Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Extra Bab


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, Maryati dan Lely menjalani pekerjaannya sesuai aturan yang Zia berlakukan. Begitu pun dengan Bryan yang harus menyembunyikan wajahnya ketika tak sengaja berpapasan dengan mereka. Namun yang namanya masih tinggal satu rumah, Tentu hal itu sulit di hindari sehingga mereka seringkali berpapasan atau bersama ketika Bryan sedang ingin melihat putri kembarnya di kamar. Pake masker setiap hari di dalam rumah itupun tidak mungkin. Terlalu ribet jika Bryan harus pasang lepas Masker cuma karena menghindari mereka. Ia jadi tak leluasa bermain dan menci'umi kedua putrinya kapanpun Bryan ingin.


"Argh! Aku tidak bisa seperti ini terus," batin Bryan yang yang tidak lagi mau memasang maskernya setelah menci'um kedua bayi kembarnya.


Setelah Bryan keluar kamar, Maryati dan Leli menertawakannya.


"Heran banget sama Tuan Bryan, Nurut banget sama istri." ujar Maryati.


"Gimana nggak khawatir, Orang suaminya ganteng gitu." saut Leli yang memang sudah seringkali melihat Bryan tidak memakai masker tanpa sepengetahuan Zia.


Dari lantai bawah, Zia yang melihat Bryan baru keluar dari kamar si kembar tanpa mengenakan maskernya, Langsung panik dan berlari ke atas.


"Babeee..."


Bryan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Dimana masker Babe, Kenapa tidak di pakai?"


Bryan menarik nafas dalam-dalam dan meraih tubuh Zia ke sisinya.

__ADS_1


"Zia Aku merasa bosan dengan peraturan ini." ucapnya lembut.


"Apa maksud Babe bilang bosan?" tanya Zia yang merasa kecewa mendengar apa yang Bryan katakan.


"Jangan salah paham sayang, Maksud ku begini, Ini rumah kita dan anak-anak kita, Tempat ternyaman dari tempat di manapun di seluruh dunia, Tapi jika Aku harus selalu pake masker dan mengikuti semua peraturan mu hanya karena rasa khawatir mu, Itu membuatku tidak nyaman."


Zia terdiam mematung dengan wajah sedih dan serasa ingin menangis saat itu juga.


"Sayang... Aku tau kekhawatiran mu, Tapi jika kamu terus bersikap posesif seperti ini, Itu tidak akan baik untuk hubungan kita, Kita tidak bebas di rumah sendiri hanya karena rasa khawatir mu yang berlebihan."


"Apa Aku salah, Aku hanya ingin menghindari hal-hal yang tidak di inginkan."


"Aku percaya padamu, Tapi Aku tidak percaya dengan mereka."


"Jika kamu tidak mempercayai mereka, Untuk apa kamu mempercayakan putri kita pada mereka?"


Zia terdiam tak dapat berkata-kata.


"Zia, Perselingkuhan terjadi jika kedua belah pihak sama-sama mau, Sekuat apapun wanita ingin merusak rumah tangga orang jika si lelaki tidak meresponnya, Maka tidak akan terjadi perselingkuhan dan itu sudah terbukti saat Rina menginginkan ku."

__ADS_1


Zia menatap Bryan, Mencerna semua yang baru saja Bryan katakan.


"Sayang... Aku sangat mencintai mu, Aku tidak mungkin berpaling darimu, Apalagi dengan pengasuh putri kita."


Mendengar itu Zia luluh dan langsung memeluk Bryan. Ia menyadari jika perkataan Bryan memang benar, Ia terlalu berlebihan membuat peraturan sehingga membuat suaminya merasa terkekang.


"Jadi sekarang Aku sudah boleh membuang masker ini?" tanya Bryan melepas masker yang ada di lehernya.


Zia mengangguk setuju dengan senyum tipisnya.


"Nah gitu dong, Kamu ini begitu cantik, Kecantikan mu tidak ada yang menandingi jadi untuk apa khawatir suami tampan mu ini akan berpaling darimu?"


Zia begitu berbunga dan menyandarkan kepalanya di pundak Bryan yang merangkulnya dengan langkah beriringan menuju kamar pribadinya.


📌 Halo-halo... Seberapa banyak yang masih nungguin?


Nih kalau seumpama Author bikin Sekuel Anak-anak Om Bryan, Enaknya lanjut di sini Ama di pisah?


Yuk Ahh tulis saran kamu di kolom komentar, Jika banyak yang antusias, Author bikinin, Kalau sepi gak jadi, Dan Om Bryan cukup sampai di sini dan gak Up lagi 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2