
"Apa Aku harus mendatangi semua apartemennya agar Aku bisa menemukannya?" batin Faraz.
"Ah tidak-tidak, Yang Alia katakan benar, Zia bukan lagi gadis kecil ku yang harus selalu ku gedong saat ia sakit, Sekarang gadis kecil ku sudah tumbuh dewasa bahkan sudah menikah Aku tidak berhak lagi atas dirinya."
"Ya baiklah, Aku akan berusaha menahan diri untuk tidak menemui Zia, Tapi jika dalam satu minggu Singa buas itu tidak masuk kerja lihat saja Aku akan memberinya pelajaran."
Faraz kembali ke tempat duduknya dan dan melanjutkan pekerjaannya.
•••
Sedangkan di apartemen Bryan dan Zia belum beranjak dari ranjangnya. Bryan masih mendekap erat tubuh Zia dari belakang sambil sesekali menciumi pundaknya. Rasanya tidak ingin melakukan aktifitas apapun selain menciumi istri kecilnya.
"Andai kamu tidak mengeluh sakit, Aku sudah kembali memakan mu." bisik Bryan sambil menggigit kecil telinga Zia.
Zia menggeliat geli, Menepis wajah Bryan dengan pundaknya.
Bryan terseyum dan mempererat pelukannya dengan gemas.
"Oh ya, Apa rencana Zia setelah ini, Mau langsung lanjutin kuliah atau tunda dulu?"
"Zia belum memikirkan Om, Penginnya sama Om terus," ucap Zia tertawa.
"Dasar gadis nakal." Bryan kembali menciumi tengkuk leher Zia dengan gemas.
"Kalau begitu kita lanjutkan bulan madu?"
"Terserah Om saja, Zia tidak peduli mau bulan madu atau tidak yang penting Zia terus bersama Om."
"Kalau begitu berhenti memanggilku Om."
Zia berbalik badan dan menatap wajah suami tampannya.
"Lalu Zia harus panggil apa?"
__ADS_1
"Terserah Zia yang penting jangan panggil Om."
"Eumm... Baiklah Mas Bryan Sayang."
"Itu lebih baik." Bryan mencubit pipi Zia dengan gemas kemudian menyatukan kening dan hidungnya.
"Kita pulang? Kasian Bella di rumah sendirian, Besok kalau Bella sudah kembali ke Semarang kita lanjutkan lagi permainan kita yang lebih panas dari ini."
"Buasss..." Zia mencubit gemas perut Bryan.
Bryan hanya tertawa kemudian mereka beranjak dari ranjang dan bersiap meninggalkan apartemen.
•••
Sesampainya di rumah, Bryan langsung menuju kamar Bella untuk melihat putri semata wayangnya.
Sedangkan Zia pergi ke kamarnya.
Belum sempat Bryan mengetuk pintu, Bella keluar dari dalam.
"Papah, Papah sudah pulang?"
"Iya, Maaf ya Papah kesiangan."
"Gak papa Pah, Kalau begitu Bella mau ketemu temen ya."
"Siapa nama temennya, Cewek atau Cowok?"
"Kenapa Papah tanya begitu?"
"Bella, Papah hanya tidak ingin kamu salah memilih Pria seperti David."
"Papah tenang aja, Bella tidak akan mengulangi kesalahan Bella."
__ADS_1
"Baiklah jaga diri mu."
Bella mengangguk dan meninggalkan Papahnya.
Belum sempat Bryan melangkah, Ponselnya berdering dari dalam sakunya.
Bryan mengambil benda pipih itu dan melihat Nama Faraz memanggil
Seketika senyum Bryan terukir mengingat terakhir ia bicara pada teman sekaligus menantunya tersebut.
"Hallo Papa mertua."
"Ada apa, Kamu terdengar sangat bahagia?"
"Tentu saja Aku bahagia karena Aku sudah berhasil membuktikan jika senjataku masih tajam, Tidak karatan seperti yang Papa mertua bilang." Bryan terkekeh geli sambil menutup benda pipih itu dengan tangannya agar Faraz tidak mendengar tawanya.
"Menantu tidak tau malu, Apa pantas bicara seperti itu pada mertuanya?"
"Hahahaha... Aku hanya bercanda, Sekarang katakan. Ada apa Papa mertua menelfon ku, Jangan bilang mau menyuruh Zia pulang."
"Ck, Tidak, Aku mau memberitahu mu jika besok ada meeting penting, Jadi pastikan kamu masuk kerja, Jangan bucinin Zia terus."
"Kenapa tidak Papa mertua saja yang handle, Kita kan pengantin baru Pa, Ingin bulan madu juga kali kaya orang-orang." Bryan kembali menahan tawanya. Senang sekali rasanya meledek Papa mertuanya yang begitu posesif kepada istri kecilnya.
"Bryan, Hari ini Aku sudah mengalah dan membiarkan mu menikmati kebersamaan mu dengan putri ku, Jadi sekarang turuti perintah ku sebelum Aku berubah fikiran dan kembali mengacaukan rencana bulan madumu itu!"
"Ya, Ya, Ya baiklah, Sebagai menantu, Teman dan rekan kerja yang baik, Besok Aku akan masuk kerja sesuai perintah Papa mertua, Dan sebagai gantinya, Malam ini Aku akan kembali menerkam putrimu, Hauww." Bryan langsung menutup ponselnya dan tertawa puas menertawakan Papa mertuanya.
"B-b... Bryan!" Faraz menggengam ponselnya dengan kesal.
"Singa buas itu benar-benar ingin membuat putriku tidak bisa bangun dari tempat tidurnya." gumam Faraz yang merasa begitu geram mendengar apa yang Bryan katakan.
Bersambung...
__ADS_1