyum menggoda.
"Om, Aku sedang tidak mood, Jangan lakukan ini." Namun Bryan tidak peduli apa yang Zia katakan dan mulai menciumi rahang bawahnya hingga Zia menengadahkan kepalanya ke atas.
"Om, Di luar juga ada Bella dan kekasihnya."
"Lalu kenapa, Bella juga tidak mendengar pendapat Papahnya." Bryan terus melanjutkan sapuan bibirnya sambil mengangkat tubuh Zia dan mendudukkannya di wastafel. Tangannya mulai aktif menurunkan dress bermodel kerut di bagian dada yang Zia kenakan. Zia yang awalnya merasa resah dan tidak bergair'ah tidak dapat menolak sentuhan-sentuhan yang Bryan berikan hingga membuat seluruh tubuhnya menggelinjang hebat seperti yang selalu Bryan berikan padanya. Sementara Bryan yang masih belum mencapai puncaknya menurunkan tubuh Zia dan membuatnya menghadap ke cermin.
Pantulan wajah sensual Zia yang tenfah menikmati sisa-sisa kenikmatannya membuat Bryan semakin bergair'ah dan mempercepat hentakannya hingga tak lama kemudian Bryan menegang dan memeluk tubuh mungil Zia dengan membenamkan wajahnya di punggungnya.
Bersambung...
Tipis-tipis aja, Biar gak di katain nganu terus wkwkwk 😜🔥
__ADS_1