
Seminggu kemudian, Acara pemberian nama pun telah selesai di laksanakan dengan lancar tanpa suatu kendala apapun. Seluruh keluarga besar pun telah beristirahat di kamar masing-masing.
Tak terkecuali dengan Bryan yang kembali ke kamar setelah berbincang-bincang dengan seluruh keluarga.
Ckleekkk...
Bryan berhenti di ambang pintu ketika melihat Zia tertidur saat memberi Asi kedua bayi kembarnya.
Bryan kembali melangkah dan mengecup lembut kening Zia kemudian dengan sangat hati-hati mengambil salah satu bayi yang terlihat masih belum melepaskan ASI-nya. Sontak bayi mereka pun menangis dan membangunkan Zia dan juga saudara kembarnya.
Melihat itu Bryan menjadi panik dan kembali meletakkan bayinya di pangkuan Zia.
"Babe...!!! Kenapa membangunkannya?"
"Aku tidak sengaja Sayang."
"Gak ngerasain banget sih, Seharian mereka tidak mau tidur, Baru aja mereka tidur Babe bangunin mereka!!!" Zia menangis seperti anak kecil diiringi oleh tangis kedua bayinya. Membuat Bryan bingung memegangi kepalanya.
"Sayang... Maafkan Aku, Jangan menangis begini, Aku tau kamu lelah mengurus mereka sendiri, Sebab itu Aku menyarankan untuk menggunakan jasa Baby sitter, Tapi kamu tidak mau."
"Apa Babe tidak belajar dari pengalaman? Atau Babe sengaja ingin menggunakan jasa Baby sitter agar Babe bisa mengambil kesempatan karena Aku sedang tidak bisa melayani mu?!"
"Apa yang kamu katakan Zia?! Kenapa berpikir seperti itu, Apa Aku pria seperti itu? Kamu mengenalku, Tega sekali kamu bicara seperti itu padaku!'
__ADS_1
Mendengar jawaban Bryan dan menatap kekecewaan di wajah Bryan. Zia merasa menyesal dan meminta maaf atas apa yang di ucapkan.
"Maafkan Aku Babe... Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu, Aku benar-benar merasa lelah sehingga Aku tidak bisa berpikir jernih."
"Sebab itu Aku ingin meringankan beban mu Sayang. Kamu takut Baby sitter akan sama seperti Rina, Tapi perlu kamu ingat setiap orang berbeda-beda jadi jangan sama ratakan, Mama Alia sudah repot mengurus Ziyan, Tidak mungkin jika kita membebankan Belva dan Belvana ke mama Alia juga."
Zia mencebikan bibirnya di sisa-sisa tangisannya.
Dengan menghelai nafas dalam-dalam Bryan memeluk Zia dan mengusap rambutnya.
"Aku hanya tidak ingin kamu lelah dan mengalami baby blues.
Bisa saja Aku membantumu menjaga mereka, Tapi bagaimana saat Aku bekerja? Kamu mengurus dua bayi Sayang..."
"Baiklah, Aku setuju, Tapi dengan satu syarat."
"Syarat?"
"Ya."
"Apa syaratnya?"
"Babe tidak boleh bicara apalagi berduaan dengan Baby sitter. Pokoknya kalau baby sitter ada di ruang bayi, Babe tidak boleh masuk tanpa diriku. Jika Baby sitter masuk ke kamar mengantar mereka padaku, Babe harus berbalik badan. Pokoknya Babe tidak boleh menatapnya. Jika tanpa sengaja kalian berpapasan, Babe harus menundukkan pandangan. Dan terakhir jangan pernah mengambil kesempatan saat Aku tidak ada."
__ADS_1
"Kamu tidak percaya dengan ku?"
"Bukan tidak percaya dengan mu Babe, Tapi Aku tidak percaya dengan orang baru. Apa lagi dia akan begitu dekat dengan anak-anak kita."
"Yah, Baiklah. Aku akan mengingat semua larangan mu."
"Terimakasih Sayang, Eeummmuach." Zia mengalungkan kedua tangannya dan mengecup pipi Bryan berkali-kali.
"Dasar posesif." ujar Bryan mencubit pipi Zia.
"Aowwhh..." Zia memukul lengan Bryan dengan manja.
Karena keasyikan bercanda mereka baru tersadar jika kedua bayi mereka masih menangis di tempat tidurnya.
"Hah! Bayiku..." ucap Zia yang langsung menggendong Baby Belva.
Di ikuti oleh Bryan yang menggendong Baby Belvana.
Mereka kompak menimang-nimang Bayi kembar mereka sambil sesekali melempar senyum satu sama lain.
📌 Kemarin sepi dan banyak yang bilang udah Tamat selamanya.
Jika kali ini masih sepi juga, Berarti emang minta di tamatin Selamanya alias gak ada Extra Bab lagi #ngancem 🤣
__ADS_1