Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Hukuman


__ADS_3

Setelah masalah Rina selesi, Kini Bryan dan Zia di pusingkan siapa yang akan mengasuh baby Ziyan selama Zia kuliah.


Karena itu setelah melakukan diskusi dengan keluarga, Untuk sementara waktu, Alia setuju untuk menjaga baby Ziyan sampai mereka mendapat pengganti Rina.


"Baiklah kalau begitu setiap pagi Mama akan kesini dan sore harinya Mama pulang," ucap Alia.


"kenapa harus pulang pergi, Kenapa tidak tinggal di sini untuk sementara?" timpal Faraz.


Bryan yang mendengarnya tidak begitu senang mengingat Faraz yang selalu ingin mencampuri urusannya dengan Zia. Dan hal itu di sadari oleh Faraz yang langsung mempertanyakan keresahan Bryan.


"Kenapa Bryan, Kamu terlihat tidak senang?"


"Hm! Tidak juga, Aku hanya sedang berpikir apakah Papa mertua akan bisa tidur nyenyak di sini, Mengingat Aku dan Zia selalu buat gaduh tiap malam?" Bryan menaik turunkan kedua alisnya untuk menggoda Papa mertuanya.


Mendengar hal itu Faraz mengatupkan giginya seakan ingin melempar gelas yang ada di tangannya pada Bryan.


"Babeee..." malu-malu Zia mencubit pa'ha Bryan.


Sementara Alia hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat suami dan menantunya yang tidak pernah akur.


"Tidak perlu Mas, Aku akan datang saat Zia akan berangkat kuliah dan pulang saat Zia pulang. Lagipula seharian Mas juga di kantor kan, Jadi Aku tidak akan mengabaikan tanggung jawab ku."


"Mama mertua memang terbaik, Terimakasih pengertian dan bantuannya," ucap Bryan bersemangat.


Faraz yang mendengar keputusan Alia ingin memprotes. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu Alia langsung menarik tangan Faraz untuk berpamitan.


"Baiklah Bryan... Zia, Mama dan Papa pulang dulu besok pagi Mama datang lagi, Sekarang baby Ziyan juga sudah tidur."

__ADS_1


"Iya Ma, Terimakasih."


"Terimakasih juga Papa Mertua." Bryan tersenyum puas melihat Faraz kesal karena tak berhasil membujuk Alia untuk tinggal bersamanya.


Setelah kepulangan Faraz dan Alia. Bryan menoleh ke arah Zia yang juga tengah menatapnya. Mereka terdiam dan saling menatap sesaat, Kemudian Bryan masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun.


"Babe.... Babeee..." Zia berlari mengejar Bryan yang menuju kamarnya.


Sebenarnya Bryan tidak marah pada Zia. Namun ia sengaja melakukannya karena ingin melihat reaksi Zia saat ia marah padanya.


"Babeee..."


"Hsssttt!" Bryan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri sambil menunjuk baby Ziyan yang tengah tertidur pulas.


Melihat baby Ziyan tidur pulas di ranjangnya, Tanpa berbicara lagi Zia menjinjitkan kakinya dan langsung menci'um bibir Bryan.


Setelah cukup lama, Zia melepaskan kecupannya dan bergelayut manja di leher Bryan.


"Maafkan Aku." lirihnya.


"Apa begitu caramu meminta maaf?!" Bryan masih bersikap dingin untuk melihat mimik wajah Zia yang terlihat semakin menggemaskan di matanya.


"Babeee...." Zia mencebikan bibirnya memasang wajah sesedih mungkin.


"Kemarilah! Kamu harus menerima hukuman karena telah berani meragukan kesetiaan ku!" dengan kasar Bryan menarik tangan Zia dan melepaskannya dengan sedikit kasar.


"Aowhhh..." Zia memegangi pergelangan tangannya dan merasa begitu terkejut melihat Bryan yang untuk pertama kalinya bersikap kasar padanya. Kemudian Bryan mendekat dan memutar tubuh Zia merapat ke dinding kaca yang memperlihatkan keindahan kota Jakarta.

__ADS_1


Dengan menekan kepala Zia ke dinding kaca tersebut, Bryan menyingkap mini dress yang Zia kenakan dan melesapkan miliknya.


Huja'man kuat tanpa pemanasan membuat Zia memekik cukup keras.


"Ini hukuman mu Sayang," ucap Bryan yang mulai memaju mundurkan pinggulnya.


Rasa sakit yang sebelumnya Zia rasakan kini berganti dengan rasa nikmat karena sensasi berbeda yang Bryan berikan.


Sambil terus menghentakkan miliknya Bryan mengangkat ceruk leher Zia dan mengarahkan ke belakang. Kemudian Bryan melum'at bibir Zia dengan brutal.


"Eummmhhh... Hhhhh...." hanya lenguhan nikmat yang sedikit keluar dari celah bibir Zia karena terbungkam oleh luma'tan brutal dari Bryan.


Setelah puas menikmati bibir ranum Zia, Bryan menurunkan sapuan bibirnya ke punggung Zia sambil mempercepat hentakannya.


Zia semakin meracau tak karuan ketika merasa akan mencapai puncak kenikmatannya.


"Babeee... Akhhhhh... Hhhhhh..."


Tidak berbeda dengan Zia, Bryan juga merasa ingin segera meleda'kan benih kehidupan kedalam rahim Zia.


"Aku sampai Sayang... Oughhhhhhhh...." Bryan yang kemudian menegang, Membenamkan wajahnya di punggung Zia yang penuh dengan keringat kenikmatan.


Setelah tenaganya kembali pulih, Bryan membopong tubuh Zia yang lemas ke ranjangnya.


"Jangan berani macam-macam jika tidak ingin lebih lemas dari ini." ancam Bryan yang sambil menyelimuti seluruh tubuh Zia yang nampak langsung memejamkan matanya.


__ADS_1


Bahan Traveling Mak wkwkwk 🤣🥵🔥


__ADS_2