Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Cemburu


__ADS_3

Karena tidak ingin Zia ngambek lagi, Akhirnya Bryan mengajak serta Zia dan baby Ziyan untuk melakukan perjalanan kerjanya ke luar kota. Tepatnya di kota hujan Bogor. Perjalanan macet yang cukup melelahkan membuat mereka langsung beristirahat begitu sampai penginapan.


Keesokkan harinya Bryan bangun lebih awal dan bersiap untuk menemui klien sesuai tujuan awalnya. Melihat Zia yang masih tidur pulas sambil menyu'sui baby Ziyan ia hanya berpesan pada babysitter agar menjaga Ziyan dengan baik. Tidak lupa juga Bryan memberikan kata-kata manis untuk sang istri tercinta yang ia tulis di selembar kertas dan di letakkan di atas nakas. Setelah mengecup kening Zia dan mengusap kepala Ziyan. Bryan meninggalkan penginapan bersama supir yang selalu setia mengantar Bryan kemanapun.


Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit, Bryan telah sampai di sebuah resto khas sunda sesuai permintaan yang klien inginkan.


Dua orang pria dengan usia kurang dari 40an dengan gadis muda berusia sekitar 20an terlihat sudah menunggunya. Bryan pun bergegas menuju meja tersebut dan menjabat tangan mereka.


"Selamat datang Tuan Bryan." sapa salah satu dari mereka.


"Terimakasih. Maaf jika saya terlambat."


"Tidak masalah Tuan Bryan, Silahkan duduk."


"Oh ya, Perkenalkan ini sekertaris baru kami, Namanya Nita."


"Nita?" ucap gadis tersebut yang langsung mengulurkan tangannya pada Bryan.


"Oh, Ya... Bryan." Bryan menjabat tangannya sesaat dan mulai membahas kerjasama yang akan mereka lakukan.


Dengan fokus Bryan menjelaskan secara rinci bagaimana sistem kerja dan apa saja keuntungan jika mereka bekerjasama dengan perusahaannya. Namun tidak dengan Nita, Sekertaris cantik itu bukannya fokus mencatat apa yang seharusnya ia catat. Dia malah fokus menatap Bryan sambil menggigit kecil pulpen di tangannya.


Bryan yang menyadari itu, Menghentikan penjelasannya dan menegur apa yang sekertaris muda itu lakukan.


"Apa Anda sudah mencatat semuanya?"


Tidak ada jawaban dari sekertaris muda tersebut. Ia masih terpaku menatap Bryan yang memang terlihat semakin tampan dan matang hingga gadis mana pun akan terhipnotis oleh ketampanannya.

__ADS_1


"Nona Nita..."


"E... Ya."


"Anda sudah mencatat semuanya?" Bryan mengulangi pertanyaannya.


"M-maafkan saya, Saya kurang fokus."


Bryan berdecak. Cukup kesal di buatnya. Namun karena tidak enak dengan klien nya. Bryan pun kembali menjelaskan dan meminta Nita untuk mencatat apa saja yang di perlukan.


Setelah selesai meeting dan mencapai kesepakatan. Mereka melanjutkan makan siang bersama. Seperti sebelumnya. Nita kembali menatap Bryan dan hanya menggigit garpunya dengan begitu menggoda. Hal itu membuat Bryan sangat tidak nyaman dan ingin segera pulang saja dari tempat tersebut. Namun lagi-lagi Bryan merasa tidak enak dengan mereka sehingga dengan rasa tidak nyamannya Bryan tetap bertahan di sana.


Rasa tertekannya mencair setelah mendengar suara orang yang begitu ia cintai memanggilnya.


"Babe..."


"E.. Selamat siang... Selamat siang..." sapa Zia kepada mereka sambil sedikit membungkukkan badannya dengan sopan.


"Selamat siang..." saut mereka.


"Babe... Apa Aku datang terlalu cepat?" bisik Zia.


"Tidak Sayang, Kamu datang tepat waktu."


Nita terus menatap Zia dan Bryan yang terlihat begitu dekat dan saling membisikkan sesuatu.


"E... Baiklah kalau begitu Saya duluan," ucap Bryan sembari bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Baiklah... Selamat untuk kerjasama kita."


Bryan mengangguk dan menjabat tangan mereka. Tak terkecuali dengan Nita. Namun tidak seperti yang lain. Nita tidak tidak melepaskan tangan Bryan begitu saja. Hal ini membuat Zia yang berdiri di samping Bryan langsung melepaskan tangan mereka dengan sedikit kasar.


"Saya Zia, Istrinya." tegas Zia.


Nita hanya mencebikan bibirnya sambil mengangkat kedua alisnya.


Setelah memperkenalkan diri. Zia langsung menarik Bryan meninggalkan meja tersebut sambil terus memarahinya karena diam saja saat tangannya di pegang oleh Nita.


"Itu hanya berjabat tangan Sayang." jelas Bryan.


"Berjabat tangan apanya. Tidak ada orang berjabat tangan selama itu. Dan apa Babe tidak melihat bagaimana bibit pelakor itu menatap mu?"


Bryan hanya terkekeh mendengar Omelan Zia yang menurutnya berlebihan.


"Kenapa kamu tertawa, Apa kamu senang di pegang-pegang oleh tangannya yang lentik?"


"Bukan begitu Sayang..."


"Lalu bagaimana? Ini ada orang lain saja bibit pelakor itu berani memandang mu seperti itu, Apalagi kalau tidak ada orang lain. Pasti dia akan langsung naik ke pangkuan mu!" Zia terus mengomel tanpa henti di samping mobilnya. Sementara dari kejauhan, Nampak Nita yang masih memperhatikan mereka.


•••


📌 Buat yang bilang suruh stop Novel ini karena lama Up. Kan Novel ini memang sudah Tamat. Jadi kalau mau stop baca sampai TAMAT doang pun tidak masalah. Author Up Extra Bab kalau lagi kangen aja, Jadi wajar lah gak teratur. Novel Tamat kan tidak di wajibkan untuk Up tiap hari, Namanya udah TAMAT ya bebas mau Up atau tidak.


Jadi buat yang setia dan rindu aja 🤗

__ADS_1


__ADS_2