Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Modus


__ADS_3

Keesokan harinya Faraz kembali ke rumah Bryan. Meskipun baru kemarin ia menghadiri aqiqah baby Ziyan. Namun sebelum ke kantor Faraz menyempatkan diri untuk melihat cucu pertamanya tersebut.


"Dimana Zia?" tanya Faraz pada asisten rumah tangga.


"Ada di kamar Tuan, Akan saya panggilkan."


"Hmm, Cepatlah."


"Baik Tuan."


Sambil menunggu ART memanggilkan Zia, Faraz duduk di ruang tamu memainkan ponselnya.


Sementara Bryan yang sudah bersiap ke kantor mendekati Zia yang tengah menyu'sui baby Ziyan. Rasa perih pada ujung dada nya membuat Zia terus meringis kesakitan.


Melihat hal itu Bryan duduk di sampingnya dan mengusap punggungnya "Apa masih terasa sakit?"


"Hmm..." saut Zia.


"Kata orang ini bisa terjadi di awal menyu'sui, Seiring berjalannya hari kamu tidak akan merasakan sakit lagi."


"Tapi ini perih sekali, Lihatlah..." tanpa rasa sungkan Zia menunjukan ujung dada nya yang terlihat ada garisan luka akibat menyu'sui baby Ziyan.


Bryan menelan salivanya melihat bulatan kenyal yang kini nampak lebih besar dan berisi. Seketika celananya menjadi terasa begitu sempit karena Juniornya yang juga ikut menggeliat seolah terbangun dari tidurnya.


"Babe..."


"Hah!" suara Zia mengagetkan pikirannya yang telah berkelana jauh membayangkan nikmatnya meremad dan menyesap kedua buah kenyal Zia. Sejak Zia melahirkan posisinya memang telah terganti oleh baby Ziyan sehingga Ia begitu merindukan nikmatnya memainkan buah kesukaannya itu.


"Bagaimana solusinya?"


"E... Mamanya Bella belum sempat menyu'sui Bella, Jadi Aku tidak berpengalaman dalam hal ini, Tapi jika kamu mau, Aku akan mencoba mengurangi rasa sakit mu."


"Caranya?"

__ADS_1


"Letakkan baby Ziyan dulu, Sepertinya dia sudah tidur."


Zia menganggukkan kepalanya dan meletakan baby Ziyan dengan sangat hati-hati. Setelah itu Bryan berdiri dengan kedua lututnya di depan Zia dan mendekatkan kepalanya ke kedua bulatan kenyal itu.


"Mau ngapain?" tanya Zia kemunduran tubuhnya.


"Aku akan mengurangi rasa sakit mu."


"Kamu sedang tidak modus kan?" tanya Zia dengan polosnya.


"Tentu tidak Sayang, Kamu akan merasa lebih baik jika Aku yang melakukannya."


"Baiklah."


Zia yang sedikit membusungkan dadanya membuat Bryan semakin bergairah ingin segera melahap kedua buah kenyal itu. Namun belum sempat ia melakukannya pintu kamarnya di ketuk dari luar.


Tok... Tok... Tok...


"Siapa yang berrani menganggu di pagi-pagi begini!" ucapnya kesal.


Dengan kesal Bryan beranjak bangun dan membukakan pintu.


Ckleekkk...


"Maaf Tuan, Ada Tuan Faraz menunggu Non Zia di bawah."


"Apa! Pagi-pagi begini?"


"Iya Tuan."


"Baiklah, Katakan kami akan segera turun."


ART mengangguk patuh dan meninggalkan kamar Bryan untuk menjalankan perintah nya.

__ADS_1


"Papa datang?" tanya Zia.


"Hmm..." Bryan kembali ke posisinya untuk melanjutkan yang tadi sempat tertunda. Namun Zia menghentikan aksinya karena Papa Faraz telah menunggunya.


"Papa menunggu kita dan kamu masih ingin melanjutkannya?"


"Kemarin Papa Faraz baru saja kemari, Tidak ada salahnya jika dia menunggu sebentar saja."


"Tapi..."


Bryan tidak mempedulikan protes Zia dan kembali ingin melahap buah kenyal itu. Namun lagi-lagi pintu kamarnya kembali di ketuk dari luar.


"Oh astaga! Kenapa terus saja mengganggu!" Bryan menoleh ke arah pintu dan melihat Faraz yang sudah berdiri di ambang pintu.


Bryan langsung bangkit dan menjadi gugup melihat Papa mertuanya tersebut. Ia meletakkan kedua tangannya ke bawah untuk menutupi juniornya yang masih menegang di balik celananya.


"Papa kenapa tidak mengetuk pintu?" tanya Zia sambil merapikan kancing bajunya.


"Kalian tidak mengunci pintu."


"Aku merasa tadi Aku sudah mengunci pintunya." saut Bryan.


"Apa kamu menuduhku berbohong?"


"Bukan begitu Papa mertua tapi..."


"Ahh sudahlah Aku tidak ingin berdebat dengan mu, Aku kemari hanya ingin melihat cucuku." Faraz langsung menerobos masuk kedalam melihat baby Ziyan yang di baringkan di ranjang.


"Baby Ziyan masih tidur Pa."


"Tidak masalah, Aku hanya ingin melihatnya."


Bryan menggaruk-garuk kepalanya. Hatinya begitu gusar, Niatnya untuk melepaskan kerinduannya pada Zia sebelum berangkat ke kantor di gagalkan oleh Papa mertuanya yang pagi-pagi sekali sudah berada di rumahnya.

__ADS_1


"Oh ya Zia, Jika kamu merasa sakit saat menyu'sui baby Ziyan, Kamu bisa mengoleskan luka mu dengan air Asi mu, Jangan mau di modusin sama suami mesum mu ini." Faraz menatap sinis Bryan dan keluar dari kamar mereka.


"Hah! Sudah ku duga," ucap Bryan menggelengkan kepalanya. Ia sudah menyangka pasti Papa mertuanya melihat apa yang ia ingin lakukan pada Zia.


__ADS_2