
Pagi harinya, Zia yang membuka mata terlebih dahulu melihat dirinya yang memeluk Bryan dengan berbantalkan dadanya. Ia pun tersenyum dan menaikkan sedikit badannya untuk menci'um Bryan. Namun belum sempat bibir itu menyatu tiba-tiba Zia kembali merasa mual.
"Huwek... Huwek..."
Sayup-sayup Bryan yang mendengar Zia mengerjapkan mata.
Setelah netranya terbuka sempurna Bryan sedikit mengangkat kepalanya melihat Zia yang berlari ke kamar mandi.
"Mual lagi?" Bryan kembali menjatuhkan kepalanya dan menutupnya dengan bantal beberapa saat. Setelah itu ia bangkit dan melihat kesana-kemari mencari celana pendek nya. Setelah menemukannya ia memakainya dan melangkah mendekati pintu kamar mandi.
Dengan mata yang masih sedikit mengantuk, Bryan menyandarkan tubuhnya di pintu sembari mengetuknya.
"Sayang... Tok... Tok..."
"Sayang... Apa kamu merasa mual lagi jika dekat dengan ku?" tanya Bryan sambil terus memejamkan matanya.
Ckleekkk...
"Hah!" pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Bryan kaget dan membuatnya hampir terjatuh.
"Iiihhh... Babe apaan sih," ucap Zia sembari mendorong tubuh Bryan yang hampir menabraknya.
"Maafkan Aku Sayang, Aku tidak sengaja, Kamu baik-baik saja kan?"
"Iiih apaan sih, Jangan pegang-pegang, Babe kan bau." ujar Zia menepis kedua tangan Bryan yang ingin menyentuh kedua pipinya.
Bryan mengendus kedua ketiaknya sendiri memastikan apa yang Zia katakan.
"Tidak juga, Masih wangi kok, Bukankah semalam kamu begitu menikmatinya?"
"Babe... Huwek... Huwek... Jangan katakan itu Aku mual huwek... mendengarnya." Zia kembali berlari ke dalam dan memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel.
Bryan menggaruk-garuk belakang kepalanya karena merasa gundah dengan sikap Zia yang berubah-ubah pada dirinya.
__ADS_1
Setelah itu Bryan yang teringat dengan janjinya pada Bella segera mengambil bathrobe dan keluar meninggalkan kamar dan menuju kamar mandi lainnya.
Bryan yang terburu-buru tanpa sengaja menabrak Faraz yang tengah menggendong baby Ziyan.
"Hey! Apa yang membuat mu begitu terburu-buru?" tanya Faraz kesal.
"Maafkan Aku Sayang."
"What!?"
"Bukan Papa mertua tapi putraku yang tampan." Bryan menaik turunkan kedua alisnya seolah meledek teman sekaligus mertuanya tersebut.
"Dia cucuku dan dia mewarisi ketampanan ku." ujar Faraz tak mau kalah.
"Semua orang juga tau Aku lebih tampan dari Papa mertua,"
"Orang yang mana, Pasti hanya Zia kan yang sudah buta karena rayuan buaya mu itu."
"Hey hey hey... Para Bapak... Apa yang kalian ributkan?"
Faraz dan Bryan menoleh ke arah suara dan melihat Zayn datang dengan stelan jas hitam yang begitu rapi.
"Zayn..."
"Papa..."
Faraz dan Zayn saling merangkul sekilas. Kemudian Zayn melangkah mendekati Bryan untuk menyapanya. Namun Faraz menariknya kembali.
"Jangan memeluknya apa kamu tidak melihatnya, Lihatlah dia."
Mendengar itu Zayn memperhatikan Bryan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Melihat tatapan Zayn, Bryan merasa tidak nyaman dan meminta izin untuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Secara kompak Faraz dan Zayn menoleh ke belakang melihat Bryan hingga membuat Bryan yang kembali menoleh ke belakang merasa canggung dan bergegas masuk ke salah satu kamar.
"Apa kamu memikirkan apa yang Papa pikirkan?" tanya Faraz.
"Sepertinya." saut Zayn yang di ikuti dengan tawa renyah dari keduanya.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Zia yang baru keluar dari kamarya.
"Zia..." Zayn bergegas mendekati Zia dan memeluknya.
"Kak Zayn..."
"Bagaimana kabar mu Adik kecil?"
"Jangan panggil dia Adik kecil lagi, Bahkan dia lebih jago membuat anak daripada kamu." ujar Faraz tertawa.
"Papa..." Zia melotot kepada Faraz sembari mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha... Jangan dengarkan perkataan Papa Sayang, Sekarang katakan pada ku, Apa Zayd sudah kemari?" tanya Zayn merangkul pundak Zia.
"Belum, Katanya masih banyak kerjaan di kantor."
"Oh yah, Aku juga mau berangkat ke kantor dimana Mama?"
"Mama ada di dapur." saut Faraz.
"Baiklah kalau begitu Aku temuin Mama dulu, Setelah itu ke kantor."
"Tapi kalau kak Zayd kemari kak Zayn kemari lagi yah, Biar ngumpul," ucap Zia.
"Baiklah, Kabari saja." Zain berpamitan pada Zia dan Papanya, Kemudian Zayn menemui Mamanya di dapur. Setelah berbincang-bincang beberapa menit Zayn pun meninggalkan rumah Bryan dan pergi ke kantornya.
📌 Btw yang kangen sama si kembar angkat kakinya, Eeh angkat tangan ✋ maksudnya 🤣
__ADS_1