
Dengan perasaan yang sangat bahagia, Bryan bergegas meninggalkan rumah untuk menemui kekasih kecilnya yang sudah lebih dari satu Minggu tidak lagi Ia temui.
Senyum bahagianya terus terukir di bibirnya, Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk segera menemuinya, Bagaimana kabarnya sekarang, Apakah dia baik-baik saja, Apakah Dia merasakan apa yang Ia rasakan selama mereka tidak bertemu, Berbagai macam pertanyaan terus terlintas dalam pikirannya.
Setelah sampai rumah Faraz, Bryan bergegas turun dan mengetuk pintu. Jantungnya berdebar kencang tak sabar menantikan pintu terbuka dan melihat gadis kecil pujaannya.
Ceklekkk...
Bryan mengangkat kepalanya dan melihat Faraz yang membukakan pintu untuknya.
Bryan menatap tegang Faraz mengingat apa yang sudah Ia ucapkan saat terakhir mereka bertemu.
"Faraz bisa kita bicara?"
"Bicara pekerjaan sebaiknya di kantor saja, Saat di rumah Aku tidak ingin mengurusi Soal pekerjaan." ketus Faraz.
"Bukan soal pekerjaan,"
"Lalu? Bukankah hubungan mu dan Zia sudah selesai, Jadi tidak ada yang perlu di bicarakan."
"Faraz please, Ku mohon beri aku kesempatan untuk bicara,"
"Bicaralah, Tidak perlu masuk!"
__ADS_1
"Aku melakukan itu demi mendapat restu dan kepercayaan dari putriku, Aku tau restu putriku tidaklah mempengaruhi bisa tidaknya Aku menikahi Zia, Tapi Aku tidak ingin Zia mengalami kesulitan setelah menikah dengan ku, Jadi..."
"Jadi kamu menyakiti Zia demi mendapat simpati putrimu?"
"Faraz..."
"Maafkan Aku Bryan, Tapi sesuai yang kamu ucapkan saat terakhir kita ketemu, Zia pantas mendapat Pria yang sepadan dengannya, dan sekarang Zia sudah mendapat pengganti mu yang sepadan dengannya."
Seketika hatinya bagai teriris seribu belati mendengar apa yang baru saja Faraz katakan.
"Itu tidak mungkin," ucap Bryan dengan hati yang terasa begitu sesak.
"Kenapa tidak?"
"Heh! Kamu terlalu percaya diri Bryan, Zia masih sangat muda, Dia masih labil dalam menentukan pilihannya jadi jangan heran jika sekarang Zia bilang sangat mencintaimu dan besoknya beda lagi."
"Tidak... Tidak..." Bryan memutar tubuhnya membelakangi Faraz untuk menutupi air matanya yang terjatuh. Dengan berat Ia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Faraz. Namun belum juga Bryan turun dari teras, Bryan mendengar suara manja dari gadis yang begitu Ia rindukan.
"Papa... Udah siap belum?"
Bryan langsung menoleh ke belakang dan melihat gadis kecil pujaan hatinya yang baru keluar dari dalam.
Begitupun dengan Zia yang terkejut dengan kedatangan Om Bryan yang sudah membuatnya menangis siang malam selama perpisahan mereka. Bahkan hingga saat ini matanya masih terlihat sembab karena tangisan itu.
__ADS_1
"Zia..." lirih Bryan.
"Ayo sayang, Dimas pasti sudah tidak sabar menunggumu, Cepet Panggil Mama mu."
Mendengar nama Pria lain di sebut oleh Faraz membuat Bryan kembali terbakar. Namun sepertinya Zia tidak memperdulikan Om Bryan dan mengikuti perintah Papa nya.
"Pulang lah Bryan, Zia akan pergi makan siang dengan keluarga Dimas pria yang sepadan dengannya."
"Setidaknya izinkan Aku bicara dengan Zia sekali saja."
"Tidak, Jangan membuatnya ragu kembali, Ini sudah keputusan mu, Jadi nikmati saja keputusan yang sudah kamu buat!"
"Pa.."
"Hey! Kalian sudah siap, Kalau begitu kita berangkat." tanpa mempedulikan Bryan yang masih berdiri di depan teras rumahnya, Zia melangkah melewatinya mengikuti Papa dan Mamanya.
Bryan menatap Zia yang masuk ke mobil tanpa mau menoleh ke arahnya, Padahal Bryan begitu berharap Zia mau menatapnya satu kali saja sebelum mobil meninggalkan rumahnya.
"Ziaaaa...!!!" pekik Bryan yang mengejar mobil Faraz sampai mobil menghilang dari pandangannya.
Bryan terduduk lesu di jalan dengan bertumpu dengan kedua lututnya.
Bersambung...
__ADS_1
Novel lain belum bisa Up, Author lagi sakit kepala sebelah, Teramat-amat sakit, Ini pun Author paksakan sesuai kemampuan Author berfikir 🤕