
Dengan terduduk di lantai kamarnya Bryan menangis sedih. Di satu sisi ia harus berjauhan dengan istri tercintanya. Di sisi lain Bella selalu membuatnya marah dan tidak pernah mau mendengar nasehatnya. Bryan benar-benar merasa menjadi orang yang gagal karena keadaannya saat ini.
"Pah... Tok... Tok...Tok..."
Bryan mengusap air matanya dan melihat pintu yang di ketuk oleh Bella dari luar.
"Papah please buka pintunya, Beri Bella kesempatan satu kali ini saja." tangisnya.
"Pah... Papah please..."
Mendengar suara tangis Bella yang terus mengiba membuat Bryan tak tega dan beranjak bangun membukakan pintu untuk nya.
"Papah..." Bella langsung memeluk Papahnya. Namun Bryan hanya diam mematung tanpa mau membalas pelukan putrinya.
"Pah maafkan Bella Pah, Maafkan Bella."
"Kamu sudah pernah meminta maaf seperti ini dan kamu kembali membuat Papah kecewa."
"Kali ini Bella benar-benar menyesal, Jika Bella tau Zia hamil, Bella tidak akan melakukannya, Maafkan Bella Pah."
Mendengar hal itu semakin membuat Bryan marah dan melepaskan pelukan Bella dengan sedikit paksa. Ia kembali melangkah masuk. Namun Bella langsung bersimpuh memegangi kaki Bryan.
"Pah.. Bella mohon maafin Bella, Bella janji tidak akan mengulangi kesalahan Bella, Bella janji tidak akan merasa iri dengan Zia dan akan menerimanya sebagai Mommy Bella dengan tulus, Bella juga akan setuju menikah dengan Bimo."
Mendengar hal itu seketika hari Bryan mencair dan mengangkat kedua pundak Bella agar kembali berdiri.
"Apa yang terakhir tadi Bella bilang?" tanya Bryan memastikan.
"Bella mau menikah dengan Bimo Pah."
__ADS_1
"Bella yakin, Bella tidak mempermainkan Papah?"
Bella menggeleng pelan dengan sisa-sisa air matanya.
"Sayang..." Bryan langsung memeluk Bella dan merasa lega akhirnya Bella benar-benar menunjukkan penyesalannya.
"Percayalah Sayang, Ini yang terbaik untuk mu, Percaya pada Papah."
Bryan melepaskan pelukannya dan mengusap sisa air mata yang membasahi pipi putrinya. Begitupun dengan Bella yang mengusap pipi Papahnya yang juga menyisakan air matanya yang menetes.
"Selama ini Bella hanya memiliki Papah, Papah adalah semangat dan kekuatan Bella, Jika Papah marah pada Bella, Bella merasa tak memiliki tenaga untuk menjalani hidup ini."
"Dan Bella adalah sahabat terbaik Papah yg menemani Papah selama hampir dua puluh tahun ini, Jika sekarang Papah memiliki Zia, Bukan berarti cinta Papah kepadamu menjadi berkurang, Percaya lah sayang."
Bella mengangguk dan kembali memeluk Papahnya. Pelukan hangat antara Ayah dan anak itu terjadi begitu lama hingga mereka di kagetkan oleh bel pintu yang berbunyi.
"Ayo kita lihat," ucap Bryan yang langsung turun membukakan pintu.
"Om..." Zia langsung memeluk Bryan yang masih mematung karena keterkejutannya melihat Zia dan jedua orang tuanya.
"Kenapa Om pulang begitu saja tanpa mengajak Zia?" tangisnya.
"Zia... Bukankah kamu akan tinggal bersama Mama Alia dan Papa Faraz?"
"Lalu apa Aku harus berjauhan dari suamiku?"
"Tentu tidak, Aku akan sering mengunjungi mu dan jika di izinkan Aku akan menginap di sana," ucap Bryan sambil melirik ke Papa mertuanya.
"Tidak Om, Ini adalah rumah ku, Di mana Om tinggal, Disitu Zia akan tinggal."
__ADS_1
"Zia bukan lagi putri kecil ku, Sekarang dia telah menjadi milik mu, Bahkan untuk sementara dia tidak ingin tinggal bersama kami," ucap Faraz sedih.
"Papa mertua..." Bryan merasa sedih dan juga merasa bersalah dengan keadaannya yang sulit.
"Tidak Bryan, Aku tidak papa, Aku hanya ingin berpesan, Jaga putri ku dengan baik, Jika dia hanya bahagia dengan mu Aku bisa apa?"
Mendengar hal itu membuat Zia sedih dan memeluk Papanya.
"Papa, Zia tidak mau tinggal dengan Papa bukan karena Zia tidak lagi menyayangi Papa, Tapi sekarang Zia memiliki tanggung jawab di rumah ini, Jika Papa dan Mama merindukan Zia, Papa dan Mama bisa datang kapanpun."
"Zia benar Mas, Kita bisa saling datang mengunjungi jika saling merindukan, Seperti Aku meninggalkan ibuku, Zia juga harus meninggalkan kita untuk suaminya." saut Alia.
"Ya baiklah, Kalau begitu..." ucapan Faraz terhenti saat melihat Bella berdiri di belakang Bryan.
Seketika Bella langsung menundukkan kepala dan bersembunyi di belakang tubuh Papahnya.
"Bella..." Faraz mendekati Bella. Namun Zia langsung menghentikannya.
"Tidak perlu memperpanjang masalah ini Pa, Semua akan baik-baik saja."
"Zia tapi dia..."
"Dia tidak sengaja, dan Aku yakin sekarang Bella juga sudah menyesal, Jadi sudah lah."
"Baiklah kali ini Papa memaafkannya, Tapi jika hal buruk terjadi lagi padamu entah itu karena Bella atau Bryan, Papa tidak akan memaafkan mereka."
Dengan langkah mundur Faraz menggandeng tangan Alia dan meninggalkan rumah Bryan.
Bersambung...
__ADS_1