Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Ngunduh Mantu


__ADS_3

Pagi Harinya setelah selesai sarapan bersama, Bryan meminta izin kepada keluarga Faraz untuk membawa Zia pulang ke rumahnya. Namun lagi-lagi niat itu di tentang oleh Faraz karena kali ini Faraz ingin menguntit putri kesayangannya dengan alasan "Ngunduh Mantu"


"Apakah itu perlu?" tanya Bryan menahan sedikit kekesalannya.


"Apakah kamu tidak tau adat istiadat, Seperti tidak pernah menikah saja." saut Faraz sinis.


Bryan menarik nafas dalam-dalam. Meskipun sudah resmi menikahi Zia tapi masih saja di persulit oleh teman sekaligus Papa mertanya itu.


"Kenapa kamu terlihat kesal dan ingin buru-buru sekali memisahkan Zia dari kami?"


"Tidak begitu Papa mertua, Adat itu kan tidak wajib dan Aku tidak memiliki keluarga siapapun selain Bella, Jadi Aku fikir itu tidak perlu di lakukan."


"Makanya, Kalau nikah itu jangan kayak orang kebelet buang air, Jadi kamu bisa kita rundingkan, Tidak semua kemauan mu sendiri."


"Ya sudah, Lakukan saja apa yang menurut Papa mertua baik, Permisi." Bryan beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan.


Semua orang melihat kepergian Bryan dengan pikirannya masing-masing.


"Zia juga permisi," ucap Zia yang langsung berlari menyusul Bryan.


"Apa Aku salah?" tanya Faraz yang melihat semua orang diam menatapnya.


"Bukannya salah, Tapi kan itu memang hanya adat, Jadi terserah orangnya mau melakukan atau tidak, Kenapa Mas mas memaksa?"


"Dari lamaran, Akad, Resepsi dia semua yang ngatur, Sekarang Aku hanya ingin mengantar putri ku ke rumah dimana ia akan tinggal nanti, Apa itu saja tidak boleh?"


"Entahlah Mas, yang jelas dari semalam Mas sudah membuat menantu kita kesal," ucap Alia yang kemudian pergi.


"Apa itu artinya Bryan belum melakukan malam pertamanya dengan Zia? Kalau di lihat-lihat Zia juga tidak ada perubahan, Dia juga bangun pagi-pagi sekali, Ahh kalau itu benar, Berarti usahaku berhasil." batin Faraz yang tersenyum senang.


"Ada apa, Kenapa Zayn lihat papa terlihat begitu senang?"


"A... E... Tidak Zayn, Papa senang karena... E... Karena Zia sudah menikah, Jadi Papa lega, Hehe." Faraz beranjak dari duduknya meninggalkan meja makan. Kemudian di susul oleh Zhehzad dan Zeenat jemu Dian Zayd.


Bella menatap Zayn dengan canggung karena hanya tinggal mereka berdua yang tersisa di meja makan. Melihat hal itu Zayn yang memang mudah bergaul dengan siapapun mengajak ngobrol Bella hingga Bella merasa senang bicara dengan Zayn.


•••


Zia masuk ke kamar dan tidak menemukan Bryan di sana, Zia pun mencari Bryan di kamar mandi. Namun kamar mandi juga kosong. Kemudian Zia mencarinya di balkon dan melihat Bryan yang tengah berdiri dengan dua tangan bertumpu pada teralis pagar.


Dengan setengah berlari Zia memeluk Bryan dari belakang dan menempelkan sebelah pipinya ke punggung Bryan.


Bryan menoleh sejenak dan kembali menatap ke depan.


"Om marah?"

__ADS_1


"Tidak."


"Tapi Om terlihat kesal."


Bryan menghelai nafas dan berbalik badan menatap Zia.


"Sayang, Aku rasa Papa Faraz masih belum rela melepaskan mu sepenuhnya untuk ku."


"Tapi yang Papa katakan ada benarnya juga kan, Bukannya kalau nikah ada ngunduh mantu gitu ya?"


"Iya tapi tidak harus, dan Aku rasa bukan itu niat Papa Faraz sebenarnya."


"Maksud Om?"


"Dia hanya ingin mengulur waktu agar Aku tidak menyentuh mu."


"Om bisa menyentuh ku sekarang."


"Aku tidak mau bermain cepat dan membuatmu terluka." Bryan mengusap lembut pipi Zia dan meraih bibirnya.


