
Tok... Tok... Tok...
Pintu terus di ketuk dari luar, Sementara Bryan masih dengan posisinya yang belum berubah.
"Maaf Tuan Bryan, Tuan Faraz ingin menemui Anda," ucap Siska dari luar pintu.
"Hah! Papa?"
"Faraz!"
Zia langsung turun dari atas tubuh Om Bryan,
Begitupun dengan Om Bryan yang langsung berdiri dan segera mengaitkan semua kancing kemejanya.
"Gimana ini Om?"
"Zia carilah tempat sembunyi di manapun yang penting Papa Faraz tidak melihat,"
Zia menjadi panik berlari kesana kemari tak tau harus bersembunyi di mana.
"Sayang ayolah, Tubuh mu kecil kamu bisa bersembunyi di belakang sofa atau di bawah meja kerja Om," lirih Bryan yang nyaris mulutnya tak terbuka.
"Ya, Om benar." Zia pun berlari ke kolong meja dan bersembunyi di sana.
Bryan menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu berusa bersikap tak terjadi apa-apa.
"Faraz, Masuklah."
Faraz masih berdiri di tempatnya menatap Bryan dengan aneh hingga membuat Bryan salah tingkah.
"Apa ini yang kamu coba sembunyikan sampai lama sekali membuka pintu?"
"Hah!"
"Berkelahi dengan siapa, Kenapa babak belur seperti itu?"
"Oh." Bryan merasa lega karena Faraz hanya menanyakan kondisinya tanpa mencurigai yang lain.
"Ini hanya ulah Anak-anak yang tidak mendapat keinginannya dan melampiaskannya pada ku."
__ADS_1
"Maksud mu?"
"Seseorang yang sangat terobsesi dengan putri mu."
"Anak sialan itu lagi?"
"Sudahlah, Sekarang katakan apa yang membuat mu kemari?"
"Ya baiklah, Jika tidak untuk pekerjaan Aku juga malas menemui mu!"
"Kamu masih marah padaku?"
"Apa putri ku sudah tidak marah pada mu?"
Bryan terdiam, Ia ingin memberitahukan kepada Faraz, Tapi tidak sekarang, Bryan tidak ingin Faraz berlama-lama dan membuat kekasih kecilnya terlalu lama bersembunyi.
"Belum kan? Bagus. Zia memang lebih pantas dengan Dimas."
"Ni beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani dan ini berkas yang kamu harus pelajari, Besok kita ada meeting untuk proyek baru kita."
Bryan mengangguk dan langsung menandatangani sesuai permintaan Faraz.
"Masuk."
"Ini pesanannya Tuan."
Bryan menjadi panik karena dua porsi makanan yang ia pesan pasti akan menimbulkan pertanyaan dari Faraz yang melihatnya.
Dan benar saja begitu pelayan pergi Faraz langsung bertanya penuh curiga.
"Kamu memesan dua porsi makanan? Apa ada orang lain di ruangan mu?" Faraz melihat kesana-kemari penuh curiga.
"Apa yang kamu katakan Faraz, Tentu orang lainnya adalah kamu."
"Tapi kamu memesan makanan sebelum Aku datang, Setelah Aku datang, Aku tidak melihat kamu memesan makanan?"
"Faraz, Sebenarnya Aku lapar sekali, Dari semalam Aku belum makan, Jadi Aku memesan dua porsi, Tapi karena kamu datang kita bisa memakannya bersama."
"Hegh! Nggak sudi." Faraz beranjak dari duduknya dan melangkah keluar.
__ADS_1
Bryan menarik nafas lega dan mengikuti Faraz sampai ke pintu.
"Faraz maafkan Aku," ucap Bryan begitu Faraz keluar dari ruangannya.
Faraz hanya menoleh ke arah Bryan tanpa mengatakan apapun.
"Aku akan memperbaiki semua kesalahanku dan merebut kembali hati putri mu,"
"Kamu harus bisa merebut hati ku terlebih dahulu sebelum merebut hati putri ku! Aku tau betul putri ku pasti akan mudah meleleh dengan rayuan gombal mu, Tapi Aku tidak!"
Bryan terdiam dan memastikan Faraz benar-benar pergi meninggalkan perusahaannya.
Setelah terasa aman, Bryan kembali masuk dan mengunci pintu ruangan agar tidak ada lagi yang mengganggu kebersamaannya dengan kekasih kecilnya.
Bryan bergegas menuju meja kerjanya dan melihat kekasih kecilnya yang masih bersembunyi di sana.
"Sayang..." Bryan mengulurkan tangannya pada Zia yang langsung di sambutnya.
"Papa lama banget sih, Badan Zia jadi pegel semua."
"Nanti Om pijitin, Tapi sekarang kita makan dulu." titah Bryan pada kekasih kecilnya.
Mereka pun mulai makan bersama dengan sesekali saling menyuapi satu sama lain. Sikap jutek Faraz seolah tidak jadi masalah besar buat mereka berdua karena cinta keduanya telah kembali membara setelah sempat layu karena masalah restu.
Seperti saat ini, Setelah selesai makan Bryan langsung meraih tubuh Zia ke pangkuannya dan membersihkan sisa makanan di ujung bibir Zia menggunakan lidahnya.
"Om!" Zia terkejut dengan apa yang tiba-tiba Bryan lakukan padanya.
"Cemang Cemong ya?" tanya Zia mencoba membersihkan sendiri.
"Nggak, Om pengin aja, Dari tadi Om ingin gigit tapi banyak yang menganggu."
"Iiih modus terus?" dengan senyum malu-malu Zia menepuk lengan Om Bryan.
"Zia juga suka kan di modusin?" ujar Bryan tertawa.
Tanpa menjawab pertanyaan Om Bryan, Zia langsung menyatukan tubuhnya ke pelukan Om Bryan yang telah membaringkan tubuhnya di Sandara sofa.
Salah satu alasan Zia kenapa Ia begitu nyaman dengan Om Bryan yang usianya jauh di atasnya apa lagi dengan perawakannya yang sempurna membuat ia bisa bermanja-manja di atas tubuh kekasih dudanya seperti anak kecil di pangkuan ayahnya.
__ADS_1
Bersambung...