Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Pertengkaran


__ADS_3

Seperti biasa jika semalaman habis melayani sang suami, Zia akan kembali tidur setelah membersihkan diri dan akan bangun pada saat ia akan berangkat kuliah. Namun hingga Bryan selesai sarapan dan siap ke kantor, Zia masih nampak tidur dengan nyenyak di bawah selimutnya.


Dengan senyumnya Bryan duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala Zia dengan lembut.


"Sayang, Waktunya kuliah," ucapnya sambil mengecup ujung keningnya.


"Hmm..." Zia hanya melenguh dengan sedikit gerakan.


"Kamu nggak mau kuliah?" tanyanya sambil terus menciumi wajah sang istri.


"Nggak Ahh, Ngantuk banget, Badan ku juga sakit semua." jawab Zia dengan mata yang masih terpejam.


"Baiklah, Kalau begitu Aku berangkat dulu ya, Kalau sudah bangun jangan lupa makan."


"Hmm..."


Bryan kembali mengecup kepala Zia dan turun ke bawah.


Sampai di bawah Bryan tercengang melihat sang putri yang sudah bersiap dengan pakaian seksi dengan warna merah muda yang memperlihatkan pundak indahnya dengan di padukan dengan rok mini denim dan high heels yang semakin memperindah kaki jenjangnya.


"Sayang apa-apaan ini?"


"Ada apa Pah?"


"Pakaian apa ini, Berapa kali Papah bilang jangan pakai pakaian minim seperti ini, Jangan mengundang syahwat laki-laki yang melihat mu!"


"Ini masih batas wajar Pah, Banyak yang lebih seksi dari ini."


"Apanya yang wajar, Lihat pundakmu, Pusar mu tidak tertutup dan paha mu..."


"Ayolah Sayang, Jangan menarik perhatian laki-laki dengan cara seperti ini, Apa lagi untuk menarik perhatian si Rendra itu!"


"Apa yang salah dengan Mas Rendra? dan bukankah Mommy Zia juga pernah melakukan hal seperti ini untuk menarik perhatian Papah?"

__ADS_1


"Tapi Papah tidak mengambil kesempatan itu, Papah menjaganya dan mengarahkan dia agar tidak lagi mengulanginya, Tapi bagaimana dengan Rendra, Bagaimana jika dia mengambil kesempatan atas dirimu, Bagaimana jika dia berbuat yang tidak seharusnya kepada mu? Papah tidak mau Sayang, Please nurut sama Papah, Jika dia benar-benar mencintai mu kamu tidak perlu berbuat apapun untuk membuatnya tertarik pada mu."


Mendengar nasehat Papahnya, Bella akhirnya menurut dan kembali masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


Bryan bernafas lega dan keluar meninggalkan rumah untuk pergi bekerja.


Tak lama kemudian Zia membuka mata dan melihat ke sekeliling kamar sambil mengingat-ingat saat Bryan membangunkannya.


Zia tersenyum dan turun dari ranjang untuk sarapan sesuai pesan Bryan sebelum meninggalkannya.


Baru saja Zia duduk di meja makan, Zia mendengar bel pintu berbunyi. Zia beranjak melihat siapa yang datang tanpa menunggu ART yang membukakannya.


Ckleekkk...


Zia langsung merasa tegang melihat Rendra yang berada di balik pintu.


Dengan tatapan penuh telisik, Rendra memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki Ibu sambung dari kekasihnya tersebut.


"A-aku akan memanggil Bella."


Rendra langsung menarik tangan Zia untuk menghentikannya.


"Tidak perlu terburu-buru, Santai saja."


"T-tidak Aku akan segera memanggilnya." Zia menghempas tangan Rendra dengan kasar dan berlari pergi meninggalkannya.


Rendra tersenyum melihat gerakan pinggul Zia yang begitu menggoda matanya.


Jebrettt...!!!


Bella yang tengah ber-make up di depan cermin terkejut melihat Zia yang tiba-tiba masuk tanpa permisi ke kamarnya. Kemudian Bella melangkah mendekati Zia yang masih bersandar di balik pintu depan nafas yang terengah-engah.


"Ada apa Mommy Zia?"

__ADS_1


"Bella ada Rendra."


"Rendra sudah datang?" dengan senyum bahagia Bella langsung keluar dari kamarnya. Namun Zia kembali menarik Bella masuk ke dalam.


"Ada apa?" tanya Bella bingung.


"Bella, Aku ingin mengatakan sesuatu, Tapi kamu jangan salah faham kepadaku."


"Bicaranya nanti saja, Aku tidak ingin Mas Rendra menunggu ku."


"Bella, Sebentar saja."


"Apa, Cepat katakan."


"Jaga dirimu, Jangan sampai berbuat sesuatu yang akan membuat mu menyesal dan membuat Papah malu."


"Zia, Apa yang coba ingin kamu katakan? Apa kamu ingin mengatakan jika Mas Rendra bukan pria baik-baik yang akan merusak masa depan ku?"


"Bukan begitu Bella, Tapi dia..."


"Cukup Zia! Jangan lupa batasan mu, Kamu bisa menikah dengan Papah ku karena restu dari ku, Jadi sekarang jangan ikut campur dalam hubungan ku dengan Mas Rendra." Bella pergi dengan menyenggol lengan Zia dengan kasar. Namun baru beberapa langkah, Bella kembali menoleh ke arah Zia.


"Satu lagi Zia, Jangan pernah mencoba mengatakan pendapat mu kepada Papah, Karena jika kamu berani mengatakannya Aku tidak akan pernah lagi menganggap mu sebagai Ibu sambung ku."


Zia menghelai nafas panjang. Firasat buruk tentang Rendra semakin kuat ia rasakan tapi bagaimana ia mengatasinya, Sedangkan Bella telah mengancamnya untuk tidak mengatakan apapun kepada Bryan.


Di dalam kebingungannya. Zia kembali ke kamar.


Ia duduk di tepi ranjang memikirkan apa yang harus ia lakukan tanpa memberitahu Bryan.


"Apakah Aku harus mencari bukti sendiri, Tapi bagaimana caranya?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2