Cup..


"Aku ingin membuat malam pertama yang indah dan tak terlupakan untuk mu, Cup."


Bak gayung bersambut Bryan langsung menurunkan ciu'man nya ke leher jenjang Zia yang aromanya begitu memabukkan Bryan.


Bryan terus menurunkan kecupannya hingga mrncapai buah kenyal yang masih terbungkus lengkap oleh pakaiannya. Namun itu tak menghalangi Bryan untuk merasakan kekenyalan kedua bulatan itu.


"Ahhh..." lirih Zia saat salah satu buah kenyalnya di remad kuat oleh tangan kekar Bryan.


"Ini hanya contoh Sayang, Nanti Aku akan membuatmu lebih mende'sah hebat merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan." bisiknya dengan senyum menggoda.


Seketika itu juga senyum Bryan terhenti saat mendengar suara pintu di ketuk dari luar.


Tok... Tok... Tok...


"Kamu lihat, Belum apa-apa sudah gangguan lagi," gumam Bryan.


"Zia lihat dulu Om," ucap Zia tertawa.


Ceklekkk...


"Mama..." Ternyata yang mengetuk pintu bukan Faraz seperti yang Bryan kira, Melainkan Alia yang berdiri di sana.


"Sayang bersiaplah kita akan segera berangkat."

__ADS_1


"Baiklah," Zia kembali masuk untuk menyiapkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.


"Jangan banyak-banyak Sayang, Aku sudah menyiapkan banyak baju untuk mu," ucap Bryan.


"Benarkah?"


Bryan mengangguk-anggukan kepalanya, Ia memang telah menyiapkan segalanya untuk Zia agar Zia tidak perlu repot-repot memindahkan barang-barang ke rumahnya.


"Ya, Jadi secukupnya saja, Aku sudah tidak sabar lagi pulang kerumah masa depan kita."


"Baiklah Ayo." Zia menyeret kopernya dan meraih tangan Bryan yang mengulurkan tangan padanya.


Sampai di luar semua orang sudah menunggunya di mobil.


Zia dan Bryan pun langsung masuk ke mobil dimana Zayn sebagai supirnya dengan di dampingi Bella di sebelahnya.


Sedangkan di mobil lain terdapat Oma Zeenat, Opa Zhehzad dan juga Zayd serta Faraz dan Alia. Mereka tidak mengajak tetangga terdekat karena Bryan memang tidak menyiapkan untuk acara Ngunduh Mantu seperti keinginan Faraz. Bahkan sampai rumah Bryan pun tidak terdapat pelaminan atau dekorasi layaknya rumah yang sedang memiliki hajat, Mereka hanya di sambut oleh para asisten rumah tangga Bryan beserta Satpam yang berjaga di rumahnya.


"Selamat Datang..." sambut mereka dengan ramah.


"Silahkan masuk," ucap Bryan kepada seluruh keluarga besar Faraz.


"Kamu keterlaluan Bryan, Kamu benar-benar tidak menyiapkan acara Ngunduh Mantu untuk menyambut Istrimu."


"Papa mertua, Ngunduh Mantu itu orang tua mempelai pria menyambut kedatangan menantu perempuannya, Sedangkan Aku sudah tidak memiliki orang tua jadi dengan keluarga besar Anda mengantarkan istri ku kemari Aku rasa itu sudah cukup."


"Papa sudah cukup dong Pa, Jangan terus menekan Om Bryan," ucap Zia.


"Faraz! Yang terpenting itu kan Akadnya, Adat hanya menjalankan tradisi turun-temurun jadi berhenti mempermasalahkannya."


Mendengar Ayahnya berucap, Faraz menutup mulutnya rapat-rapat.


Setelah itu mereka di jamu makan bersama oleh para asisten yang sebelumnya sudah Bryan hubungi untuk menyiapkan makanan untuk menyambut keluarga istrinya.


Dengan hangat mereka makan bersama sampai Faraz berbicara yang membuat Bryan tersedak.


"Apa! Papa mertua mau menginap disini?" tanya Bryan mengulangi ucapan Faraz.


"Iya, Kenapa, Apa kamu keberatan?"


Bryan menggengam sendok di tangannya hingga bengkok.


Malam pertama yang sudah ia bayangkan dengan begitu indahnya bisa-bisa kembali gagal jika Papa mertuanya benar-benar menginap di rumahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2