Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Malper


__ADS_3

Setelah tadi hanya menjalani prosesi adat sungkeman, Kini Faraz dan Alia secara pribadi menemui Bryan dan Bryan di atas pelaminan setelah melihat para tamu yang mulai sepi.


Alia menciumi putri kesayangannya dan memberikan selamat kepadanya, Dilanjutkan dengan bersalaman dengan Bryan untuk memberikan pesan dan nasehatnya tentang bagaimana menghadapi putrinya ketika berumah tangga nanti.


Bryan mengangguk patuh mendengar setiap kata yang keluar dari ibu mertuanya tersebut.


Setelah Alia selesai memberikan pesannya kini giliran Faraz yang menghadap teman sekaligus menantunya tersebut.


Tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Bryan dan membuat Zia menjadi khawatir jika Papanya kembali mengeluarkan kata-kata sinis pada suaminya.


"Pa..."


"Ha!" Faraz tersentak dari pandangannya pada Bryan.


"Apa yang Papa fikirkan?"


"Tidak, Papa hanya sedang mencari apa yang kamu suka darinya."


"Pa, Jangan mulai lagi, Om Bryan sudah menjadi suami ku."


"Suami kok manggilnya Om," ucap Faraz dengan sinis.


"Itu panggilan Sayang Pa," ucap Zia menaik turunkan alisnya.


"Ayolah Papa mertua, Hentikan kecemburuan mu, Sekarang peluk menantu mu dan beri Aku selamat," ucap Bryan tertawa meledek.


"Kita hanya beda kurang dari sepuluh tahun, Jadi jangan berlaga seperti menantu berusia dua puluh tahun."


Bryan hanya tersenyum dan memeluk paksa temannya yang kini telah menjadi mertuanya.


Zia terseyum bahagia melihat dua Pria yang begitu ia cintai saling berpelukan, Dengan langkah kecilnya Zia memeluk Papa dan Suaminya.


•••


Tak terasa hari sudah berganti malam, Tamu undangan pun sudah tidak ada lagi, dan seluruh keluarga yang sudah merasa begitu lelah setelah melakukan berbagai macam prosesi adat pergi ke kamar masing-masing. Begitupun dengan Bryan dan Zia. Namun tidak seperti yang lainnya yang ingin segera tidur, Justru Bryan sangat bersemangat hingga begitu pintu kamar tertutup ia langsung menyesap bibir istri barunya yang masih lengkap mengenakan gaun pengantin beserta aksesorisnya.


"Eummm, Om..." Zia memegang kedua lengan Bryan yang terus menyesapkan lidahnya dengan gerakan mundur sambil membuka jas dan kemejanya.


Zia hanya bisa melangkah mundur mengimbangi langkah Bryan hingga gaun pengantinnya terinjak dan membuat bagian dadanya merosot ke bawah memperlihatkan sebagian besar buah kenyal yang langsung membuat Bryan melepaskan pagutannya menatap buah kenyal itu tanpa kedip.

__ADS_1


Zia langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya.


Bryan terseyum dan memainkan jarinya di belakang telinga Zia hingga membuatnya meremang.


"Kenapa di tutupi, Kita kan sudah menikah," bisik Bryan.


"Z... Zia belum terbiasa saja Om," ucap Zia gugup.


"Kamu akan terbiasa Sayang," Bryan meraih kedua tangan Zia untuk membiarkan buah kenyal terpampang seperti itu.


Zia yang terus melangkah mundur nenabrak ranjang dan tidak bisa menghindar lagi dari tatapan buas suaminya.


Bryan menyeringai dan mendorong tubuh istri kecilnya kemudian langsung membenamkan wajahnya di antara kedua buah kenyal yang sedari tadi begitu menggodanya.


Bryan menghirup aroma buah kenyal itu sebelum mengeluarkan isinya sepenuhnya. Namun baru saja Bryan memegang buah kenyal itu dan ingin mengeluarkan sepenuhnya tiba-tiba kamar mereka di ketuk dari luar.


Zia langsung mendorong tubuh Bryan dan menaikan gaun pengantin untuk menutupi dadanya.


"Ya..." pekik Zia.


"Buka bentar Sayang."


Zia berlari ke arah pintu dan melihat Papa Faraz berdiri di sana.


"Ada apa Pa?"


"A... E... Zia, E... Sebenarnya Papa hanya ingin memastikan kamu sudah istirahat apa belum, Soalnya kan seharian ini kamu begitu kelelahan jadi langsung istirahat ya," ucap Faraz melirik Bryan yang sudah bertelanjang dada.


"Baiklah Papa, Terimakasih perhatiannya, Kalau begitu Zia istirahat." Zia langsung menutup pintu tanpa menunggu persetujuan dari Papanya.


Bryan langsung beranjak dan kembali mendekap sang istri menelusuri dada dan lalu naik ke tengkuknya. Dengan tidak melepaskan sapuan lidahnya Bryan kembali membaringkan tubuh Zia. Namun lagi-lagi pintu kembali di ketuk dari luar.


"Argh!" Bryan memukul ranjang dengan kesal.


"Bentar ya Om,"


"Zia-Zia..." Bryan mencoba menghentikan Zia. Namun Zia terus berlari membuka pintu.


Ceklekkk...

__ADS_1


"Ada apa lagi Pa?"


"Zia, Papa ingin menanyakan apakah kamu perlu obat nyamuk?"


"Obat nyamuk? Sejak kapan rumah kita ada nyamuk?"


"E... Maksud Papa, Tikus atau curut."


"Hah! Di rumah sebesar dan sebersih ini ada tikus, Sejak kapan?"


"Ya mungkin saja, Beberapa hari ini kan rumah kita selalu ramai banyak orang siapa tau ada tikus masuk ke kamar mu," ucap Faraz yang sambil melihat-lihat kedalam.


"Faraz benar-benar sengaja melakukan ini." batin Bryan menatap kesal teman sekaligus Papa mertanya itu.


Sedangkan Faraz yang melihat Bryan kesal terseyum tipis tanda kepuasan di hatinya. Namun belum sempat Zia melihat senyum di bibir Papanya, Mamanya datang menarik tangan Faraz.


"Masuklah Sayang, Dan jangan buka pintu lagi,"


Zia mengangguk patuh dan menutup pintunya.


"Z... Zia..."


"Mas apa-apaan sih kenapa gangguin mereka terus?"


"Alia Aku sedang menyelamatkan putri kita dari kebuasan singa lapar yang sudah tidak makan hampir 20th."


"Apa maksudmu?"


"Alia, Putri kita masih terlalu kecil, Sedangkan Singa buas itu sudah berpuasa selama 20th, Mau jadi apa Anak kita?"


"Oh ya ampun, Kenapa otak Mas berfikir seperti itu, Dasar mesum!"


"Alia seharusnya kamu sebagai Mamanya lebih peduli dengan nya, Karena saat melakukan malam pertama pasti para wanita merasa sakit, Iya kan?"


"Malam pertama ku memang sakit, Tapi lebih sakit karena Mas tidak mau menerima jika kita telah melakukan malam pertama." Alia yang mengingat peristiwa itu menjadi sedih dan meninggalkan Faraz.


"E... Alia... Sayang..." Faraz mengejar Alia yang menjadi marah padanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2