
Sesampainya di depan rumah, Zia kembali melihat spion dalam mobil untuk merapikan diri, Ia benar-benar merasa khawatir jika Mama atau Kak Zayd curiga dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama kekasih dudanya.
Bryan terseyum mengusap kepala Zia dengan penuh kasih sayang.
Ia tau perbuatannya pasti akan meninggalkan banyak bekas di tubuh mulus kekasih kecilnya. Namun ia tidak bisa mengendalikan diri saat tubuh gadis itu berada dalam dekapannya.
Zia menggerai rambutnya ke sisi kanan kirinya. Sementara kancing seragam sekolahnya di pasang hingga sampai kancing teratas.
"Udah gak keliatan," ucap Bryan terseyum.
"Gara-gara Om nih, Nyebelin."
"Nyebelin apa Ngenakin?"
"Iiih udah deh, Jangan mulai lagi."
Bryan hanya tertawa melihat kekasih kecilnya mengerucutkan bibirnya.
"Om besok aja ya antar sampai dalamnya, Sekalian nemuin Papa Faraz, Sekarang udah malam dan hanya ada Mama Alia, Gak enak ntar malah jadi canggung."
"Nggak akan canggung kalau usia Om beda jauh dari Mama." ucap Zia tertawa.
"Apa Zia sedang mengatakan jika Om sudah tua?" Bryan menarik tangan Zia hingga wajah mereka begitu dekat.
"Memang begitu kan kenyataannya, Hahaha."
"Lalu kenapa Zia menyukai Pria tua ini, Hem? Apa Zia penasaran bagaimana Pria tua ini akan membuatmu melayang 1000x lipat dari apa yang tadi kamu rasakan?"
__ADS_1
Seketika tubuh Zia berdesir begitu juga intinya yang berdenyut membayangkan apa yang Om Bryan katakan.
"Wajah mu begitu sensual Sayang, Om ingin melihatnya lebih dari tadi." bisik Bryan dan kembali menyesap bibir Zia yang sedikit terbuka.
Zia memeluk Om Bryan dengan erat, Rasanya ingin terus bersama Om Duda dan tak mau lama-lama berjauhan dengan nya.
"Tidak lama lagi Sayang, Belajarlah yang giat, Raih nilai terbaik mu. Setelah itu kita akan bersama selamanya."
Zia mengangguk dan turun dari mobil.
Bryan terseyum melambaikan tangannya dan terus memandangi punggung kekasih kecilnya yang memasuki rumah, Hingga menghilang di balik pintu.
Baru saja Bryan meninggalkan rumah Zia. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan mobilnya hingga hampir saja Bryan menabraknya.
Bryan melihat beberapa tiga remaja turun dari mobil tersebut dengan tongkat baseball di tangan masing-masing.
Bryan masih mengamati mereka hingga Bryan memahami siapa mereka saat melihat David keluar dari kursi kemudi.
Kini David berhadapan langsung dengan Bryan, Sedangkan ketiga teman David berdiri di belakangnya siap menyerang kapanpun David memberinya isyarat.
"Apa Anda tidak takut lagi dengan ancaman ku?"
"Apa Kau fikir Aku takut dengan ancaman mu?"
"Tentu saja, Jika tidak kenapa Anda memutuskan Zia?"
"Aku memutuskan Zia bukan karena takut pada ancaman mu! Tapi Aku ingin membuatmu merasa menang dan tidak lagi mendekati putriku, Maka dengan itu Aku bisa merebut hati putriku kembali dan kamu lihat hasilnya? Aku bukan hanya mendapat kepercayaan Bella kembali, Tapi Aku juga mendapatkan kekasih ku yang sangat kau dambakan."
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat David naik pitam dan menyuruh teman-temannya menghajar Bryan.
Bryan yang mendapat pukulan dari segala sisi menggunakan tongkat baseball tersungkur ke tanah.
David menyeringai dan melangkah mendekati Bryan dengan menginjak telapak tangannya.
Bryan mengatupkan bibirnya menahan rasa perih di tangan yang di injak begitu kuat oleh David. Ia bisa saja melawan mereka sejak awal, Tapi Bryan menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan kekuatannya pada remaja yang dianggapnya bukanlah tandingannya.
"Apa sekarang Anda akan bilang tidak takut kepada ku?"
"Untuk apa takut pada Orang pengecut seperti mu? Bahkan kamu mengajak teman-teman mu untuk menyerangku!"
"Anda pantas mendapatkan ini, Karena Anda tidak pantas untuk Zia!" David mengangkat kakinya untuk menendang wajah Bryan. Namun Bryan segera menangkap kaki David dan langsung menghempaskan dengan kasar hingga membuat David tersungkur.
Kemudian Bryan segera bangkit merebut salah satu tongkat baseball dan langsung menghajar mereka satu persatu.
"Jika saja kalian bukan anak kecil, Aku akan menghajar kalian lebih dari ini!" triak Bryan yang telah membuat mereka semua tersungkur.
"Dan Kau David! Jika Kau masih berrrani mendekati putriku, Kekasih ku atau orang-orang yang masih berhubungan dengan ku, Aku akan menjebloskan mu dan kawan-kawan mu ke dalam penjara!"
David menelan ludahnya dengan susah payah mendengar apa yang Bryan katakan.
Kemudian Bryan melangkah ke mobilnya. Mengambil ponsel yang sedari tadi merekam apa yang David lakukan padanya.
"Kau lihat ini, Bukiti pengeroyokan sampai ancaman pemerkosaan kepada putri ku, Masih tersimpan di ponsel ku, Kau bisa bayangkan berapa lama akan mendekam di penjara jika bukti ini sampai ke tangan polisi!"
David langsung menciut mendengar apa yang Bryan katakan.
__ADS_1
Dengan tubuh yang penuh luka lebam, Bryan pergi tanpa ada beban lagi di hatinya.
Bersambung...