
Seperti biasanya, Bryan yang selalu bangun lebih awal dari Zia akan kembali memeluk dan menci'umi sang istri yang masih terlelap untuk membangunkannya. Namun tidak seperti biasanya kali ini Zia menolak pelukan itu sambil memarahinya.
"Lepasin! Gak tau masih ngantuk apa?!" bentak Zia kemudian menggeser tubuhnya dan kembali memejamkan matanya.
"Kalau begitu akan ku buat kamu tidak mengantuk." goda Bryan yang kembali merengkuh tubuh Zia sambil menci'umi punggungnya.
"Babe! Menjauhlah, Nyebelin banget sih!" Zia beranjak duduk menjauh dari Bryan yang juga duduk menatap heran Zia.
"Ada apa dengan mu? Apa Aku membuat kesalahan?"
"Jelas Babe membuat kesalahan. Aku sudah bilang kalau Aku masih mengantuk, Kenapa terus menggoda ku?"
"Sayang bukankah itu rutinitas kita sehari-hari? Lagi pula kamu harus kuliah kan?"
"Tidak! Aku tidak mau kuliah dan Aku tidak mau ngapa-ngapain, Aku hanya ingin tidur, Jadi berhentilah menganggu ku!"
Bryan tak bisa lagi memprotes dan hanya bisa melihat Zia yang kembali menutup tubuh dengan selimut tebalnya.
"Ada apa dengan nya, Tidak biasanya Zia menolak ku seperti ini." batin Bryan.
Kemudian Bryan beranjak bangun dari ranjang dan keluar meninggalkan kamar. Ia turun ke bawah dan melihat Mama Alia dan Papa mertuanya yang sudah datang.
Sudah tiga bulan ini Alia rutin datang pagi pulang sore, Dengan di antar Faraz yang sekalian berangkat ke kantor.
Karena pengalaman pahit yang memiliki babysitter seperti Rina, Membuat Bryan dan Zia begitu selektif mencari pengasuh Baby Ziyan agar tidak terulang kembali kasus seperti yang pernah mereka alami.
Lagi pula, Alia dengan senang hati mengasuh cucunya sehingga Bryan dan Zia tidak begitu terbebani tanpa kehadiran Babysitter untuk putranya.
"Kemana Zia, Tumben belum kelihatan?" tanya Faraz.
"Ada di kamar, Katanya masih ngantuk."
"Memang gak kuliah?" sambung Alia.
"Katanya hari ini dia tidak ingin melakukan apapun, Dia hanya ingin tidur."
"Tumben," ucap Alia yang kemudian berlalu pergi ke kamar Baby Ziyan.
Melihat Alia pergi, Faraz mendekati Bryan dan mempertanyakan kecurigaannya.
"Apa kamu yang membuatnya tidak bisa bangun?"
"Apa maksud Papa mertua?"
"Kamu jangan pura-pura polos, Kamu pasti habis menghajarnya semalaman kan sampai putriku tidak bisa membuka matanya?"
"Oh astaga, Hanya itu kah di kepala Papa mertua?"
"Itu bukan rahasia lagi jika kamu begitu bernaf'su kepada putri ku."
"Putri mu adalah istri ku, Dan istri adalahΒ ladangΒ bagi suaminya, Maka datangilah ladang itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai.
Itu tertera di dalam surah Al-Baqarah Ayat 223. Jadi biarpun Aku semalaman menghajarnya, Itu halal untuk ku selagi istri ku tidak keberatan."
"Jangan membawa-bawa Ayat untuk berdebat!"
"Sesekali itu di perlukan untuk membungkam mulut orang-orang yang julid seperti Papa mertua."
__ADS_1
"Bryan kau...!" kemarahan Faraz terhenti saat mendengar Alia berteriak mengetuk-ngetuk pintu kamar Zia.
Faraz dan Bryan segera berlari ke atas untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa Mama Alia?" tanya Bryan.
