
Tidak seperti biasanya yang selalu ingin bermesra-mesraan terlebih dahulu, Bryan yang sudah sampai di depan rumah Faraz, Bergegas keluar membukakan pintu mobil untuk Zia. Ia tidak ingin membuat Faraz menunggu lebih lama dan kembali mengumpatnya.
"Sampai ketemu Sayang." Bryan mengecup kening Zia sekejap karena khawatir di dalam nanti tidak akan ada kesempatan untuk mereka bicara.
Dan benar saja, Belum juga mereka masuk, Faraz sudah keluar meneriaki mereka.
"Zia, Cepat masuk! dan kamu Bryan, Menghadap kemari."
"Om..." Zia meraih tangan Bryan dengan khawatir. Namun itu tidak berlangsung lama karena Faraz kembali bertriak menyuruhnya masuk.
"Zia, Nurut sama Papa!"
"Masuklah Sayang, Om akan menghadapi kecerewetan Papa mu itu," lirih Bryan dengan sedikit tawa mengejek.
"Bryan, Kamu membicarakan ku?"
Bryan tak menjawab dan hanya melangkah di belakang Zia yang akan masuk ke dalam sesuai perintah Papanya. Kemudian Bryan berhenti di depan Faraz yang terlihat sedikit mengangkat dagunya.
"Kenapa melakukan apapun semau mu tanpa mendiskusikan terlebih dahulu kepada ku?"
"Faraz..."
"Tuan Faraz!" tegas Faraz.
"Ya, Baiklah Tuan Faraz, Kenapa kamu jadi bersikap seperti ini padaku? Kita bukan baru kenal sebulan dua bulan, Kita sudah berteman lebih dari sepuluh tahun. Seharusnya kamu merasa senang karena putri kesayangan jatuh kepada ku, Kamu jadi tidak perlu khawatir memikirkanan bagaimana Aku memperlakukan Zia nanti karena kamu sudah mengenalku dengan baik.
Sekarang coba kamu fikirkan jika Zia menikah dengan orang yang belum lama kamu kenal, Apakah kamu tidak akan merasa khawatir bagaimana suaminya akan memperlakukannya?"
"Ucapannya memang benar, Tapi justru karena Zia sangat cinta mati padanya membuat Zia terus menempel padanya dan tidak memiliki banyak waktu dengan ku." batin Faraz yang terus menatap Bryan dengan cemburu.
"Ada yang ingin kamu katakan?"
Belum sempat Faraz menjawabnya, Bryan kembali bicara hingga menutup mulut Faraz yang sudah terbuka.
"Jika tidak Aku akan istirahat, Besok serangkaian acara harus kita lewati, Seperti lamaran, Siraman, Pengajian dan rangkaian acara lainnya akan di selesaikan besok, Jadi beristirahatlah, Jangan sampai kamu terlambat bangun menyambut calon menantu mu." Bryan terseyum menepuk lengan Faraz kemudian pergi meninggalkan rumahnya tanpa menunggu seizin calon mertuanya.
"Hah! Kenapa dia yang jadi mengatur ku, Aku kan yang mertuanya." ucap Faraz yang melihat kepergian mobil Bryan.
__ADS_1
•••
Bryan tengah bersiap di depan cermin untuk acara lamaran.
dengan mengenakan stelan kurta berwarna pastel, Bryan nampak begitu tampan hingga siapapun yang melihatnya tidak akan pernah menyangka jika ia telah memiliki Anak remaja yang sudah mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi.
Baru saja Bryan mengingat sang putri, Suara manja sang putri terdengar memanggilnya.
"Papah..."
Bryan menoleh ke arah pintu dan tersenyum lebar melihat putri semata wayangnya tiba tepat di hari yang begitu penting baginya.
"Sayang..." Bryan merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut putri kesayangannya memeluknya.
Dengan setengah berlari, Bella terseyum dan memeluk Papahnya yang begitu ia rindukan.
"Apa kabarmu Sayang?"
"Belum Sayang, Bersiaplah, Papah akan menunggumu."
"Papah terlihat begitu tampan."
"Dan kamu juga begitu cantik, Bersiaplah."
Bella mengangguk dan pergi ke kamarnya.
Di kediaman keluarga Faraz, Seluruh keluarga juga tengah bersiap di kamar masing-masing. Terutama Zia yang ingin terlihat tak bisa di depan kekasih dudanya. Zia yang biasanya hanya mengenakan make-up natural sesuai usianya, Kini memoles bibirnya dengan warna merah menyala agar terlihat lebih sedikit dewasa dari usianya.
Setelah selesai bersiap Zia turun ke bawah dan melihat seluruh keluarganya yang sudah duduk bersama di ruang tamu.
Faraz berdiri menatap putri kesayangannya yang terlihat begitu cantik mempesona dengan langkah yang begitu anggun. Dalam hatinya semakin timbul rasa tak rela menyerahkan anak gadisnya kepada orang lain.
"Cucu Oma cantik sekali," ucap Zeenat menyambut Zia dan mencium pipi kanan kirinya.
"Terimakasih Oma."
__ADS_1
"Duduklah Sayang," ucap Alia.
"Hallo semua, Aku belum terlambat kan?"
Seluruh keluarga menoleh ke arah suara dan terseyum bahagia melihat kedatangan Zayn.
"Kak Zayn." Zia langsung berlari memeluk kakak sulungnya.
"Anak nakal, Dah mau nikah aja, Gimana kabar mu?" tanya Zayn sambil mencubit pipi Zia.
"Seperti yang Kak Zayn lihat, Katanya Kak Zayn juga mau nikah ya?"
"Setelah pernikahan mu selesai," ucap Zayn terseyum.
"Selamat untuk mu Zayn," sambung Zayd yang mendekatinya.
"Terimakasih Zayd, Semoga kamu juga segera bertemu dengan jodohmu."
Zayd terseyum getir dan mengingat Zahia yang masih terpuruk dengan kematian suaminya.
"Ada apa Zayd, Ada masalah?"
"Tidak."
"Jangan sedih Zayd, Meskipun sekarang kamu belum menemukan jodoh mu, Tapi percayalah kelak kamu akan menemukan jodoh terbaik seperti Papa menemukan Mama kalian."
Zayd terseyum menganggukkan kepalanya.
"Zayn..." Faraz memeluk putra sulungnya yang sudah begitu lama tidak bertemu. Kemudian meraih Zayd dan Zia agar turut serta memeluknya.
Tak mau ketinggalan Alia juga ikut memeluk mereka dengan haru karena ketiga anaknya akhirnya bisa berkumpul di hari yang penuh kebahagiaan.
Kakek Zhehzad terseyum bahagia merangkul Oma Zeenat.
Mereka tidak pernah menyangka perjodohan paksa yang mereka lakukan pada Faraz dan Alia. Bisa bertahan hingga kini dengan di anugerahi Anak-anak yang melengkapi kebahagian keluarga besarnya.
Bersambung...
__ADS_1