
Bryan masuk kedalam dan bergegas mendekati putrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan bayi yang ada dalam kandungannya.
Bryan meraih tangan Bella yang terus menjerit kesakitan dan berusaha menguatkannya.
"Sayang..."
Bella hanya menggenggam erat tangan Bryan sambil terus mengejan sekuat tenaga.
"Dorong kuat-kuat Sayang kamu pasti bisa," ucap Bryan sembari mengusap-usap kepala Bella yang di penuhi buliran keringat.
"Apa Anda saudaranya?" tanya dokter di sela-sela pekerjaannya.
"Lakukan saja pekerjaan Anda Aku tidak ingin melihat putriku kesakitan ku lebih lama lagi." tegas Bryan.
"Anaknya, Kirain Adiknya." bisik salah satu perawat sembari melirik Bryan.
"Apa kalian menggunjing ku?" tanya Bryan kesal.
"Tidak, Maafkan kami Tuan."
"Ayo dorong... Seduh kelihatan kepalanya, Terus... Sedikit lagi..."
Dokter dan Bryan terus menyemangati Bella hingga tak sampai lima belas menit kemudian tangisan bayi terdengar memenuhi ruangan.
Bryan tersenyum lega melihat sang cucu yang telah lahir keduania.
Ia begitu terharu melihat anak yang begitu ia sayangi kini telah menjadi seorang ibu.
"Selamat ya Nona, Tuan... Bayinya laki-laki," ucap perawat sembari meletakkan bayi yang masih berlumur darah itu ke dada Bella.
"Selamat untuk mu Sayang," ucap Bryan mengecup keningnya.
__ADS_1
Bella menangis haru, Seakan tak percaya dengan proses yang baru saja ia lalui hingga memiliki seorang anak.
Setelah itu Bella mengecup bayinya dan membiarkan perawat membawa bayinya untuk di bersihkan. Namun sebelum itu Bryan memanggil Bimo untuk mengadzani bayi laki-lakinya tersebut.
•••
Faraz telah menerima kabar jika Bella telah melahirkan bayi laki-laki dengan selamat, Ia pun menyampaikan kepada semuanya. Terutama pada Zia yang tak lain ibu tiri dari Bella.
"Tapi kenapa Papa menatapku seperti itu?" tanya Zia yang melihat tatapan tak biasa Papanya.
"Kamu masih terlalu kecil untuk menjadi seorang nenek," ucap Faraz dengan tatapan tak percaya.
Alia dan Zia terkekeh mendengar apa yang Faraz katakan.
"Apanya yang salah, Bella anak sambung ku, Jadi wajar jika Aku menjadi nenek di usiaku sekarang, Yang tak wajar adalah jika Aku memiliki cucu dari baby Ziyan," ucap Zia tertawa.
Alia juga tertawa mendengar ucapan Zia. Kemudian Alia meminta Faraz untuk menghubungi Zayn tentang kelahiran bayi Bella dan Bimo mengingat Zayn adalah sahabat Bimo semenjak di pesantren.
"Waalaikumsalam Zayn, Papa cuma mau bilang jika Bella sudah melahirkan."
"Oh iya, Tadi Bimo sudah menelfon ku Pa."
"Benarkah?"
"Iya Pa."
"Baiklah, Kalau begitu Papa kasih kabar yang kedua saja, Yang pastinya kamu belum tau dan akan tercengang setelah mendengarnya."
"Oh ya, Kabar apa itu?"
"Adik ipar mu yang sudah tua itu, Si mantan duda karatan, Kembali membuat adik mu hamil."
__ADS_1
Zia yang duduk di sampingnya langsung memukul lengan Faraz mendengar suaminya di ejek.
"Apa!?"
"Ya, Itu benar, Kamu tidak salah dengar."
"Wah keren dong Pa, Berarti Om Bryan melakukan seperti apa yang Papa dan Mama lakukan, Menghadirkan Zia saat Aku dan Zayd masih beberapa bulan."
Mendengar itu Zia terkekeh. Namun tidak demikian dengan Alia dan Faraz yang nampak tercengang mendengar apa yang Zayn katakan.
"Zayn kau..." ucap Faraz yang merasa jengkel.
"I love you kak Zayn..." pekik Zia supaya Zayn mendengar suaranya.
"I love you tu Adik kecilku, Tunggu Kak Zayn ya, Sampai ketemu."
Faraz menutup panggilan telepon nya dengan perasaan jengkel karena Zayn yang di harapkan mendukung dirinya, Malah berbalik meledeknya.
📌 Promo Novel terbaru "Bukan Niatku Selingkuh"
Sepenggal Bab dua 🤗
Shanti terlahir dari keluarga sederhana yang memiliki suami dari keluarga yang jauh dari kata mampu. Jangankan memiliki harta benda yang mewah, Sekedar perabot rumah seperti lemari, sofa barang elektronik dan berbagai macam kelengkapan rumah, Tidak satupun ia miliki, Bahkan tempat tidur satu-satunya yang menjadi tempat istirahat mereka, Hanya bekas dari seseorang yang sudah tak terpakai.
Bukan itu saja, Selain tidak mencukupi kebutuhan keluarga, Farhan juga tidak mampu memberikan nafkah batin kepada Shanti karena kesibukannya yang selalu kerja di luar kota. Dan saat di rumah pun ia masih tidak mampu memberikannya dengan alasan lelah dan berbagai macam alasan yang lainnya.
Sebagai seorang istri Shanti bukan hanya merasa kesepian akan kasih sayang dari seorang suami, Tapi ia juga harus berpikir keras bagaimana cara agar memiliki penghasilan sendiri hingga siang malam ia bekerja sebagai penjahit di konveksi dekat rumahnya. Suaminya yang hanya memiliki gaji tak seberapa tidak pernah mau tau meskipun uang yang ia berikan kepada istrinya telah habis dan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Namun meskipun lahir dan batinnya tidak terpenuhi, Shanti masih terus bersabar dan bertahan mendampingi sang suami.
Hingga peristiwa malam itu terjadi, Shanti masih merasa sangat berdosa dan bersalah kepada sang suami hingga ia tak mau lagi berbicara dengan Farzan Meskipun sebenarnya ia begitu membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
Lanjut di lapaknya ya, Terimakasih 🤗❤️