"Aku mendengar Zia terus muntah-muntah, Aku coba masuk tapi pintunya di kunci."
"Di kunci? Tadi Aku meninggalkan kamar tidak ku kunci."
"Tapi nyatanya sekarang di kunci, Jadi jangan buang waktu, Cepat ambil kunci cadangannya!" omel Faraz.
"Ya baiklah."
Tak berapa lama kemudian Bryan kembali membawa kunci cadangan. Mereka langsung masuk ke kamar mandi di mana terdengar suara Zia yang terus muntah-muntah.
"Sayang kamu baik-baik saja?" tanya Bryan mendekati Zia mencoba mengusap punggung Zia. Namun Zia segera menepis tangan Bryan agar tidak menyentuhnya.
Melihat hal itu Faraz mendekati putri kesayangannya dan melakukan hal yang sama seperti yang coba Bryan lakukan.
"Sayang, Apa kamu masuk angin?" tanya Faraz.
"Gak tau Pa, Rasanya gak enak banget, Kaya pingin muntah terus."
"Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanya Alia.
"HAMIL...?!" ucap Faraz, Bryan dan Zia bebarengan dan saling melihat satu sama lain.
Alia mengangguk-anggukan kepalanya untuk menegaskan ucapannya.
Bryan hanya bingung menatap Baby Ziyan yang usianya belum genap lima bulan.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
π PROMO NOVEL TERBARU AUTHOR "MENIKAHI AYAH PELAKOR"
CUPLIKAN BAB 1 π₯π₯π₯
"Akhhhhhhhhhh.... Oughhh... Vanya..." Seorang pria tengah mengerang nikmat sambil menggenggam rambut seorang wanita yang berjongkok di bawah kursinya untuk mempercepat permainan yang tengah di lakukan oleh wanita tersebut. Sementara wanita yang bernama Vanya itu tersenyum puas karena berhasil membuat Pria yang berstatus suami orang itu menikmati permainannya hingga tak berhenti mengerang keenakan. Namun kenikmatan itu seketika terhenti saat pintu ruangannya tiba-tiba ada yang membukanya.
"Surprise..." ucap seorang wanita berpenampilan sederhana membawa kue tart di tangannya.
"Maya...!" pria itu terkesiap dan langsung merubah posisi duduknya dengan tegap seoalah tak terjadi apapun.
"Mas Alvin... Ada apa, Kenapa terlihat tegang?"
"A... E... Tidak..." Alvin menahan hasratnya yang tengah membuncah karena Vanya tidak berhenti melakukan aktivitasnya di bawah sana.
"Tapi Mas berkeringat, Padahal suhu ruangan ini cukup dingin." Maya mencoba mendekati sang suami. Namun Alvin langsung menghentikannya.
"E... Jangan mendekat!"
Maya mengernyitkan keningnya melihat sikap suaminya yang terlihat aneh.
"M-m-maksud ku apa yang kamu bawa, Letakkan saja di meja."
Maya yang begitu lugu hanya tersenyum dan meletakan kue tart yang sengaja ia bawakan untuk sang suami sebagai kejutan ulang tahun pernikahan mereka yang ke tiga.
__ADS_1
Sementara Vanya yang melihat keegugupan Alvin dari kolong meja semakin merasa tertantang dan bersemangat hingga sengaja memberikan gigitan kecil pada benda yang kini seperti mainan untuk nya.
"Aowhhh!" jerit Alvin secara spontan.
"Apa yang terjadi Mas?!" Maya mencoba melangkah mendekati kursi Namun Alvin kembali menghentikannya.
"E... Tidak! Tetap di disitu. E... Maya pulanglah, Pikiran ku sedang kacau, Nanti kita bicara di rumah."
"Tapi Aku sengaja datang untuk merayakan ulang tahun pernikahan kita Mas, Setidaknya kita harus tiup lilin kan?"
