
Zia masih terus mendapat serangan dari Bryan yang seolah ingin mengganti semua hari yang di lalui tanpa bertemu Zia,
Seumpama dirinya adalah makanan pasti Zia telah habis tak tersisa.
"Om harus melunasi semua hutang kepada mu karena seminggu lebih Om tidak mencium mu," ucap Bryan di sela-sela ciu'man nya yang kini telah sampai di bulatan kenyal yang masih terhalang seragam sekolahnya.
Zia yang sudah begitu terbuai dengan sentuhan ganas Om Duda sudah terlihat begitu berantakan dengan rambutnya yang acak-acakan, Seragam sekolah yang hampir terlepas kancingnya karena dadanya yang terus membusung seakan meminta lebih dari yang saat ini Om Bryan berikan.
Sementara rok mini semakin tersingkap karena pinggulnya yang terus meliuk kesana kemari menahan denyutan di bawah sana yang semakin penasaran bagaimana rasanya benda keras yang tadi ia pegang menembus miliknya.
Baru saja Zia memikirkan hal itu, Bryan meraih tangan Zia dan kembali mengarahkannya ke miliknya.
"Kamu bisa masuk kedalam jika menginginkannya," bisik Bryan dengan suara yang sudah di kuasai bira'hinya.
Seketika Zia membelalakkan matanya. Jangankan masuk ke dalamnya seperti apa yang Om Bryan katakan, Memegang dari luar saja membuat Zia begitu gemetar karena merasakan betapa besar dan kerasnya benda yang terlihat begitu sesak di dalam celana yang Om Bryan kenakan.
Bryan hanya tersenyum dan menyesap bibir Zia sekilas dan menatap wajah polos kekasih kecilnya.
Kemudian Bryan turun dan menarik kaki Zia dan menciumi pahanya yang nyaris tersingkap sampai ke pangkal paha.
Zia semakin seperti cacing kepanasan merasakan gesekan bulu-bulu halus di wajah Om Bryan yang menyapu pahanya.
Rasanya sudah tak tahan lagi ingin menyerahkan segalanya untuk kekasih dudanya. Namun kenikmatan itu terhenti saat dering telepon menganggu kesenangan mereka.
Om Bryan menghentikan aktivitasnya dan mengambilkan ponsel Zia tanpa mengeluh, Kemudian menyerahkan kepadanya.
"Hallo Sayang..." terdengar suara Faraz dari balik telpon.
"Ya Pa."
"Hari ini Papa pulang larut, Jadi kalau Zia pulang makan malam sama Mama aja, Jangan tunggu Papa, Oke?"
"Baiklah Pa, Bye..."
Zia menutup ponselnya dan menatap Om Bryan dengan tegang.
__ADS_1
"Ada apa Sayang, Apa yang Papa Faraz katakan?"
"Papa bilang, Papa akan pulang larut, Jadi..."
"Jadi waktu kita masih banyak?" saut Bryan yang langsung meraih tubuh gadis kecilnya duduk di atas tubuhnya. Sementara dirinya berbaring memandangi gadis cantiknya yang membuatnya tidak sabar lagi ingin kembali merasakan kenikmatan surgawi yang sudah lama tidak ia nikmati.
"Om..." Zia semakin tidak bisa duduk diam merasakan miliknya yang juga seakan tak sabar ingin merasakan bagaimana rasanya saat pertama kalinya di masuki milik Om Bryan yang selalu membuatnya susah menelan salivanya saat ia membayangkan bagaimana bentuknya.
"Lakukan Sayang, Kita main dari luar."
"Hah!" Zia yang masih dengan fikirannya tersentak mendengar apa yang Om Bryan katakan.
Tidak menunggu Zia faham apa yang baru saja ia katakan, Om Bryan meraih bo'kong Zia dan membuatnya duduk tepat berada di atas miliknya yang telah menegang sempurna sejak tadi. Kemudian Bryan memegang kedua paha Zia mengajarinya memaju mundurkan pinggulnya.
"Seperti itu Sayang, Ayolah bantu Om, Om tidak tahan lagi Sayang, Ssshhh Hoghhh."
