
Setelah Bella dan bayinya di pindahkan ke ruang rawat inap,
Bryan berpamitan dan meminta Bimo untuk selalu siaga mendampingi Bella.
"Baiklah, Jaga Bella dan cucu ku dengan baik," ucap Bryan mengakhiri nasehatnya.
"Iya Pah." jawab Bimo singkat.
Kemudian Bryan kembali menatap cucu lelakinya sesaat kemudian mendekati Bella.
Bella yang masih merasa berat di tinggal oleh papahnya terus memegangi tangannya.
"Besok Papah kesini lagi, Sekarang sudah malam, Kasihan Mommy Zia, Dia juga sedang membutuhkan Papah," ujar Bryan membujuk Bella.
"Janji ya Pah pagi-pagi Papah kesini lagi."
"Iya, Papah usahakan ya."
Bella menganggukkan kepalanya dan membiarkan papahnya pergi.
Setelah melihat kepergian Ayah mertuanya Bimo mendekati Bella dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Lepasin!" ucap Bella yang masih merasa kesal.
"Loh kenapa kok masih marah, Bayi kita kan sudah lahir."
"Kamu tuh nyebelin tau nggak, Bukannya bikin semangat, Bikin Aku kuat, Malah heboh sendiri."
"Hehehe... Maafkan Aku Sayang, Aku terlalu bersemangat." ujar Bimo sembari mendekap Bella ke sisinya.
"Hey hey hey... Tunda dulu mesra-mesraannya."
Bimo dan Bella terkejut melihat Zayn yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Zayn...!" Bimo langsung turun dari ranjang dan berlari memeluk sahabatnya itu.
"Iiih apaan sih peluk-peluk, Geli tau nggak." ujar Zayn menepis tangan Bimo. Namun Bimo yang jail kembali memeluk Zayn bahkan mengecup pipinya.
"Hiiihhh... Pakai cium-cium lagi, Kalau begini Aku harus membersihkannya dengan air dan tanah dong." ujar Zayn sembari mengusap-usap kasar pipinya.
"Sembarangan emangnya Aku najis mughalladzah yang harus di cuci dengan air tujuh kali yang salah satu bilasannya harus menggunakan tanah."
Bella menahan tawanya melihat Bimo dan Zayn yang masih saja tidak berubah meskipun mereka sudah sama-sama telah menjadi seorang Ayah.
•••
Sesampainya di rumah, Bryan yang melihat suasana rumah sudah sepi, Langsung menuju kamar.
Dengan sangat hati-hati Bryan membuka pintu agar tidak menganggu Zia tidur. Namun begitu ia masuk tak melihat Zia berada di ranjangnya.
"Kemana Zia, Apa dia ke kamar mandi lagi?" batin Bryan yang kemudian memutar tubuhnya untuk memeriksa kamar mandi.
"Dorrr...!!!" triak Zia mengagetkan Bryan yang baru menoleh ke belakang.
Zia terkekeh melihat Bryan yang terlihat begitu kaget karena nya.
Melihat senyuman Zia yang sejak beberapa hari ini tidak ia lihat, Bryan tersenyum lega dan tak hentinya menatap Zia.
"Kenapa Babe menatap ku seperti itu?" tanya Zia sembari terus mengayunkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Kamu sudah tidak merasa mual lagi saat dekat dengan ku?" tanya Bryan memegang kedua bahu Zia untuk berdiri tegap menatap dirinya.
Zia mengembang kempiskan hidungnya dan mendekat untuk mengendus-endus tubuh Bryan.
Bryan mengernyitkan keningnya melihat ulah sang istri.
Kemudian Zia mengangkat wajah dan mendongakkan kepalanya menatap Bryan.
__ADS_1
Bryan menaikan kedua alisnya berbarengan dengan dagunya untuk isyarat pertanyaannya pada Zia.
Zia yang memahami maksud Bryan tersenyum menggelengkan kepalanya.
Mendapat jawaban sesuai yang ia harapkan, Bryan tersenyum lebar dan langsung mengangkat tubuh Zia dan membaringkannya di ranjang. Zia tidak melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher Bryan seolah tidak ingin Bryan menjauh darinya.
Seperti halnya Zia, Bryan pun menikmati itu dan terus menatap lekat sang istri yang juga terus menatapnya.
Perasaan rindu yang mereka rasakan setelah beberapa hari tidak bisa berdekatan membuat keduanya kini meluapkan rasa rindu mereka.
Entah siapa yang memulai, Kini keduanya telah bercu'mbu dengan penuh gair'ah. Tidak melepaskan tautan bibirnya, Bryan meraih tubuh mungil Zia dan membuatnya duduk di pangkuannya.
Posisi tubuh Zia yang sedikit lebih tinggi dari Bryan membuat Bryan sedikit menengadah kepalanya ke atas.
Puas melu'mat bibir Bryan, Zia menurunkan kecupannya ke leher Bryan dan meninggalkan beberapa jejak merah di sana. Tidak mau tinggal diam kedua tangan Zia membuka satu persatu kancing kemeja Bryan kemudian menci'umi dadanya yang bidang.
Bryan terus menikmati permainan Zia yang semakin liar dengan mendorong tubuhnya hingga terbaring. Kemudian dengan cepat Zia menurunkan celana yang Bryan kenakan dan melu'cuti pakaiannya sendiri. Setelah itu Zia kembali naik ke atas tubuh Bryan untuk mulai melakukan penyatuannya.
"Sssshhh... Akkkhhh..." secara bersamaan mereka mende'sah lirih menikmati penyatuannya.
Setelah mendiamkan beberapa saat, Zia mulai menaik turunkan tubuhnya. Secara teratur pergerakan Zia semakin lama semakin cepat hingga membuat Bryan merasa khawatir dengan bayi yang tengah Zia kandung.
"Sayang... Hati-hati... Ahhh..."
"Tenanglah Babe... Akkkhhh... Akkkhhh... Akkkhhh..." Zia terus menaik turunkan tubuhnya dengan sesekali membuat gerakan memutar.
Bryan pun tidak hanya diam menikmati, Dengan penuh tenaga Bryan menghentakkan pinggulnya sehingga Zia semakin meracau tak karuan. Hingga beberapa menit kemudian tubuh Zia menegang dan tumbang ke atas tubuh Bryan.
Tubuh penuh peluh yang membasahi tubuh keduanya tidak menjadi masalah untuk mereka.
Mereka terus saling memeluk erat menikmati sisa-sisa percintaan mereka yang sudah beberapa hari ini tidak mereka lakukan.
📌 Terakhir Update komen sepi, Jadi males lanjut lagi.
__ADS_1
Kalau ini sepi juga, Update nya ya kapan-kapan lagi, Kalau Author kangen Om Bryan aja 🤣