
Ceklekkk...
Bryan sampai di rumah dengan lesu. Harapannya untuk kembali kepada kekasih kecilnya ternyata tidak berjalan seperti apa yang Ia bayangkan.
Bella yang sudah menunggu kedatangan Papahnya, Segera menghampirinya dan meraih lengan Papahnya yang terlihat begitu sedih.
"Papah apa yang terjadi? Mana Zia?"
"Kita belum sempat bicara Sayang," dengan memaksakan senyumnya Bryan mengusap pipi putrinya.
"Maksudnya gimana Pah? Zia gak maafin Papah?"
"Sudahlah Sayang, Ayo bersiap, Nanti kamu terlambat."
"Tidak Pah, Papah jelasin dulu apa yang terjadi, Jika Papah tidak mau menjelaskan Bella tidak akan bisa tenang, Ini terjadi karena kesalahan Bella."
"Zia dan keluarganya pergi makan siang."
"Jadi Papah sudah sempat ketemu?"
"Ya, Tapi kita belum bicara."
"Biar Bella yang menemuinya." Bella bergegas melangkah keluar namun Bryan langsung menghentikannya.
"Tidak sayang, Kamu tidak perlu melakukan itu, Restu mu sudah cukup untuk Papah, Sekarang Ayo kita berangkat."
"Lalu bagaimana dengan Papah?"
__ADS_1
"Tenanglah, Semua akan baik-baik saja."
Setelah meyakinkan Bella, Bryan mengantar Bella sampai ke Bandara.
Sebelum berpisah Bella memeluk Papahnya dengan erat, Perasaan bersalah atas hubungan Papahnya dan Zia masih bersemayam di hatinya, Tapi keadaan yang mengharuskan Ia pergi saat itu juga membuat Bella hanya bisa berharap semoga Papahnya segera memberinya kabar baik setelah Ia sampai di Semarang.
•••
Kini Bryan kembali tinggal seorang diri dalam rumah besarnya. Biasanya jika Ia merasa kesepian, Ia akan pergi ke rumah Faraz dan menginap disana, Tapi sekarang jangankan kesana, Menelfon pun rasanya sudah canggung.
Di dalam rasa kesepiannya rasa rindu kepada Zia semakin terasa.
Zia yang selalu bisa membuatnya tersenyum bahagia dan membuatnya bersemangat kini tak lagi disisinya "Haruskah Aku menyerah?" terbersit pertanyaan seperti itu, Tapi pertanyaan itu langsung di tepis olehnya, Karena keinginannya untuk kembali memiliki Zia lebih besar sehingga Ia tidak peduli sekalipun Zia telah memiliki pria lain selain dirinya.
Pagi-pagi sekali Bryan sudah menunggu gadis kecil pujaannya di depan gerbang sekolah.
Mata indahnya tengah mengintai tajam bak elang yang tengah mencari mangsa untuk di terkam.
Seketika membuat keduanya membatu, Kedua pasang mata yang tengah terluka saling memandang dengan sendu.
Rasa sakit, Rasa rindu dan cinta menjadi satu. Tak ada kata-kata yang diucapkan oleh keduanya sampai mereka di kagetkan oleh bunyi klakson mobil yang akan memasuki gerbang sekolah.
"Sayang..." Bryan langsung menarik tubuh Zia menepi menghindari mobil.
"Zia baik-baik saja?"
"Lepaskan!" Zia menghempas tangan Bryan yang masih menggenggam pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Zia Sayang, Izinkan Om bicara."
"Tidak ada yang perlu di bicarakan, Hubungan Kita sudah berakhir!"
"Zia!" Bryan kembali menarik tengan Zia ke sisinya.
"Om tau Om salah, Tapi Om..."
"Hari ini Zia ujian, Jadi jangan ganggu konsentrasi Zia dengan alasan-alasan yang akan Om Berikan!"
Bryan yang mendengarnya hanya bisa melepaskan Zia dengan sedih.
Dengan terpaksa Bryan melangkahkan kakinya meninggalkan sekolah. Namun baru saja Ia menyebrang, Suara rem motor mendadak berhenti karena hampir menabrak dirinya.
Zia yang mendengar suara itu menoleh ke belakang dan langsung berlari mendekati gerbang.
"Om Bryan!"
"Anda tidak papa?" tanya Pria yang mengendari motor tersebut.
"Tidak, Maafkan Aku, Aku menyebrang tanpa melihat ke kanan kiri jalan."
"Tidak masalah." Pengendara motor itu pergi meninggalkan Bryan setelah memastikan Bryan baik-baik saja.
Bryan melihat kepergian motor tersebut dan tanpa sengaja netranya melihat Zia berdiri di gerbang menatapnya.
Zia yang melihat Om Bryan menatap nya langsung mengalihkan pandangannya dan menjauh dari gerbang.
__ADS_1
Om Bryan terseyum penuh arti melihat Zia berlari hingga menghilang dari pandangannya.
Bersambung...