
Melihat kamar mandi yang masih tertutup rapat, Rendra menyeringai dan melangkah keluar untuk menyambut kedatangan Zia.
Sementara Zia yang masih berdiri di depan pintu menjadi ragu dan berniat meninggalkan rumah tersebut. Namun baru saja ia memutar tubuhnya, Zia di kejutkan oleh suara pintu yang di buka.
Ckleekkk...
Zia membelalakkan mata dan begitu tegang dengan situasinya yang ia hadapi saat ini.
"Hi, Beaut. Mom Zia, Calon ibu mertua kecil ku..." Rendra melangkah kehadapan Zia yang tidak mau menoleh ke belakang.
Zia menundukkan kepalanya tanpa mau melihat wajah Rendra yang terlihat seperti buaya yang ingin menyergap mangsanya.
"Kamu mengikuti kami? Apa diam-diam kamu tertarik kepada ku?" ucapnya percaya diri.
Zia mengangkat wajahnya dan berusaha sekuat hati untuk menentangnya. "Apa kamu tidak pernah bercermin untuk membandingkan ketampanan mu dengan suami ku, Sampai kamu begitu percaya diri mengatakan Aku tertarik pada mu? Aku kesini untuk Bella, Aku tidak ingin laki-laki buaya seperti mu sampai menyentuh nya!"
Mendengar hal itu, Membuat Rendra naik pitam dan menyeret Zia ke dalam.
"Kamu tidak ingin Aku menyentuh Bella? Baiklah kalau begitu biar Aku menyentuh mu saja." Rendra menghempas tubuh Zia ke sofa dengan sangat kasar.
Melihat kemarahan di wajah Rendra membuat Zia ketakutan dan beringsut mundur untuk menghindari Rendra yang semakin mendekati dirinya.
__ADS_1
"Jika kamu melarang ku menyentuh Bella, Aku tidak keberatan jika harus menyentuh, Lagi pula kamu lebih cantik dan mulus dari Bella." dengan menelan salivanya Rendra menelisik seluruh tubuh Zia yang sudah sangat membangkitkan gairahnya.
"Jangan coba mendekat!" Zia terus beringsut mundur sampai berada di ujung sofa. Sementara Rendra yang sudah tidak bisa lagi menahan Birahinya langsung menekan kedua pergelangan tangan Zia dan mencoba mencium ceruk lehernya.
"Lepas kan! Eghh! Ballaaa... Bellaaaa..." sekuat tenaga Zia berteriak dan menendang perut Rendra. Namun sangat mudah bagi Rendra untuk mengunci pergerakan Zia dengan menangkap kakinya yang terus berusaha menendangnya. Dengan tatapan iblisnya Rendra mencium kaki Zia dan menghirupnya penuh nafsu.
Melihat kesempatan itu, Zia kembali menendang Rendra dengan kaki sebelahnya hingga membuat Rendra terpental beberapa langkah.
"Kau berani menendang ku!" tanyanya penuh amarah.
"Kamu pantas mendapatkan lebih dari ini, Bagaimana bisa Bella mencintai pria brengsek seperti mu!"
"Hmm! Kamu lebih berani dari yang ku fikirkan, Tapi tidak papa, Ini akan lebih terasa menyenangkan." Rendra mencengkeram kedua lengan Zia dan kembali berusaha mendapatkan apa yang belum ia dapatkan.
Sementara di kamar mandi, Bella yang sedang merapikan pakaiannya Samar-samar mendengar suara Zia memanggil namanya.
"Zia? Bagaimana mungkin dia di sini?" Bella langsung bergegas keluar dan menuju ruang tamu. Dan alangkah terkejutnya Bella melihat Zia yang berada di atas tubuh Rendra yang memegang erat kedua lengannya.
"Zia!"
"Sayang..." Rendra langsung mendorong tubuh Zia menjauh darinya.
__ADS_1
"Bella, Ini tidak seperti yang kamu lihat, Dia..." ucapan Zia terhenti saat melihat Bryan tiba-tiba muncul diantara mereka.
"Om..." Zia menggelengkan kepalanya berharap suaminya tidak salah faham kepadanya.
"Pah, Papah lihat sendiri apa yang Zia lakukan? Dia membuntuti kami dan merayu Mas Rendra Pah."
"Itu tidak benar Bella, Rendra yang..."
"Yang apa Zia, Aku sudah beberapa kali menolak dan mengingatkan mu jika Aku hanya mencintai Bella dan akan menjadi menantu mu, Tapi kamu malah mendorong ku ke sofa dan memaksa ku."
"Diam kau bajin'gan!" dengan air mata yang hampir tumpah Zia mendekati Bryan dan meraih tangannya.
"Kenapa Om diam saja, Apa Om tidak percaya padaku, Apa Om lebih percaya padanya?"
Bryan memandang Rendra dengan tatapan yang tidak bisa di artikan kemudian kembali menatap wajah istri kecilnya.
"Om inget saat pertama kali dia datang ke rumah, Saat Om bertanya kenapa Aku begitu resah, Itu karena dia merayu ku Om, Dia..."
"Hentikan Zia!" hardik Bella.
"Berhenti mengarang cerita dan nebghasut Papah ku, Aku melihatnya sendiri kamu berada di atas tubuh Mas Rendra, Dan Aku yakin Papah juga melihatnya, Iya kan Pah?"
__ADS_1
Zia menatap Bryan dengan terus menggelengkan kepala berharap suaminya akan lebih mempercayainya. Namun Bryan hanya terdiam dengan sorot mata yang tidak bisa di artikan.
Bersambung...