
"Oh Astaga apa yang ku pikirkan?" seolah baru sadar dari ancaman David, Bryan mencoba menjernihkan pikirannya.
"Aku tidak bisa meninggalkan Zia begitu saja, Tapi Aku juga tidak bisa mengabaikan ancaman David, Meskipun dia masih muda tapi cara pemikirannya benar-bebar picik, Aku tidak ingin menyesal dengan mempertahankan putriku jika terlalu menyepelekannya." gumam Bryan yang kemudian meninggalkan sekolah.
Tidak jadi berangkat ke kantor, Bryan mengunjungi kantor penyedia jasa keamanan. Ia menyewa dua pengawal pribadi untuk menjaga sang putri agar tidak sampai masuk dalam perangkap David.
Bryan mengajak dua pengawal itu kerumahnya dan langsung menyuruh mereka menjalankan tugas saat itu juga.
Bella yang baru ingin keluar rumah melihat Papahnya yang kembali pulang dengan dua pria matang bertubuh tegap dengan seragam serba hitam.
Bella berdiri menunggu apa yang akan Papanya lakukan dengan dua orang itu.
Bryan menghentikan langkahnya di depan Bella dengan tatapan tegasnya.
"Mulai sekarang, Pergerakan mu akan di awasi oleh mereka, Mulai di rumah, Di luar rumah sampai kamu kuliah mereka akan memgawasimu!"
Bella tercengang mendengarnya, Ia tidak menyangka Papahnya melakukan ini padanya ketika usianya semakin dewasa, Padahal sebelumnya Papahnya begitu membebaskannya kemanapun Bella suka.
"Bella, Kamu dengar apa yang Papah katakan pada mu?"
"Sejak kapan Papah jadi posesif pada Bella?"
"Sejak Bella berhubungan dengan bajingan itu dan tidak mau lagi mendengar apa yang Papah katakan!"
__ADS_1
"Papah melarangku berhubungan dengan David tapi papah sendiri tetap berhubungan dengan Zia meskipun Bella tidak menyetujuinya!"
"Jangan bandingkan Zia dengan David! Karena Zia anak yang baik sementara David? Bahkan dia tidak pantas untuk wanita manapun!"
"Kenapa tidak, Dia tampan, Memiliki tinggi badan yang cukup sempurna di usianya yang masih muda, Setiap wanita yang melihatnya pasti menginginkannya jadi kekasihnya."
"Tapi tidak dengan Zia!"
"Zia? Zia, Zia, Zia! Hanya Zia yang ada di kepala Papah, Bella jadi curiga, Sebenarnya Papah melakukan ini untuk melindungi Bella atau Papah melakukan ini karena begitu cemburu pada David yang pernah memiliki hubungan dengan Zia? Papah pasti takut jika David menikah dengan Bella dan Papah menikah dengan Zia, Kelak Zia akan berpaling dari Papah dan kembali pada David, Yah secara David jauh lebih muda dari Papah, Pasti suatu saat Zia akan meninggalkan Papah dan memilih pria seumurannya yang lebih muda dan tampan untuk menjadi pendampingnya."
Bryan terdiam memahami apa yang putrinya ucapkan.
"Sekarang Zia memang begitu mencintai ku dan Dia juga mengatakan tidak ada alasan untuk meninggalkan ku, Tapi bagaimana jika usiaku semakin bertambah, Apakan yang di katakan Bella akan terjadi?" batinnya mulai merasa ragu, Rasa percaya dirinya mulai berkurang dengan apa yang telah putrinya katakan.
Melihat sang putri yang mulai memasuki mobil, Bryan menyuruh kedua pengawal yang Ia sewa untuk mengikuti putrinya ke mobil yang sama.
Meskipun dengan kesal, Mau tidak mau, Bella menerima apa yang sudah Papahnya putuskan untuk nya.
•••
Malam Hari 🌙
Sudah beberapa kali Zia mengirim pesan dan mencoba menelfon Om Bryan. Namun tak satupun telfonnya di angkat maupun mendapat balasan darinya.
__ADS_1
Zia yang tengah berdiri di kamarnya terus mondar mandir sembari memegang benda pipih itu, Berharap benda itu berdering dan memberikannya kabar tentang kekasih dudanya. Namun berjam-jam menunggu, Sampai malam semakin larut tidak ada balasan dari pujaan hatinya. Zia pun mulai merasa resah, Karena baru kali ini merasa terabaikan oleh Om Bryan, Apa lagi mengingat sikap Om Bryan tadi pagi yang begitu aneh membuat perasaanya semakin tak karuan.
Drrrttttttt... Drrrttttttt....
Zia yang tengah resah menanti kabar dari Om Bryan langsung mengangkat benda pipih begitu mendengar ponselnya bergetar.
"Hallo Om..."
"Hallo Sayang..."
Zia tersentak dengan suara itu, Kemudian menjauhkan benda pipih itu dari telinganya dan menatap layar ponselnya.
"David?" lirih Zia.
"Apa Om gadun mu tidak mengangkat panggilan mu atau menghubungimu?" pertanyaan David membuat Zia penasaran dan kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Apa ini ada hubungannya dengan mu?" Zia balik bertanya.
"Entahlah, Yang jelas Aku merasa sangat bahagia mendengar kabar baik ini."
"Aku menyesal karena pernah berteman dengan mu David!" dengan kesal Zia mengakhiri sambungan teleponnya.
Bersambung....
__ADS_1