Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Khawatir


__ADS_3

Dari kamarnya Zia yang mendengar deru mobil langsung berlari mendekati jendela. Ia melihat Bella berada di dalam mobil Rendra dan bersiap meninggalkan rumah. Karena merasa khawatir Zia segera berlari ke bawah dan mengambil kunci mobil untuk mengikuti mereka.


Meskipun selama ini Zia belum pernah membawa mobil sendiri. Namun karena rasa khawatirnya pada putri sambungnya membuat Zia tidak berfikir panjang untuk mengendarai mobil sendiri.


Zia terus memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi mengikuti mobil Rendra yang semakin melesat jauh meninggalkan pemukiman dan masuk ke jalan besar. Dengan kemampuan menyetir seadanya Zia terus berusaha mengikuti mobil Rendra tanpa mau kehilangan jejaknya.


Sementara Bryan tengah merasa khawatir karena berkali-kali menghubungi Zia tidak ada jawaban darinya. Kemudian ia mencoba menelfon rumah untuk menyatakan keadaan Zia kapasa asisten rumah tangganya.


"Sebentar Tuan, Saya lihat ke kamarnya dulu," ucap Bi Lastri beranjak pergi ke kamar Zia. Namun Bi Lastri tidak menemukan Zia berada di kamar dan hanya melihat ponselnya saja yang tergeletak di atas ranjang. Dengan cepat Bi Lastri berlari mengambil gagang telepon yang sejak tadi menunggu jawaban darinya.


"Hallo Tuan..."


"Bagaimana Bi?"


"Tuan, Non Zia tidak ada di kamarnya."


"Apa! Kemana dia, Bukankah dia tidak kuliah? Kalau Bella apakah dia ada di rumah?"


"Non Bella keluar bersama Tuan Rendra, Tapi kalau Non Zia Saya tidak melihat Tuan, Saya sibuk di dapur, Sementara yang lain sibuk dengan pekerjaannya masing-masing."


"Tanyakan ke Supir atau Satpam dan lihat apa ada salah satu mobil yang tidak ada di garasi?"


"Baik Tuan sebentar." Bi Lastri langsung berlari keluar untuk menanyakannya kepada Satpam.


"Kemana kamu Sayang, Jangan membuat ku khawatir," ucap Bryan mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Setelah menunggu lebih dari sepuluh menit, Bi Lastri kembali mengambil gagang telepon dan meletakkan di telinganya.


"Tuan, Kata Satpam Non Zia pergi terburu-buru mengejar mengikuti mobil Tuan Rendra."


"Apa maksudnya terburu-buru, Apa supir tidak mengantarnya?"


"Satpam bilang tidak, Satpam sudah mencoba menghentikan mobil Non Zia, Tapi Non Zia tidak menghiraukan panggilannya."


"Jika terjadi sesuatu pada Zia, Kalian semua akan ku pecat!" Bryan menutup panggilannya dengan kesal. Kemudian ia mencoba menghubungi Bella.


"Sebentar ya Mas," ucap Bella mengambil ponsel di tasnya.


"Biarkan saja Sayang, Sudah berapa kali Aku bilang, Jangan angkat telepon dari siapapun jika sedang bersama ku."


"Tapi Mas, Takutnya ini penting."


Bella terdiam mendengar pertanyaan Rendra.


"Sudahlah Sayang kita mau bersenang-senang lupakan semua orang-orang yang menganggu kesenangan kita, Hmm?"


Bella mengangguk pelan san kembali duduk dengan benar tanpa mempedulikan ponselnya yang terus berdering.


"Bellaaaa..!!!" Bryan menonjok meja kaca hingga pecah berkeping-keping. Setelah merasa cukup tenang Bryan mulai berfikir dan mendapat ide, Bryan mulai melacak keberadaan Bella melalui nomer telpon nya.


Sementara Zia hampir saja bertabrakan dengan pengendara lain dari arah berlawanan. Jantungnya benar-benar berdebar ketakutan, Kaki dan tanganya terasa gemetar. Namun rasa khawatirnya pada Bella membuatnya nekat melanjutkan pengejarannya untuk terus membuntuti kemana Rendra akan membawa anak sambungnya tersebut.

__ADS_1


"Aku tidak boleh kehilangan jejak mereka, Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bella, Aku akan sangat merasa bersalah kepadanya." Zia terus menghawatirkan Bella meskipun Bella sama sekali tidak peduli dengan kecurigaannya.


Setelah perjalanan lebih dari satu jam, Rendra memarkirkan mobilnya di salah satu rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan.


"Mas, Ngapain kita kesini?" tanya Bella sedikit tegangan.


"Ke rumah temen Mas dulu, Mas ada urusan sebentar,"


Tanpa bertanya lagi, Bella mengangguk turun dan mengikuti Rendra yang mengajaknya masuk kedalam.


Sedangkan Zia yang ada di dalam mobil mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang. Namun ia baru tersadar jika dirinya tidak membawa ponsel.


"Sekarang Aku harus bagaimana?" Zia meremad rambutnya dengan frustrasi.


Sementara di dalam rumah, Bella mulai merasa tidak nyaman karena tidak melihat siapa pun seperti yang Rendra katakan sebelumnya.


"Kemana teman-teman Mas, Kok gak ada orang, Terus rumahnya kok gak di kunci?"


"Mungkin lagi keluar sebentar makanya rumahnya tidak di kunci, Santai saja Sayang, Jangan tegang begitu."


"E... Aku ingin ke kamar mandi sebentar."


"Pergilah Sayang, Bersihkan dirimu." dengan kedipan menggoda Rendra mengantarkan Bella sampai ke depan pintu kamar mandi.


Setelah itu Rendra menyalakan rokok dan membuka jendelanya. Seketika netranya terbelalak melihat Zia yang turun dari mobil dan mendekati pintu seperti orang tengah memata-matai targetnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2