
Faraz menatap Alia yang baru keluar dari kamar mandi.
Ia langsung mendekati sang istri dan menanyakan tentang kepergian Bryan dan Zia.
"Apa kamu mengetahui jika Bryan dan Zia meninggalkan rumah?"
"Tidak, Memang kemana mereka?"
"Alia jangan berpura-pura, Sejak sore kamu menahan ku di kamar, Pasti kamu sengaja kan agar saat mereka pergi Aku tidak tau?"
"Aku benar-benar tidak tau Mas, Aku menahan mu hanya agar kamu tidak menganggu mereka."
"Kenapa kamu lakukan ini Alia?"
"Mas mereka sudah menikah, Zia bukan hak kita lagi, Sekarang suaminya lebih berhak atas dirinya jadi bersikaplah seperti mertua pada umumnya."
"Alia Aku hanya takut Zia kesakitan karena kebuasan Singa lapar itu."
"Kenapa terus berfikir kesitu, Zia akan merasa sakit sebentar selebihnya Dia akan merasa bahagia karena telah bersama kekasih yang begitu ia cintai."
Faraz terdiam tak bisa lagi menjawab ucapan Alia.
"Bersiaplah, Kita pulang, Berhenti menguntit putri mu."
__ADS_1
Faraz menarik nafas dalam-dalam. Hatinya masih belum sepenuhnya rela jika harus berjauhan dengan putri kesayangannya.
•••
Bryan menyusul Zia ke kamar mandi dan melihat Zia tertidur di dalam bathtub dengan posisi kepala menengadah di tepian bathub. Bryan terseyum mendekati Zia dan mengecup lembut keningnya.
Kecupan itu membuat Zia terusik dan membuka matanya.
Zia menarik ujung bibirnya sedikit menatap Bryan yang tersenyum tepat berada di depan wajahnya.
"Kamu tertidur?"
"Aku ngantuk sekali."
kecupan hangat bibir Bryan dan sapuan hidung mancungnya membuat Zia meremang dan mulai meliukan tubuhnya di dalam air yang kini tidak lagi hangat.
Bryan membuat tubuh Zia bersandar di dada atletisnya.
Dengan terus menelusuri bawah telinganya kedua tangan Bryan sudah meremad kedua buah kenyal yang begitu pas dalam genggamannya.
"Ahhhh..." lirih Zia memejamkan mata menikmati tangan kekar sang suami yang sesekali memilin pucuk buah kenalnya.
Mendengar desa'han kecil sang istri, Bryan meraih wajah Zia dan mereampas bibir yang mengeluarkan suara yang membuatnya semakin berga'irah. Dengan buas Bryan menyesap bibir ranumnya yang selalu menjadi candunya sejak mereka resmi berpacaran.
__ADS_1
"Om... Eummhhh.." decapan demi decapan memenuhi kamar mandi yang kini terasa menjadi begitu panas. Bryan begitu piawai memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Zia selalu merasa tubuhnya berdesir hebat merasakan sentuhan Bryan entah itu dari tangannya, Lidahnya terlebih senjatanya.
Memikirkan hal itu Zia tersentak melihat air bathub yang tiba-tiba surut. Ia menoleh menatap Bryan.
Bryan terseyum dan berdiri dengan tubuh polosnya yang membuat Zia langsung memalingkan wajahnya. Kemudian Bryan mengangkat tubuh sang istri keluar dari bathub dan menurunkannya di bawah shower yang mengalir.
Bryan memeluk erat tubuh Zia dari belakang dan membuatnya sama-sama menengadahkan kepalanya keatas guyuran air yang mengalir. Keduanya memejamkan mata menikmati kebersamaan mereka yang terasa begitu menenangkan bagi keduanya. Kemudian Bryan menyabuni tubuh sang istri seperti seorang Ayah memandikan anaknya. Menggosok setiap inci tubuhnya membuat senjatanya semakin menegang sempurna. Namun mengingar sang istri yang mengeluh kesakitan membuat Bryan membiarkannya dan hanya benar-benar memandikannya.
Setelah selesai mandi bersama mereka memesan makanan untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Dalam balutan bathrobe keduanya duduk di atas ranjang sambil menikmati makanan yang mereka pesan. Sesekali Bryan menyuapi Zia dengan penuh kasih sayang. Bryan benar-benar memperlakukan Zia dengan begitu baik hingga membuat Zia tidak merasakan perpisahannya dengan keluarganya.
Bryan membersihkan sisa makanan di ujung bibir Zia dengan menyapukan lidahnya hingga membuat Zia mematung seketika.
Hal itu membuat Bryan tertawa melihat mimik wajah Zia yang terlihat begitu menggemaskan baginya.
"Kamu sangat menggemaskan Zia, Jika kamu tidak mengeluh sakit, Aku sudah kembali menerkam mu." Bryan mengecup bibir Zia sekilas.
•••
Dengan terpaksa Faraz telah meninggalkan rumah Bryan dan kini berada di kantor. Namun ia tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya karena memikirkan nasib sang putri yang berada di tangan singa buas seperti yang selalu Faraz katakan. Sejak Zia masih kecil hingga Zia dewasa Faraz paling tidak bisa melihat putri kesayangannya terluka. Apalagi sampai tidak bisa jalan seperti yang Bryan katakan hal itu terus menganggu pikirannya dan ingin segera menemui putrinya. Namun ia tidak tau kemana Bryan membawa putrinya pergi.
"Apa Aku harus mendatangi semua apartemennya agar Aku bisa menemukannya?" batin Faraz.
__ADS_1
Bersambung...