Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
7 Bulan Kemudian


__ADS_3

7 Months Later


Bryan yang terakhir kali mendampingi istri pertamanya saat kelahiran Bella, Kini merasa seperti pertama kalinya saat Zia mulai merasakan kontraksi. Ia yang begitu mendapat banyak perintah dari Zia disertai jeritan kesakitannya, Merasa bingung dan hanya berlari kesana-kemari tanpa tau apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu.


Hal ini membuat Bella dan Bimo yang mendengar jeritan Zia berlari ke kamar mereka melihat apa yang terjadi.


"Mommy Zia..." Bella langsung menghampiri Zia yang tertatih-tatih mencoba menggapai perlengkapan bayi yang harus di bawa oleh Bryan. Melihat hal itu Bella menegur Papahnya yang di anggap kurang sigap menghadapi istrinya yang akan segera melahirkan.


"Papah! Apa yang Papah tunggu cepat gendong Mommy Zia."


"Dari tadi Papah juga mau gendong Mommy Zia, Tapi Zia bilang suruh bawa ini bawa itu, Belum lagi suruh menghubungi Papa Faraz, Jadi Papah bingung mana yang harus Papah kerjakan terlebih dahulu."


"Sekarang jangan pikirkan yang lain, Gendong Mommy Zia biar Bella yang bawa semua keperluan bersalin, Dan untuk menghubungi Papa Faraz buar Bimo yang melakukannya."


Bryan pun mengangguk dan membopong tubuh Zia. Namun belum sempat ia melangkah Bryan menjadi begitu khawatir melihat putrinya yang kembali mual-mual.


"Huwek... Huwek...."


"Sayang...."


"Om sakitttttt..." pekik Zia memukul dada Bryan yang ingin mendekati Bella.


Bryan menjadi bingung harus membawa Zia atau membantu Bella yang kini memang tengah parah-parah nya ngidam di trimester pertamanya.


"Om cepet!" pekik Zia yang melihat Bryan belum juga jalan.


"Papah pergilah, Biar Aku yang urus Bella," ucap Bimo.


"Kamu tidak papa Sayang?" tanya Bryan memastikan keadaan Bella.


"Tidak Pah, Huwek..."


Meskipun begitu Bryan masih berat meninggalkan Bella. Hal itu membuat Zia semakin marah dan menarik kerah Bryan dengan kedua tangannya. "Apa Om akan membiarkan anak kita lahir di sini tanpa bantuan ahlinya?!" teriak Zia.

__ADS_1


"Pergilah Pah, Nanti Bimo dan Bella akan menyusul," ucap Bimo sambil memapah Bella ke kamar mandi.


"Baiklah, Tapi jangan lupa hubungi keluarga Zia." pekik Bryan sambil melangkah pergi.


Setelah Bryan membawa Zia ke rumah sakit dan Bella mulai membaik. Bimo menelfon Faraz dan juga Zayn untuk memberikan kabar jika Zia akan segera melahirkan. Setelah itu mereka berdua bersiap meninggalkan rumah dan menyusul ke rumah sakit.


"Kamu tidak papa Sayang?" tanya Bimo sambil memasangkan sabuk pengaman untuk sang istri.


"Sekarang tidak, Aku harap Aku tidak akan merasakan mual lagi di rumah sakit, Aku ingin mendampingi Papah menyambut adik ku."


"Ini lucu bukan, Adik mu baru akan lahir tapi kamu tengah mengandung


tiga bulan," ucap Bimo tertawa.


"Apa kamu sedang mengejek keluarga ku?"


"Tidak, Aku hanya mengatakan kenyataannya, Kenapa kamu mudah sekali tersinggung?"


"Ahh sudahlah kamu memang selalu membuat ku kesal."


Bella langsung menepis pipinya dengan kasar. "Menjauh lah jangan membuatku kembali mual."


"Itu tanda kejantanan ku karena berhasil membuat mu mual dalam waktu yang cukup singkat!" ucapnya tertawa.


"Dasar mesum! Cepatlah jalan, Aku ingin membiarkan Papah cemas sendirian."


"Ya baiklah."


•••


Faraz, Alia, Zayd dan juga Zahia tiba di rumah sakit.


Faraz yang melihat Bryan tengah mengurus administrasi segera mendekati Bryan untuk menanyakan keadaan putri kesayangannya.

__ADS_1


"Di mana Zia?" tanya Faraz.


"Dia sudah di tangani Dokter." jawabnya singkat.


Tanpa bertanya lagi Faraz langsung menuju ruang bersalin untuk melihat keadaan Zia. Bryan yang sudah selesai dengan urusannya langsung berlari mengejar Papa mertuanya dan menghentikannya.


"Papa mertua, Aku suaminya, Biar Aku yang mendampingi Zia,"


"Aku hanya ingin melihatnya sebentar, Apa kau melarang ku?!"


"E... Tidak, Tapi tadi Zia sudah pembukaan tiga, Dia akan segera melahirkan."


"Bryan benar Mas, Biarkan Bryan yang mendampingi Zia, Kita tunggu di luar sambil berdoa," sambung Alia.


Namun Faraz tidak menghiraukan larangan Alia maupun menantu sekaligus teman nya itu, Faraz langsung masuk ke ruang bersalin untuk melihat keadaan Zia yang begitu membuatnya khawatir. Mau tidak mau Bryan membiarkan Faraz dan mengikutinya dari belakang.


"Sepertinya Papa lebih merasa khawatir daripada Mama," ucap Zayd.


"Mama juga tidak kalah khawatir, Cuma Mama bisa menahan diri dan mematuhi peraturan yang ada."


•••


Tak lama kemudian Bimo dan Bella sampai berbarengan dengan Zayn dan Faza yang sama-sama memarkirkan mobilnya.


Mereka bertegur sapa setelah turun dari mobil masing-masing.


"Hey bro." Bimo memeluk Zayn dan saling menepuk-nepuk punggungnya. Sementara Faza dan Bella saling bersalaman dan cipika-cipiki.


Bella yang sempat menyukai Zayn melirik kakak ipar dari Papah nya tersebut yang terlihat mengukir senyum di tengah perbincangannya dengan suaminya.


Faza yang melihat tatapan Bella yang tak lepas dari Zayn langsung menggandeng tangan Zayn "Kita harus cepat masuk kan, Jangan sampai kita terlambat mendengar tangisan keponakan pertama kita," ucap Faza.


"Ya kamu benar. Ayo kita masuk," ucap Zayn mengajak serta Bimo dan Bella.

__ADS_1


Bersambung...


Ayo masih seberapa banyak yang nungguin Om Duda? 😍


__ADS_2