
Sesampainya di rumah sakit Bryan langsung membopong tubuh Zia yang sudah terlihat begitu lemas. Dengan tergopoh-gopoh Bryan meneriakkan nama Dokter meminta pertolongan.
Beberapa perawat yang melihatnya segera berlari dengan membawa brankar ke arahnya.
"Baringkan di sini Tuan," ucap Perawat.
Bryan mengangguk dan membaringkan Zia di brankar tersebut. Dengan terus menggenggam erat tangannya Bryan mengiringi Zia hingga mendapat perawatan dari Dokter.
"Tunggulah di luar Tuan," ucap Dokter.
Bryan mengangguk meskipun ia ingin sekali mendampingi istrinya yang tengah kesakitan. Perasaannya begitu khawatir saat waktu terasa begitu lama. Ia terus mondar-mandir kesana-kemari hingga langkahnya terhenti saat ia melihat Faraz datang ke sana.
"Faraz," lirihnya sampai suaranya tidak terdengar oleh siapapun.
"Bryan, Bagaimana keadaan Zia?" tanya Alia khawatir.
"Zia sedang di tangani Dokter, Bagaimana kalian tau Zia ada disini?"
"Apa kamu meragukan kasih sayang kami sehingga kami tidak bisa merasakan apa yang tengah terjadi pada putri kami?" ucap Faraz kesal.
"Maafkan Aku Papa mertua, Bukan begitu maksudku tapi..."
"Sudahlah Bryan, Kami tadi habis dari rumah Oma Zeenat dan karena jalannya satu arah, Jadi kami mampir ke rumah mu, Tapi kata Bella kamu baru saja membawa Zia kesini, Sebenarnya apa yang terjadi dengan Zia Bryan?" tanya Alia dengan tenang.
"Aku juga belum tau apa yang terjadi, Karena saat Aku baru pulang Zia sudah terduduk di lantai memegangi perutnya dengan kesakitan, Sementara Bella berdiri di depannya dan saat Aku tanya, Bella bilang Dia tidak sengaja," ucapnya sedih.
"Jika terjadi sesuatu pada putriku Aku tidak akan mengampuni mu Bryan!" triak Faraz hingga membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.
"Mohon jangan membuat keributan!" tegur salah seorang perawat.
"Mas.." Alia menarik mundur Faraz dan mengusap-usap dadanya agar membuatnya tenang.
__ADS_1
Baru saja ketegangan itu berhenti, Suara pintu terbuka membuat Faraz dan Bryan berlari secara bersamaan mendekati Dokter hingga keduanya bersenggolan. Mereka saling memandang sejenak dan kembali menatap Dokter.
"Dokter bagaimana keadaan istriku?"
"Dokter bagaimana keadaan putriku?"
Lagi-lagi pertanyaan itu keluar secara bersamaan.
"Harap tenang Tuan-tuan, Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Pendarahan pada masa awal kehamilan memang..."
"Hamil?" ucap Faraz dan Bryan kembali bersamaan.
"Ya, Apakah kalian tidak tau jika dia sedang hamil?"
Faraz dan Bryan menggelengkan kepalanya dengan perasaan yang masih begitu terkejut.
"Ya, Dia tengah hamil, Dan usia kehamilannya baru menginjak 6 Minggu. Pendarahan pada awal kehamilan 15-20 % memang bisa di alami oleh beberapa ibu hamil tapi kalian tenang saja, Pendarahan yang E... istri dan putri kalian alami tidak menyebabkan keguguran." jelas Dokter.
"Apa anda yakin?" tanya Bryan memastikan.
"Bukan begitu Papa Faraz... Aku hanya ingin memastikan, Karena dia terlihat begitu kesakitan," dengan mengeratkan giginya Bryan memberi pengertian pada Papa mertuanya tersebut hingga membuat Dokter tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Kalian tenang saja, Kandungan istri Anda cukup kuat sehingga pendarahan yang terjadi tidak mempengaruhi kandungannya. Lagipula pendarahannya tidak terlalu banyak dan sudah berhenti."
"Oh Syukurlah..." ucap Bryan lega.
"Tapi ada yang harus Anda perhatikan." lanjut Dokter.
"Ap itu Dok?"
"Pendarahan ringan ringan seperti ini bisa disebabkan karena proses pelekatan sel telur yang dibuahi pada dinding rahim. Selain itu, berhubungan intim, infeksi, dan perubahan hormon juga dapat menyebabkan ibu hamil mengalami pendarahan ringan. Namun, hal ini bukan termasuk kondisi yang berbahaya bagi ibu hamil maupun bayi."
__ADS_1
"Lalu apa yang harus ku lakukan Dok?"
"Pertama-tama yang perlu di lakukan bila terjadi pendarahan seperti ini lagi segera beristirahat. Setelah itu Istirahat Total agar kondisi pendarahan tidak semakin parah.
Ibu hamil disarankan untuk berbaring dan beristirahat total saat mengalami pendarahan. Kurangi waktu berdiri dan berjalan. Beristirahat total membuat plasenta dapat melindungi rahim dan mengurangi risiko keguguran.
Kedua Hindari Berhubungan Intim..."
Mendengar hal itu membuat Bryan langsung mengalihkan pandangannya sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Walaupun berhubungan intim dinyatakan aman saat hamil, Tetapi bagi calon ibu yang mengalami pendarahan di awal kehamilan sebaiknya tidak berhubungan intim dulu untuk sementara sampai kondisi kandungan sudah kembali kuat dan stabil."
Faraz tersenyum smirk melihat ekspresi wajah Bryan yang terlihat gusar begitu mendengar apa yang Dokter larang.
"Baiklah terimakasih untuk semua penjelasannya Dokter, Saya akan menjaga istriku baik-baik," ucap Bryan setelah selesai menjelaskan apa yang boleh dan apa yang tidak.
"Kalau begitu bisa Saya bisa melihat kondisi putri ku?" tanya Alia.
"Ya, Silahkan."
Alia langsung masuk ke ruangan setelah melihat Dokter pergi. Begitupun dengan Bryan yang ingin mengikuti Mama mertuanya tersebut. Namun baru saja Bryan memegang gagang pintu, Faraz menghentikannya dengan mencengkeram lengannya.
"Dengar kali ini Aku mengampuni mu karena tidak terjadi sesuatu yang serius pada Zia, Tapi jika hal ini terulang lagi, Aku benar-benar tidak akan mengampuni mu!"
"Aku janji kejadian seperti ini tidak akan terulang." Bryan kembali mencoba masuk. Namun lagi-lagi Faraz menghentikannya.
"Kamu dengar apa yang Dokter ucapkan?'
"Ya, Aku mendengar semuanya."
"Jadi jangan berani-berani menyentuh putriku sampai dia benar-benar pulih total, Jika kamu berani melanggarnya Aku akan membuatnya tidur dan tidak bisa bangun lagi." ancam Faraz sambil melihat ke arah bawah sana.
__ADS_1
Setelah mengancam menantunya, Faraz masuk keruangan dengan menabrak lengan Bryan yang masih tercengang mendengar apa yang baru saja mertuanya katakan.
Bersambung...