Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Rempongnya Yang Mau Nikah


__ADS_3

Bryan terseyum lega menatap kekasih kecilnya akhirnya telah menyelesaikan semua persyaratan pernikahan.


Begitupun dengan Zia yang tak kalah bahagianya akhirnya perjuangannya Mengejar Duda Teman Papanya akan segera berakhir.


"Tinggal beberapa hari lagi," ucap Bryan mencubit kecil pipi Zia.


Zia tak melepaskan pandangannya pada Om Bryan dan mengecup tangannya.


"Kita pergi ke Designer?"


Zia mengernyitkan keningnya.


"Om ingin memilih sendiri gaun yang special untuk Tuan Puteri ku." Bryan mengecup mesra jemari lentik tangan Zia.


Zia terseyum dan bergelayut manja di lengan kekasih dudanya.


Di dalam perjalan Bryan menelfon Wedding Planner, Wedding organizer hingga Wedding designer untuk menciptakan hari yang mereka impikan. Bryan menelfon semua tenaga profesional untuk menyempurnakan pernikahan yang ia impikan bersama kekasih kecilnya. Meskipun dalam waktu tiga hari, Bryan ingin semuanya terlihat sempurna tanpa kekurangan satu apapun.


Setelah menyelesaikan panggilan telfonnya, Bryan membukakan pintu mobil untuk Zia dan menggandengnya masuk.


Mereka di sambut ramah oleh Sang Designer yang sudah terlebih dahulu di hubungi.


Tidak mau membuang waktu Zia langsung mencoba gaun pengantin model pertama yang Designer tawarkan.


Bryan yang duduk menunggu di sofa merasa tidak sabar bagaimana kekasih kecilnya saat mengenakan gaun pengantin impiannya.


Setelah beberapa menit menunggu Zia keluar dari ruang ganti dan membuat Bryan beranjak dari duduknya.


Bryan berjalan mengitari Zia menatapnya dari segala sisi. Namun Bryan terlihat kurang puas dan memintanya mengganti dengan model yang lain.


Zia hanya menurut dan mengganti model kedua, Ketiga hingga ke empat. Tapi Bryan masih merasa tidak puas dengan desain yang ditawarkan.


"Om mau yang kaya gimana lagi, Zia capek." rengek Zia saat mencoba model ke lima.

__ADS_1


"Emm, Boleh Aku pilih sendiri?" tanya Bryan pada Sang Designer.


"Ya tentu."


Sang Designer mempersilahkan Bryan memilih mana yang ia suka.


Sementara Zia yang merasa lelah duduk di sofa dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ini yang tersedia, Tapi jika dari sekian gaun ini tidak ada yang Anda suka, Maka kami akan membiarkannya secara khusus, Katakan saja bagaimana model yang Anda inginkan."


"Saya ingin Anda membuat gaun pengantin untuk calon istriku dari bahan yang terbaik, Lembut dan tidak panas, Untuk lengan brukat transparan dan pada ujung lengan di buat sempit. Terdapat potongan garis hias princess, Saya juga ingin taburan Swarovski menghiasi setiap sudut gaunnnya, Bagian pinggang dibuat dengan model..." seperti ingin menikah untuk pertama kalinya, Bryan terus menjelaskan seperti apa gaun keinginannya.


Zia yang menunggunya semakin di buat bosan oleh kekasih dudanya yang terlihat begitu bersemangat memesan gaun untuknya. Padahal untuk Zia sendiri semua itu tidak lah penting. Karena yang terpenting baginya adalah segera menikah dengan pujaan hatinya baik dengan pesta mewah maupun sederhana.


"Baiklah," ucap Sang Designer.


"Kerjakan ini dalam dua hari dan jangan kecewakan Saya."


"Baiklah kami pergi dulu."


Sang Designer mengangguk dan mengantar mereka hingga ke pintu.


Tanpa mengatakan apapun Zia melangkah mendahuluinya dengan terus mengerucutkan bibirnya.


Zia juga tidak menunggu Bryan membukakan pintu mobil untuknya seperti biasanya, Zia langsung naik ke mobil dan menutupnya dengan kencang hingga membuat Bryan menyadari jika kekasih kecilnya marah kepadanya.


Bryan menarik nafas dalam-dalam dan mengusap lembut kepala Zia.


"Kok marah?"


"Gimana gak marah, Zia dah Gonta ganti gaun sebanyak lima kali tapi gak ada satupun yang Om suka!"


"Bukan tidak suka Sayang, Om suka Zia pakai apapun, Bahkan Zia tidak pakai apapun Om juga sangat menyukainya." Bryan menjeda ucapanya dengan tawanya.

__ADS_1


"Iiihhh mulai deh mesumnya!" Zia memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Om bercanda Sayang, Kemarilah."


"Nggak!"


"Sayang..."


Zia melirik Bryan yang sudah mengulurkan tangannya.


Dengan setengah terpaksa Zia mendekati Bryan dan duduk di pangkuannya.


"Lihat Om."


Zia yang masih memalingkan wajahnya menatap wajah Om Bryan.


"Dengar Sayang, Ini adalah hari special kita, Hari yang paling Om tunggu sejak Om jatuh cinta pada mu, Om ingin membuatnya sempurna, Om ingin melihat mu berbeda dan mengabadikannya untuk anak dan cucu kita kelak, Om ingin menjadikan mu wanita terakhir yang Om cintai, I love you Zia, I love you so much." Bryan menyatukan kening dan hidungnya hingga nafas yangatnya dapat Zia rasakan.


"Om..." Zia memeluk Bryan dengan melingkarkan kedua lengannya di leher Om Bryan hingga wajah Bryan terbenam di dadanya.


"Maafin Zia Om, Zia tidak sabaran."


"Tidak papa Sayang, Sekarang kita beli cincin pernikahan?"


"Tapi sudah sore, Ntar kemalaman."


"Kalau kemalaman nginep di rumah Om lagi," ucap Bryan tertawa.


"Iiihhh maunya."


"Mau lah." Bryan tertawa dan menggigit dagu Zia dengan gemas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2