Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Semakin Berga'irah


__ADS_3

Tak terasa ujian sekolah telah selesai.


Seperti tahun kemarin Saat Papanya mengambil Raport, Tahun ini Zia juga menunggu hasil ujiannya bersama kekasih dudanya di kantor.


Dengan harap-harap cemas, Zia tidak bisa duduk diam menantikan telfon dari Papahnya yang belum juga memberinya kabar.


Bryan yang duduk di depan komputer mulai merasa terganggu dengan Zia yang tidak berhenti mondar-mandir di depannya. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan mendekap kekasih kecilnya tersebut untuk menghentikan pergerakannya.


"Kenapa kamu begitu cemas Sayang?"


"Nilai." ucapnya singkat.


"Apa pengaruhnya? Bukankah nilai baik atau buruk tidak akan lagi mempengaruhi hubungan kita? Kita kan masih backstreet," ucap Bryan tertawa.


"Iya tetap saja, Ntar kalau nilai Zia jelek, Zia gak boleh nikah cepet-cepet, Pasti suruh fokus kuliah dulu."


"Emang Zia sudah gak sabar ya pengin nikah sama Om?" goda Bryan hingga membuat Zia memerah karena malu dan mencubit pinggang Om Bryan.


"Emang Om gak pengin cepet-cepet nikahin Zia?"


"Pingin. Pengin banget malah, Om sudah tidak sabar ingin mendengar bagaimana Zia mende'sah hebat saat penyatuan cinta kita." bisikin Om Bryan dengan kata-kata menggoda membuat tubuh Zia berdesir. Ditambah lagi dengan jari-jemari tangan Bryan yang bermain di belakang telinganya, Semakin membuat Zia meremang memejamkan matanya.


Bryan membopong tubuh Zia dan memangkunya di kursi kebesarannya.


Zia yang menyandarkan kepalanya di ceruk leher Om Bryan menoleh ke belakang melihat komputer.


"Om mau kerja?"


Bryan menganggukkan kepalanya dengan mata terus tertuju pada komputer.


"Biar Zia turun."


"Nggak usah, Om bisa kerja sambil mangku Zia."

__ADS_1


"Tapi susah Om, Biar Zia turun aja."


"Baiklah tapi cium dulu."


"Selalu deh cari kesempatan,"


"Nggak mau ya udah, Biar aja" Bryan mempererat pelukannya dengan menyusuri dada Zia kemudian naik ke lehernya.


Zia menengadahkan kepalanya ke atas hingga tubuhnya melengkung dengan indah. Hal ini membuat Bryan hanya bisa menjangkau dada dan perutnya.


Tidak mau mensia-siakan, Bryan langsung menarik pinggang ramping itu dan mengecup pusarnya yang sudah terbuka.


Zia menggeliat geli dan meremad rambut Om Bryan yang terus mengecup perutnya. Pinggulnya yang tidak bisa diam membuat Bryan semakin tergoda dan berdiri membopong Zia kemudian menurunkannya di meja.


Mereka Berhenti sejenak melihat barang-barang yang berjatuhan dari meja. Namun gai'rah yang sudah menguasai keduanya kembali menautkan bibir keduanya tanpa memandang tempat yang sedikit menyulitkan mereka.


"Eummhhh... Ehhh... Om... Hhh..."


"Zia Sayang... Ahhh.."


Bryan terseyum dan membiarkan kekasih kecilnya menunjukan gai'rahnya.


"Om... Ohhhhh, Eummhhh." Zia memberi gigitan ke bibir Om Bryan dengan gemasnya hingga membuat kedua mata Om Bryan membulat sempurna.


"Aow! Ini terlalu kasar Sayang," ucap Bryan menutupi bibirnya dengan telapak tangannya.


"M-m-maaf Om..." Zia memerah sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kamu terlalu bersemangat." Bryan terseyum dan mengesap bibir Zia sekejap karena ponsel Zia mengganggu mereka.


Dengan terus memegangi pinggang ramping Zia, Bryan membiarkan kekasih kecilnya mengangkat telfon dari Papahnya.


"Ya Pa."

__ADS_1


"Kamu dimana Sayang, Papa sudah di rumah nih."


"E... Bentar lagi Zia pulang Pah, Gimana nilai ujian Zia Pa?"


"Pulanglah dan lihat sendiri hasil ujianmu."


Mendengar nada suara Papanya, Membuat Zia tegang jika nilai ujiannya pasti jelek.


"Ada apa Sayang?" Bryan menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.


"Suara Papa beda, Gimana kalau hasil ujian Zia jelek?"


"Pacaran mulu sih." goda Om Bryan mencubit hidungnya.


"Iiihhh kan Om yang ngajakin balikan!" Zia membalas dengan memukul lengannya.


"Terus kenapa Zia mau?"


"Om yang maksa!"


"Alesan, Gak di paksa juga nyamperin Om terus."


"Iiihhh nyebelin banget sih! Ya udah Zia gak mau nyamperin Om lagi!" dengan kesal Zia turun dari meja dan mencoba pergi meninggalkan ruangan. Namun Bryan kembali menarik tentang Zia ke sisinya.


"Om hanya bercanda,"


Zia masih diam mencebikan bibirnya.


"Om antar ya, Biar sekalian bilang Ama Papa Faraz kalau kita sudah balikan dan gak tahan lagi ingin menikah," ucap Bryan tertawa.


Zia tersenyum malu-malu sembari mencubit perut Om Bryan.


Bryan meraih tangan Zia dan mengajaknya keluar untuk segera menemui calon mertuanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2