Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Mengsedih


__ADS_3

Dengan tangisnya Bella meninggalkan Papahnya dan mengurung diri di kamar. Bella tidak tau perasaan yang saat ini Ia rasakan, Yang Bella tau Papahnya sedang berpura-pura bahagia di depannya.


Bryan hanya bisa terdiam, Ia tidak tau lagi bagaimana caranya meyakinkan Bella jika Cintanya pada Zia tidak mengurangi kasih sayangnya padanya.


Kemudian Bryan pergi ke kamarnya dan memejamkan mata untuk mengurangi beban fikirannya.


Menahan rasa rindu terhadap kekasih kecilnya yang paling sulit Ia lakukan, Namun Ia melakukannya demi mendapat kepercayaan Bella, Dengan harapan jika Ia berhenti menemui Zia maka Bella juga akan berhenti menemui David, Bryan tau betul jika dasarnya Bella hanya merasa cemburu dengan kehadiran Zia yang usianya lebih muda darinya sehingga Bella sulit menerimanya.


•••


Di rumahnya Zia juga tengah mengurung diri di kamar dengan terus menangisi keputusan sepihak Om Bryan, Hari-hari indah yang terlihat semakin dekat, Kini tiba-tiba menjauh tanpa Zia tau alasan yang sebenarnya.


Faraz yang tengah makan malam bersama Alia dan Zayd merasa khawatir karena sejak pulang, Zia tidak juga turun dari kamarnya.


Kemudian Faraz memutuskan untuk melihat putri kesayangannya ke kamar. Dengan mengetuk pintu, Faraz memanggil Zia dengan lembut.


Zia yang mendengar suara Papanya segera menghapus air matanya dan beranjak membuka pintu. Namun Zia tidak bisa menyembunyikan matanya yang sembab akibat menangis seharian.


"Apa yang terjadi sayang?"


"Tidak Pa." elak Zia memalingkan wajahnya.


"Sayang, Apa Bryan menyakitimu?"


"Tidak Pa, Ini tidak ada hubungannya."


"Jangan bohong Zia, Tidak ada alasan lain untuk kamu tangisi selain Om Bryan mu itu!"


"Pa, Mungkin Om Bryan hanya butuh waktu, David datang di antara kami jadi hubungan kami semakin rumit."


"Apa maksudmu, Apa David masih mengganggumu?"

__ADS_1


"Tidak Pa, Tapi Dia menjalin cinta dengan putri Om Bryan, Hal itu membuat..." belum selesai Zia bicara, Faraz meninggalkan kamar Zia.


Alia dan Zayd melihat Faraz turun dengan kesal dan mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan rumah.


"Apa yang membuat Papa mu marah?" tanya Alia.


"Entahlah, Akan ku tanyakan pada Zia." Zayd bergegas naik ke atas.


•••


Di tengah malam, Faraz menyusuri jalan menuju rumah Bryan, Rasanya tidak bisa lagi menunngu hari esok untuk memberinya pelajaran karena telah membuat putri kesayangannya menangis.


Dengan kecepatan tinggi akhirnya tidak lebih dari 30 menit mobil Faraz sampai di rumah Bryan. Ia segera turun dan menggedor-gedor pintu rumahnya.


BHRUKKK... BHRUKKK... BHRUKKK...!!!


Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya.


Namun dengan tidak sabaran Faraz langsung menerobos masuk dan berteriak memanggil nama Bryan.


Bryan segera bangkit dari ranjangnya dan meninggalkan kamar melihat siapa yang memanggilnya di tengah malam.


Faraz yang melihat Bryan dari bawah, Dengan tidak sabarannya berlari ke atas dan langsung menarik kerah baju Bryan dan menyeretnya turun.


"Berrraninya Kau membuat putriku menangis karena anak ingusan itu, Dasar pengecut, BHUG!" satu tonjokan keras mendarat di pipi Bryan hingga mengeluarkan darah di ujung bibirnya.


Bryan segera berdiri sembari memegangi mengusap darah yang keluar menggunakan ibu jarinya.


"Apa kamu tidak merasa malu dengan usia mu, Sehingga Kamu langsung melepaskan cintamu karena taktik kotor anak sialan itu?"


"Bisa kita bicara baik-baik?" tanya Bryan dengan pembawaannya yang tenang.

__ADS_1


"Aku tidak bisa bicara baik-baik kalau menyangkut putriku!"


"Baiklah, Dengarkan Aku dengan berdiri seperti ini saja,"


Dengan nafas naik turun, Faraz melirik dengan kesal.


"Kita orang dewasa dan Dia hanya Anak-anak, Jika Dia bermain licik maka kita harus bermain cerdik, Aku bisa saja menghabisinya saat pertama kali Dia menyentuh Zia, Tapi apa yang terjadi setelah itu?"


Mendengar itu rasanya Faraz juga ingin menghabisi David yang telah berrani menyentuh putri kesayangannya.


"Dan untuk masalah Aku tidak menemui Zia, Bukankah itu juga keinginanmu?"


"Jangan melemparkan kesakahan mu kepada ku! Saat itu kamu bilang akan terus menemuinya!"


"Ya itu benar, Tapi setelah Aku pikir-pikir keputusan mu juga benar."


"Jangan berputar-putar Bryan, Katakan alasan sebenarnya, Kenapa kamu membuat putriku menangis dan apa ini ada hubungannya dengan anak sialan yang memacari anak mu?"


Bryan menghelai nafas dalam-dalam.


"Faraz, Kita adalah orang tua dari anak gadis yang harus benar-benar kita jaga, Sekarang katakan pada ku, Apa yang akan kamu lakukan jika ada seseorang mengancam akan merenggut kesucian putrimu? Bukan merenggut dengan paksa Faraz, Tapi putrimu yang akan menyerahkan kesuciannya dengan segala tipu dayanya."


"Jadi kamu takut dengan ancamannya?"


"Ya, Awalnya Aku begitu shock dengan apa yang David ucapkan, Aku tidak menyangka anak seusianya sudah berfikir serendah itu untuk mendapatkan apa yang Dia inginkan, Tapi setelah Aku pikir lagi, Tidak ada gunanya melawannya dengan otot ataupun adu bacot,


Maka dari itu Aku putuskan untuk merebut hati putri ku kembali, Karena kunci utamanya adalah putriku sendiri, Jika Aku bisa menguasai putriku maka semua masalah akan mudah di atasi."


"Tapi Kamu menyakiti putriku! Jika kamu tidak menemui Zia untuk merebut hati putrimu kembali setidaknya katakan padanya, Zia pasti akan memahami kesulitan mu."


"Tidak! Aku memang sengaja melakukannya, Aku tidak ingin mengatakan kenapa Aku melakukan ini, Aku ingin memberi ruang pada Zia dan padamu juga, Barangkali setelah Aku menjauh darinya dia mendapat Pria lain yang sepadan dan seumuran dengan nya." Bryan menunduk sedih menahan betapa sakitnya mengatakan itu. Tapi itu terpaksa Ia lakukan demi kebaikan bersama, Karena selama putrinya tidak menerima Zia, Akan sulit untuk mereka berdamai dalam satu rumah.

__ADS_1


Faraz terhenyak mendengar ucapan Bryan, Meskipun Ia terpaksa menyetujui hubungannya dengan putrinya, Tapi mendebgar Bryan mengatakan itu hatinya seolah tak dapat menerimanya.


Bersambung...


__ADS_2