Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Mertua Vs Menantu


__ADS_3

Jarum jam terus bergerak hingga nyaris sampai ke angka enam seperti kesempatan yang di berikan. Namun Bryan masih belum juga menampakkan batang hidungnya.


Faraz mengepalkan tangan dengan kedua kaki yang tidak bisa berhenti bergerak. Ingin rasanya ia berteriak meluapkan amarahnya saat itu juga. Namun apa boleh buat, Ia harus bersikap tenang di depan klien yang hadir.


"Tuan Faraz."


"Yah!" Faraz tersentak dari lamunannya.


"Sepuluh detik lagi, Jika dalam hitungan mundur Tuan Bryan tidak datang juga, Maka tidak ada kesempatan lagi untuk kerjasama kita. Sepuluh... Sembilan... Delapan..." salah seorang klien bertubuh besar terus menghitung mundur. Sementara Faraz terus menunduk ke bawah mencoba kembali menghubungi Bryan.


"Tiga... Dua... Sa..."


"Selamat pagi..."


Semua orang berdiri melihat kedatangan Bryan yang baru masuk dengan nafas tersengal.


Tidak seperti klien lain yang fokus dengan Bryan yang masih memegangi kedua lutut dan mengatur nafasnya. Netra Faraz malah terfokus pada rambut Bryan yang basah.


"Selamat pagi semuanya, Maafkan Saya, Saya harus membantu istri mengurus bayi kami yang baru berusia empat puluh hari," ucap Bryan beralasan.


Mendengar hal itu para klien yang semula merasa kesal, Kini berubah menjadi senyum kagum. Bagaimana tidak, Pengusaha sibuk, Tampan dan mapan sepertinya masih mau membantu istri mengurus bayinya. Namun tidak seperti para klien yang langsung percaya ucapan Bryan, Faraz yakin benar jika menantunya itu tengah membual dan mencari simpati atas keterlibatannya.

__ADS_1


"Baiklah, Tidak masalah Tuan Bryan, Awalnya kami memang merasa kesal, Tapi karena alasan Anda sungguh sangat memuliakan istri, Maka tidak pantas bagi Kami untuk marah apa lagi membatalkan kerja sama ini. Sekarang ayolah mari mita mulai meeting nya."


"Huffff..." Bryan membuang nafas kasar dan merasa lega karena klien tidak jadi membatalkan kerjasama nya.


"Jika tidak maka Papa mertua akan memeng*al leher ku, Lihat saja bagaimana cara ia menatap ku, Ia seakan-akan ingin menerkam dan mencabik-cabik diriku tanpa ampun." Bryan terus bergumam dalam hati melihat Faraz yang tidak melepaskan pandangannya.


•••


Setelah selesai meeting dan terjadi kesepakatan yang sesuai harapan, Faraz bernafas lega. Kemudian Ia menjabat tangan seluruh klien yang meminta izin meninggalkan ruangan.


Kini tinggal Faraz dan Bryan yang ada di ruangan.


Bryan tau betul ia tidak bisa melarikan diri begitu saja dari mertua sekaligus teman yang kini terasa seperti Tom and Jerry pura-pura sibuk dengan berkas-berkas di tangannya. Namun bukanlah Faraz namanya jika ia tidak penuh curiga kepada menantunya itu.


Bryan langsung mengangkat wajahnya memandang Faraz.


Ia bersikap tenang menghadapi mertuanya yang siap memarahinya karena keterlambatannya.


"Dimana sikap profesional mu, Dimana rasa tanggung jawab mu dengan janji yang kamu buat sendiri sampai-sampai mereka hampir membatalkan kerjasamanya!"


"Hampir, Tidak jadi kan?!" tukas Bryan santai.

__ADS_1


"Kamu masih bersikap santai dan tidak merasa bersalah?"


"Sudahlah Papa mertua, Aku kan sudah memberikan alasan kenapa Aku terlambat, Dan mereka menerima alasan ku, Tidak ada masalah."


"Dengar! Aku tidak selugu mereka, Yang sebenarnya bukan itu alasannya kan?"


Bryan nyengir kuda dan beranjak bangun dari duduknya sambil mengemasi berkas-berkasnya.


"Papa mertua tau aja." Bryan langsung melengos pergi meninggalkan Faraz.


Faraz yang tidak terima dengan jawan Bryan bergegas mengejar dan menarik tangannya.


"Zia baru saja empat puluh hari melahirkan, Dan kamu langsung menghajarnya habis-habisan?!"


"Oh ya ampun Papa mertua, Bagaimana Papa tau Aku habis mengajar Zia tanpa ampun?" melihat kekesalan Faraz, Bryan malah semakin ingin menggodanya.


"Bryan! Kau...!" Faraz menahan kekesalannya dan tak melanjutkan omelannya.


"Dengar jika karena kemesuman mu putri ku sampai pendarahan atau mengalami rasa sakit lainnya Aku tidak akan pernah mengampuni mu!"


"Itu tidak akan terjadi Papa mertua, Malah putri mu yang tidak membiarkan ku pergi dan ingin Aku terus menghajarnya." Bryan menahan tawanya melihat Faraz yang semakin kesal mendengar apa yang Bryan katakan.

__ADS_1



Kamu Team Mana Bestie? 😂❤️


__ADS_2