Melihat wajah Om Bryan yang terlihat begitu seksi saat menginginkan hal itu, Dengan sendirinya Zia mulai mengikuti apa yang kekasih dudanya ajarkan. Meskipun sama-sama masih menggunakan pakaian lengkap namun dari lagging pendek berenda yang Zia kenakan Zia dapat merasakan belahan miliknya menggesek benda keras milik Om Bryan.
"Ya, Seperti itu Sayang, Ahhh..."
"Akhhhhh... Om, Akhhhhh..."
Bryan terseyum meraih wajah Zia yang terlihat memerah eksotik di iringi desa'han kenikmatan yang belum seberapa ini.
Zia membuka satu persatu kancing kemeja Om Bryan saat membayangkan pertama kalian ia melihat Om Bryan bertelanjang dada saat ia melihatnya di pantai. Kemudian Zia menelusuri dada bidang Om Bryan dengan jari jemarinya yang lentik. Tidak puas dengan jarinya, Zia mulai mengecup setiap inci dada Om Bryan dan menggelitik put'ing nya dengan lidahnya.
"Oughhh Baby, Kamu lebih pintar dari yang ku bayangkan." Om Bryan semakin merasa senang gadis cantiknya semakin menunjukkan kenakalannya di atas ranjang melebihi apa yang ia ajarkan.
Mendengar hal itu Zia semakin bersemangat mengesap put'ing Om Bryan di barengi dengan milik keduanya yang tidak bisa diam mencari kenikmatan dari dalam pakaian yang masih menghalangi tubuh keduanya.
Setelah merasa puas Bryan membalikkan tubuhnya dan menjadikan dirinya kini berada di atas Zia yang terlihat semakin tak berdaya.
"Ini tak adil bukan, Kini giliran Om menyesap betapa nikmatnya kedua bulatan kenyal yang indah ini" Bryan mulai mengusap-usap kedua bulatan kenyal Zia dengan gerakan memutar.
"Om... Akhhh..." Zia semakin tak terkendali menginginkan hal yang lebih lebih lagi. Namun Om Bryan tiba-tiba menghentikan aksinya dan tidak jadi membuka kancing seragam sekolah Zia.
__ADS_1
Zia membuka matanya menatap Om Bryan yang sudah duduk dengan tangan bertumpu pada kedua lututnya.
Dengan perasaan bingung, Zia duduk memegang lengan Om Bryan.
Bryan terseyum dan meraih tubuh Zia ke pelukannya. Kemudian mengecup pucuk kepalanya.
"Kita akan menyelesaikannya setelah pernikahan, bersabarlah."
"Om kan yang mulai duluan." protes Zia untuk menutupi rasa malunya.
"Ya Om tau, Om minta maaf, Om benar-benar menggila saat di dekatmu, Tapi setiap kali Om ingin melakukan lebih, Om selalu mengingat Bella."
Zia terhenyak mendengar apa yang Om Bryan katakan.
"Om memiliki anak gadis, Bagaimana jika Om melakukan ini pada mu sebelum menikah dan seseorang melakukan hal yang sama pada Bella, Om tidak ingin itu terjadi, Maka dari itu sebelum pernikahan Om tidak akan melakukan hal yang lebih dari ini."
Zia terseyum dan memeluk Om Bryan dengan manja. Meskipun ia sudah sangat menginginkannya. Namun Zia bahagia dengan keteguhan Om Bryan yang tidak mau melakukannya sebelum ia menikah.
"Ayo rapikan diri mu, Om antar pulang."
Zia mengangguk patuh dan beranjak dari ranjangnya untuk merapikan seragamnya yang begitu kusut.
"Kamu bisa pake baju Bella kalau mau."
"Nggak ah, Ntar Mama curiga Zia habis ngapa-ngapain."
"Bilang aja habis kursus." bisik Bryan sambil memeluknya dari belakang.
"Kursus mesum, Dasar Om gadun!" Zia menyikut perut Bryan yang hanya mengenakan kemeja tanpa satu kancing pun yang terpasang.
"Zia juga suka kan? Malah Zia lebih nakal dari yang Om ajarkan."
"Udah Akh, Ayo pulang." Zia langsung keluar meninggalkan Om Bryan untuk menghindari Om Bryan melihat wajahnya yang memerah.
__ADS_1