Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Extra Bab


__ADS_3

Seminggu kemudian Seluruh keluarga besar berkumpul di rumah Bimo yang tengah mengadakan acara tasyakuran dan aqiqah untuk putra mereka. Tak ketinggalan si kembar Zayn dan Zayd yang juga ikut menghadiri acara tersebut meskipun tanpa istri mereka masing-masing.


Mengingat latar belakang Bimo yang pernah menuntut ilmu di pondok pesantren, Acara pun di isi dengan keagamaan mulai dari tahlil, Shalawat dan bacaan Albarzanji yang menggema di seluruh ruangan.


Dengan adat setempat bayi laki-laki Bimo di gendongan mengelilingi para peserta yang hadir untuk di potong rambutnya sebagai syarat untuk pemberian nama. Setelah tujuh orang memotong sedikit rambutnya. Bimo kembali membawa bayi laki-lakinya ke kamar.


Begitu bayi laki-laki itu berpindah ke tangan Bella, Zia dan Alia yang sejak tadi menemani Bella mendekati mereka.


"Siapa tadi namanya, Lupa." ujar Alia mencubit kecil cicit sambungnya tersebut.


"Biyan Hadi Wijaya." ujar Bella.


"Biyan?" tanya Alia penuh arti.


"Ya Bi di ambil dari nama Ayah Bimo, Yan dari Grandpa Bryan dan Hadi Wijaya dari Grandpa Hadi."


"Wah... Itu nama yang sangat manis Sayang," ucap Bryan yang baru datang dan mendengar penjelasan Bella.


"Papah..."


"Zayn dan Zayd juga datang?" tanya Bella yang terkejut melihat si kembar berjalan di belakang Papahnya.


"Bagaimana mungkin kami menolak undangan mu, Bimo adalah sahabat ku dan kamu anak ku." ujar Zayn.

__ADS_1


"Anak?" saut Bimo bingung.


"Yah anak, Apa kamu ini pikun?"


Bimo menggaruk-garuk kepalanya mencoba mencerna maksud dari perkataan Zayn.


"Astaghfirullah... Masih saja berpikir lamban!" Zayn yang gregetan memukul kecil kepala bagian belakang Bimo seperti halnya dulu saat mereka bersama di pesantren.


"Maksud Zayn, Bella adalah anak dari Zia, Adik kami jadi itu artinya semua anak Zia, Anak kami juga." ujar Zayd menjelaskan.


"Denger tuh, Lamban sih..." ucap Zayn.


"Sangat beruntung sekali bukan, Aku memiliki tiga Ayah yang sangat tampan-tampan." timpal Bella meledek sang suami.


"Kamu hanya memuji mereka? Apa suami mu ini kurang tampan?" tanya Bimo.


Seluruh orang yang berada di kamar pun tertawa.


Suasana yang begitu hangat karena setelah cukup lama mereka tidak berkumpul bersama meskipun tanpa kehadiran Faza dan Zahia yang sibuk mengurus bayi mereka.


"Apakah mulai sekarang Aku harus memanggil kalian Papah juga? Atau Ayah?" tanya Bella kepada si kembar.


"Engkong." saut Bimo kesal.

__ADS_1


"Diiih sirik aja," ucap Zayn tertawa melihat raut kesal Bimo.


Orang-orang ikut terkekeh geli melihat Bimo dan Zayn yang masih tak berubah seperti saat mereka di pesantren.


Tawa mereka seketika terhenti mendengar pertanyaan Faraz yang baru datang.


"Sedang bahas apa, Kok kayaknya seru banget. Ketawanya kedengaran sampai luar loh."


"Tentu saja seru, Ini pembahasan anak-anak muda." jawab Bryan.


"Gak sadar diri udah aki-aki masih ngaku muda," ucap Faraz kesal.


Mendengar Papa nya yang tidak jauh beda darinya. Zayn tertawa terbahak-bahak dan hanya diikuti senyum tipis Zayd sembari menggelengkan kepalanya.


"Papa... Papa masih suka cemburu juga sama Om Bryan?" tanya Zayn.


"Ngapain Papa cemburu, Fantengan juga Papa."


"Diiih... Emang orang ganteng gak bisa cemburu? Kan dari dulu Papa cemburu karena Zia bucinin Om Bryan Mulu, Bukan karena adu kegantengan." ujar Zayn tertawa.


"Sekarang tidak, Lagipula sekarang Zia sejak hamil anak kedua tidak suka dekat-dekat dengan suami yang sok muda dan kegantengan inih." ujar Faraz melirik Bryan.


Zayn pun melihat Bryan dan Zia yang memang duduk berjauhan.

__ADS_1


📌 Buat yang belum mampir ke novel "Bukan Niatku Selingkuh" Mampir dong, Besok ku kasih bonus Update kegantengan para pembucin inih 😂



__ADS_2