
Seperti yang Bryan katakan pada Faraz, Malam harinya Bryan benar-benar menerkam Zia. Bryan membuat istri kecilnya itu terus mendes'ah nikmat untuk ketiga kalinya setelah sebelumnya mereka telah melakukan pelepasan pertama dan kedua tanpa beristirahat. Gair'ah ex duda itu benar-benar luar biasa hingga membuat istri kecilnya kewalahan mengimbangi tenaganya.
"Akh.. Akh... Akh... Udah Om," lenguh Zia yang telah mencapai puncaknya.
"Tahan sebentar Sayang, Sedikit lagi." Bryan meraih tangan Zia dan menggendongnya seperti bayi koala tanpa melepaskan senjatanya.
Kemudian Bryan membuat istri kecilnya menari naik turun hingga kedua buah kenyalnya berguncang dengan indah tepat di depan matanya. Tidak mau membiarkannya begitu saja Bryan langsung melahap buah kenal itu secara bergantian.
"Om... Akh..." Zia menengadah kepalanya keatas saat mendapat gigitan kecil di pucuk buah kenyalnya. Kemudian Bryan menurunkan Zia di meja rias dan melingkarkan kedua kaki Zia di pinggangnya. Dengan memegang kedua pahanya Bryan kembali menghentakkan pinggulnya dengan kuat hingga membuat Zia terus mendes'ah menggelinjang hebat kemudian di susul oleh Bryan yang untuk kesekian kalinya memuntahkan lahar panasnya.
"Oughhh... Aghh.. Aghh..." keduanya menikmati sisa-sisa kenikmatannya dengan Zia yang membenamkan wajahnya di dada Bryan yang sudah di basahi keringat. Sementara Bryan mengusap punggung sang istri yang tidak kalah basahnya karena keringat yang mereka ciptakan. Kemudian Zia mengusap lembut kepala sang istri dan mengevup pucuk kepalanya.
"Lihatlah ke belakang." bisik Bryan.
Zia menoleh ke belakang sekilas dan langsung kembali menyembunyikan wajahnya di dada Bryan karena malu dengan tubuh polosnya.
Bryan tersenyum kemudian mengangkat tubuh Zia dan membawanya ke kamar mandi.
•••
Pagi Harinya sesuai janjinya kepada Papa mertuanya. Bryan bangun lebih awal untuk berangkat bekerja. Hingga Bryan selesai mandi dan memakai stelan jasnya Zia masih tidak bangun dari tidur nyenyak nya.
Bryan tersenyum mengusap lembut kepala sang istri dan mengecupnya dengan sangat hati-hati agar tidak menganggu tidurnya.
Setelah itu dengan sedikit mengendap-endap Bryan membuka pintu dan meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
Tuk... Tuk... Tuk... Suara sepatu seolah menghitung anak tangga yang ia lewati. Sesampainya di bawah, Bryan menuju ruang makan dan melihat putrinya sudah berada di sana.
"Eh Sayang, Udah bangun?"
"Udah Pah."
Bryan tersenyum tipis dan duduk untuk sarapan bersama putrinya.
"Mommy Zia belum bangun?"
"Belum. Nanti kalau dia sudah bangun, Suruh dia makan ya, Hari ini Papah mulai kerja."
"Tapi pulang ceper ya Pah, Sore ini Bella harus kembali ke Semarang."
"Baiklah Sayang, Kalau begitu Papah berangkat dulu." dengan penuh kasih sayang Ayah kepada anaknya Bryan mengecup sekilas pucuk rambut sang putri.
"Hati-hati Pah."
"Oke Sayang."
Dengan cepat mobil yang Bryan kendarai melesat dengan cepat meninggalkan rumahnya.
•••
Sesampainya di tempat meeting yang sudah di sepakati terlihat semua orang sudah berkumpul. Tatapan Papa mertua langsung menatap tajam dirinya begitu ia memasuki ruangan.
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya, M-maaf jika Aku sedikit terlambat,"
"Bukan sedikit, Tapi kamu terlambat sepuluh menit." ketus Faraz.
Bryan yang tidak ingin ribut dengan Papa mertuanya di depan semua orang hanya mengucapkan kata maafnya sekali lagi.
"Tidak masalah Tuan Faraz, Hanya sepuluh menit," ucap Tuan Andi.
"Baiklah, Karena semuanya sudah datang, Bisa kita mulai meeting nya?" sambung yang lainnya.
Bryan mengangguk dan duduk di antara mereka.
Setelah meeting selesai. Semua orang saling berjabat tangan meninggalkan ruangan. Tak terkecuali dengan Bryan yang ingin segera melarikan diri dari Papa mertuanya. Namun Faraz langsung menghentikannya dan melangkah ke hadapannya.
"Hai Papa mertua, Apa Anda merindukan ku?" Bryan langsung memeluk Faraz namun segera di tepisnya.
"Jangan sok akrab! Hubungan kita sudah berubah setelah kamu memacari putriku."
"Ya Anda benar, Dulu kita teman, Sekarang kita mertua dan menantu bukankah seharusnya hubungan itu semakin erat, Kenapa Anda terus merasa kesal padaku?" tanya Bryan menahan tawanya.
"Kamu yang selalu membuat ku kesal, Dan terakhir kamu membuat ku kesal dengan membawa putriku diam-diam pada saat Aku menginap di rumah mu, Apakah itu sopan?"
"Maafkan Aku Papa mertua, Anda yang duluan menabuh genderang perang."
"Aku hanya ingin menguji kesabaran mu, Tidak bisakah kamu bersabar satu hari lagi?"
__ADS_1
"Tidak bisa Papa mertua, Aku ingin segera membuktikan apakah senjataku karatan seperti yang selalu Anda bilang atau tidak." Bryan terkekeh geli sehingga membuat Faraz semakin geram pada menantu somplaknya tersebut.
Bersambung...