"Maya! Tidak sekarang, Pikiran ku sedang kacau, Sebentar lagi Tuan Abraham akan datang, Jadi tolong mengertilah."
Meskipun di hatinya sangat kecewa. Namun Maya menuruti perintah suaminya dan meninggalkan ruangan.
"Hhhufff..." Alvin bernafas lega dan langsung menarik Vanya keluar dari persembunyiannya.
"Dasar liar! Kemarilah Aku akan menghukum mu!"
Bukannya takut, Vanya hanya terkekeh dan menuruti perintah Alvin yang menyuruhnya duduk di atas meja kerjanya.
Alvin yang sudah tak tahan lagi membuka kedua pa'ha Vanya dan
menyibakkan pakai'an dalamnya ke samping untuk melesapkan miliknya yang sudah sedari tadi di permainkan olehnya.
Dengan kasar Alvin mulai memaju mundurkan pinggulnya hingga membuat Vanya mencengkam kedua pundak Alvin sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
"Akhhhhh Akhhh Akhhh..." Suara desah'an Vanya yang di barengi dengan suara khas kulit yang beradu membuat ruangan itu terasa begitu berisik.
Barang-barang di meja pun berjatuhan karena gerakan Alvin yang semakin liar.
"Mas Alviiiin... Permainan mu kasar sekali," ucap Vanya yang seolah memprotes. Namun begitu menikmati permainan kasar dari orang kepercayaan Ayah nya tersebut.
"Rasakan ini, Dasar gadis liar, Tidak sabaran! Tidak bisakah kau menunggu istri ku sebentar saja?"
Vanya hanya tertawa manja sambil terus menikmati setiap hentakan Alvin yang semakin dalam ia rasakan.
Belum juga mereka mencapai puncaknya, Alvin kembali di kagetkan oleh kedatangan sang istri yang kembali datang ke ruangannya.
"Mayaaa..." Alvin dan Vanya yang masih dalam posisinya menoleh ke arah Maya yang mematung melihat perbuatan keji yang tengah mereka lakukan.
"Mayaaa..." Alvin mencoba melepaskan penyatuannya ketika melihat Maya menangis dan berlari meninggalkan ruangannya. Namun Vanya yang masih berada di ujung hasratnya menahan Alvin sembari menggelengkan kepalanya.
Alvin yang juga sudah berada di ujung hasratnya akhirnya memilih melupakan tangisan sang istri dan melanjutkan permainan keji mereka.
β’β’β’
Di rumahnya, Maya duduk di lantai kamar yang berantakan sambil memainkan pisau di tangan nya.
Meskipun peristiwa menjijikkan itu sudah berlalu lebih dari satu tahun yang lalu, Namun rasa sakit yang Maya rasakan masih terasa seperti kemarin sore.
Maya mengangkat pisau itu sejajar dengan wajahnya, Menatapnya dengan tatapan yang misterius. Kemudian melemparkannya ke dinding yang terdapat foto Vanya dan Alvin mantan suaminya. Secara tepat pisau itu menan'cap di perut Vanya yang tengah tertawa lebar seolah tengah menertawakan dirinya.
"Sudah cukup Maya.... Sudah cukup selama satu tahun ini kamu meratapi nasib mu, Sekarang saatnya kamu membalas apa yang telah mereka lakukan!" Maya menyemangati diri sendiri dan mendekat ke dinding. Maya mencabut pisau yang menan'cap di foto Vanya dan beralih menggores-gores foto Alvin sang mantan suami dengan ujung pisau tersebut.
"Kalian berdua akan mendapat balasan atas apa yang kalian lakukan padaku! Lihatlah bagaimana Maya yang kalian anggap sebagai wanita lugu, Bodoh dan lemah ini, Akan menjadi mimpi buruk kalian...!!!"
π Lanjut Ke sana yah, Terimakasih untuk yang sudah mampir. Buat yang belum mampir di tunggu kehadirannya π€β€οΈ
__ADS_1