Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Extra Bab


__ADS_3

"HAMIL...?!" ucap Faraz, Bryan, Zia bebarengan dan saling melihat satu sama lain.


Alia mengangguk-anggukan kepalanya untuk menegaskan ucapannya.


"Itu tidak mungkin, Aku kan belum datang bulan," ucap Zia.


Bryan hanya bingung menatap Baby Ziyan yang usianya belum genap lima bulan.


Faraz yang mendengar hal itu langsung berlari turun. Ia meninggalkan rumah dan langsung pergi ke apotik.


Sepanjang perjalanan, Faraz terus bertanya-tanya, Apakah ia benar-benar akan secepatnya kembali mendapatkan cucu dari putri kesayangannya.


"Arghhh Bryan memang menyebalkan. Dia benar-benar tidak membiarkan putriku beristirahat." umpatnya kesal.


Setelah sampai di Apotik, Faraz langsung meminta alat test kehamilan dari semua merek yang tersedia hingga membuat kedua penjaga apotik menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Apa? Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Faraz dengan juteknya.


"E... Tidak Tuan." sautnya menahan tawa.


"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan," ucap Faraz sambil mengambil kantong plastik berisi alat test kehamilan yang ia pesan dan membayarnya.


"Emangnya apa yang kami pikirkan?" saut salah seorang penjaga apotik sambil cekikikan.


"Ini untuk putri kesayangan ku, Dasar piktor," ucap Faraz sambil berlalu pergi.


"Dasar! Pasti mereka pikir Aku sugar Daddy yang menghamili anak SMA." Faraz terus menggerutu sepanjang perjalanan.


•••


Sementara Bryan dan Zia yang masih menunggu kedatangan Faraz di kejutkan oleh kedatangan Bimo dan Bella.


Bryan menatap putrinya dengan perutnya yang semakin membesar karena telah memasuki trimester terakhir. Dengan bahagia Bryan langsung mendekati Bella dan memeluknya.


"Sayang... Bagaimana kabar mu? Kenapa lama sekali tidak mengunjungi Papah?"


"Papah juga tidak pernah mengunjungi Bella?"


"Maafkan Papah Sayang, Selain sibuk di kantor, Papah juga sibuk membantu menjaga Baby Ziyan."


"Tidak masalah Pah, Aku hanya bercanda, Bagaimana kabar Papah dan Mommy Zia?"


"Papah baik dan Mommy Zia..." Bryan menghentikan ucapannya begitu melihat Zia berlari ke kamar mandi.


Suara muntah-muntah yang terdengar hingga keluar membuat Bella terkejut dan memastikan apa yang terlintas dalam pikirannya.

__ADS_1


"Mommy Zia hamil lagi?"


Bryan mencebikan bibir bebarengan dengan mengangkat kedua alisnya.


"Mungkin... " ucap Bryan yang merasa belum yakin.


"Hah! Bagaimana bisa, Bayi ku saja belum lahir, Tapi Mommy Zia sudah hamil lagi?"


"Kenapa tidak mungkin sayang, Ini menandakan Papah mu masih begitu perkasa," bisik Bimo yang langsung di sikut oleh Bella.


Bimo yang mendapat tatapan dari Papah mertuanya hanya bisa garuk-garuk kepala dan melangkah mendekati Baby Ziyan yang berada di gendongan Alia untuk menghindari rasa canggungnya.


"Hay Adik Ziyan, Bagaimana kabar mu, Kakak ipar mu yang tampan ini sudah datang, Apa kamu tidak ingin bangun untuk menatap ketampanan ku?"


"Diiih pede banget, Masih gantengan juga Papah." protes Bella.


"Bella Sayang... Tidak bisakah kamu memujiku sekali saja? Kenapa kamu menjatuhkan suami mu di depan semua orang?"


Sontak perkataan Bimo membuat semua orang tertawa hingga tawa mereka terhenti dengan kedatangan Faraz.


"Mana putri ku?" tanya Faraz dengan nafas terengah-engah seakan baru berlari ratusan kilometer.


"Ada di kamar mandi, Kenapa Mas berlarian?" tanya Alia.


Tok... Tok... Tok...


"Sayang cepat buka pintunya."


Dengan lemah Zia membuka pintu.


"Ya Pa..."


"Ambil ini, Dan cepat pastikan kamu hamil atau hanya sekedar masuk angin."


Zia mengangguk patuh dan mengambil alat tes kehamilan dari tangan Papanya. Kemudian kembali menutup pintu kamar mandi.


Dengan tidak sabar Faraz tetap berdiri di depan pintu sebelum akhirnya menoleh ke belakang dan melihat Bella dengan perutnya yang sudah begitu besar. Melihat hal itu Faraz melangkah mendekati Bryan dan menariknya ke tepi.


"Kau lihat putri mu, Dia saja belum melahirkan tapi kau kembali menghamili putri ku, Apa kau tidak berpikir bagaimana kalau tiba-tiba putri mu melahirkan sementara putriku..."


"Papa...."


Faraz menghentikan omelannya dan bergegas mendekati Zia yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Sayang bagaimana hasilnya?"

__ADS_1


Zia tidak menjawab dan hanya memberikan alat tes kehamilan itu kepada Papanya.


Faraz segera melihat hasilnya dan seketika mematung melihat dua garis merah itu di benda pipih itu.


"Mas gimana hasilnya?" Tanya Alia mendekati.


"Apa Zia benar-benar hamil?" tanya Bryan yang juga ikut mendekati Faraz.


Begitupun dengan Bella dan Bimo yang ikut penasaran dengan hasilnya.


Alia melihat hasil tesnya sekilas sebelum alat test kehamilan itu berpindah ke tangan Bryan.


"Positif..." ucap Bryan.


"Positif?" tanya Bella memastikan.


"Ya, Kamu akan segera memiliki adik lagi sayang."


"He..." Bella memaksakan senyumnya antara terkejut dan bingung melihat kondisinya kini yang hanya tinggal menunggu hari persalinan.


"Kenapa sayang, Apa kamu tidak suka?"


"Tidak... E... Maksudku suka... A-aduuuhhh...."


"Bella Sayang apa yang terjadi?" tanya Bimo panik.


"Sayang kamu kenapa? lanjut Bryan.


"Mas Bimo, Papah perutku sakit sekali... Aaahhh..."


"Cepet bawa Bella ke rumah sakit, Mungkin dia akan segera melahirkan," ucap Alia.


Bryan pun menjadi bingung melihat Bella dan juga Zia. Belum lagi Faraz yang menatapnya dengan tajam.


"Zia Sayang, Aku antar Bella dulu yah, Kamu tidak papa kan?"


"Kau lihat itu, Apa ku bilang." saut Faraz yang terus menatapnya sinis.


🍃🍃🍃


📌 Hai... Hai... Hai... Masih adakah yang nungguin Extra Bab dari Om Bryan? Kalau masih kapan-kapan lanjut lagi, Kalau nggak ada cukuplah sampai di sini 🤣🤣🤣



Tebar Virus Buat yang Merindukan mereka 😘🔥

__ADS_1


__ADS_2