
Melihat Om Bryan tegang, Zia menyusup ke pelukan Om Bryan dan memberikannya kecupan lembut ke kedua pipi kekasih dudanya itu.
"Kita turun?" tanya Zia.
Bryan mengangguk dengan senyum tipisnya. Kemudian Zia meraih tangan Om Bryan dan terus menggenggam tangannya menghadap Papa Faraz yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan menatap layar ponsel hingga tidak menyadari kedatangan mereka.
"Pa..."
"Hem."
Zia menunggu Faraz mengangkat wajahnya agar menatapnya. Namun Faraz masih terus sibuk dengan ponselnya.
"Papa..."
"Ya, Kemar...." ucapan Faraz terhenti saat melihat Bryan di depannya.
Apa lagi melihat tangan Zia yang menggenggam erat tangan Bryan membuatnya langsung bangkit dari duduknya dan melepaskan genggaman tangan itu dengan kesal.
"Apa-apaan ini!"
"Pa... Kita sudah balikan."
Faraz menatap Bryan kesal dan mengingat saat putrinya menangis berhari-hari karena di putuskan olehnya.
"Pa..."
"Zia! apa kamu lupa saat Dia membuat mu menangis?"
"Itu hanya salah faham Pa, Om Bryan melakukan itu untuk menjauhkan David dari putrinya dan membuat putrinya setuju dengan hubungan kami."
Faraz masih terdiam kesal. Rasanya belum rela menyerahkan putri kesayangannya kepada orang lain meskipun ia itu teman yang ia percayai dalam pekerjaannya.
Zia meraih tangan Faraz dan kembali mencoba meyakinkannya.
"Pa, Sekarang coba tempatkan diri Papa jika ada di posisi Om Bryan? Gimana kalau Zia yang...."
"Sstttt!" Faraz menempelkan jari telunjuknya di bibir Zia.
__ADS_1
"Tidak akan Papa biarkan siapapun berrrani mengancam mu apa lagi menyakiti mu." Faraz meraih tubuh Zia ke pelukannya.
"Faraz Aku minta maaf untuk apa yang sudah terjadi, Tapi percayalah pada ku, Kali ini Aku tidak akan pernah menyakiti Zia lagi, Aku janji akan terus membahagiakannya dan melindunginya seperti Aku melindungi putri ku sendiri."
Faraz melepaskan pelukannya dan menatap sinis Bryan.
"Pa, Please... Zia sangat mencintai Om Bryan, Zia ingin terus bersama-sama Om Bryan."
"Jadi Zia tidak ingin bersama Papa lagi?"
"Papa kenapa Papa cemburu, Papa cinta pertama Zia, Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Papa di hati Zia."
"Tapi baru saja Zia bilang ingin terus bersama Bryan," Faraz mengerucutkan bibirnya.
"Iiih kok Papa gitu sih, Kan Papa udah ada Mama, Pasti Papa tau kan perbedaan cinta sama Mama dan Zia, Begitupun Cinta Zia ke Papa dan Om Bryan." Zia mencubit pipi Papanya yang masih saja cemberut.
"Baiklah dengan satu syarat."
"Syarat apa lagi Pa, Kemarin katanya nunggu Zia lulus, Sekarang apa lagi?"
"Eh nilai Zia gak sesuai janji loh, Nilainya jeblok semua."
Faraz tertawa melihat kepanikan wajah sang putri.
"Papa ngerjain Zia?" tanya Zia lalu melihat hasil ujiannya.
Faraz terseyum dan mengusap kepala Zia.
"Selamat untuk mu Sayang, Tapi papa tetap harus memberinya tantangan untuk kekasih duda mu itu!" Faraz menunjuk ke arah Bryan.
"Apa? Jangan yang berat-berat Pa, Penantian kita sudah berat."
"Iiih dasar, Pasti di ajarin ngebucin ama Dia kan?"
"Papa juga rajanya Bucin kan, Hahahaha."
"Zia! Jangan ngelawan Papa, Sekarang pergi ke kamar mu atau Papa tambahin lagi tantangannya pada kekasih kesayangan mu ini."
__ADS_1
"Baiklah, Jangan yang susah-susah ya Pa,"
Faraz memalingkan wajahnya.
Zia melangkah dan memegang tangan Bryan dengan khawatir.
Zia menganggukkan kepalanya dan berhenti di depan Om Bryan.
Dengan lembut Om Bryan mengusap pipi Zia.
Faraz yang melihatnya langsung melotot dan memisahkan mereka.
"Eh... Eh! Berraninya pegang-pegangan di depan Papa! Zia cepet pergi ke kamar mu! dan kamu Bryan kemari."
Faraz menarik Bryan ke sisinya dan membiarkan Zia pergi terlebih dahulu.
"Jaga pandangan mu!" Faraz mengusap wajah Bryan yang terus menatap lekat sang putri.
"Faraz ayolah, Kamu tau benar bagaimana rasanya jatuh cinta."
"Husttt! Bicara yang sopan, Di kantor kita rekan jerja, Di sini Aku calon mertua mu jadi bicara yang sopan atau Aku tidak akan merestui mu!"
"Apa Tuan Faraz tega melihat Zia menangis karena tidak jadi menikah dengan ku?"
"His, Jangan gunakan nama Zia untuk merayu ku,"
Bryan menahan tawanya melihat sikap Faraz yang begitu posesif terhadap Zia hingga sulit melepaskan Zia untuk nya.
"Baiklah, Sekarang katakan padaku, Tantangan apa yang harus ku hadapi agar Aku bisa segera menikahi putri kesayangan mu?"
"Apa yang membuat mu tidak sabar, Zia masih terlalu muda, Kenapa cepat-cepat?"
"Bukankah mensegerakan pernikahan itu lebih baik untuk menghindari hubungan yang haram seperti yang pernah Zayn katakan?"
"Bisa aja kamu bawa-bawa Zayn bilang aja dah kebelet."
Bryan menahan tawanya melihat Faraz cemberut.
__ADS_1
"Alasan apa lagi untuk mengulur pernikahan mereka, Tantangan yang ku bicarakan sebenarnya juga belum terpikirkan oleh ku," batin Faraz melirik Bryan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Bersambung...